Manusia tidak jatuh ke dalam cinta, tidak pula meloloskan diri darinya. Kita sekadar tumbuh, membesar, dan menua di dalamnya. Cinta adalah bahasa yang diterjemahkan dengan cara yang berbeda oleh setiap kepala; tak ada yang salah, namun tak ada pula yang sampai pada kesempurnaan maknanya. Ia seperti udara, mengisi ruang-ruang kosong yang diam, atau seperti air yang senantiasa mencari tempat terendah untuk menetap.
Kita bisa sepakat tentang satu hal: cinta membuat segala sesuatu menjadi lebih baik. Ia adalah dorongan untuk berbuat lebih halus, lebih utuh. Cinta mengajarkan kita tentang kejujuran dan pengorbanan, tentang bagaimana berjuang sekaligus merelakan.
Ingatlah Bandung Bondowoso yang membangun seribu candi dalam hening malam demi Lorojonggrang, atau Sangkuriang yang membelah tanah menjadi telaga demi Dayang Sumbi. Bahkan Taj Mahal yang megah itu, di setiap jengkal marmernya, adalah pahatan kesetiaan yang lahir dari cinta. Boleh jadi, kisah-kisah besar dunia hanyalah gema dari cinta yang tak pernah usai.
Cinta adalah kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan, tangan yang merajut kasih sayang, dan hati yang tak pernah lelah berharap. Dalam Islam, cinta bukan sekadar kata, melainkan teladan yang hidup dalam diri Rasulullah.
Suatu pagi, saat langit mulai menguning dan burung-burung enggan mengepakkan sayap, Rasulullah berpesan dengan suara yang luruh, “Kita berada dalam kekuasaan Allah dan kasih sayang-Nya. Kuwariskan dua hal: sunnah dan Al Qur’an. Siapa yang mencintai sunnahku, ia mencintaiku, dan kelak ia akan bersamaku di surga.”
Pandangan mata beliau teduh menatap sahabatnya satu per satu. Abu Bakar berkaca-kaca, Umar menahan sesak di dadanya, Ustman menghela napas panjang, dan Ali menunduk dalam. Isyarat itu sudah sampai: saatnya telah tiba. Rasulullah akan segera meninggalkan mereka.
Saat pintu kediaman beliau tertutup, Fatimah berjaga di sana. Tiba-tiba, seseorang meminta izin untuk masuk. Fatimah menolak dengan lembut, sebab ayahnya sedang demam. Namun, Rasulullah mendengar suara itu dan bertanya, “Siapakah itu, wahai anakku?”
“Aku tak mengenalnya, Ayah,” tutur Fatimah.
Rasulullah menatap putrinya dengan tatapan yang menggetarkan, seolah ingin menyimpan seluruh wajah itu dalam ingatan. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, pemisah pertemuan di dunia. Dialah malaikat maut.”
Fatimah menahan tangis. Ketika Malaikat maut datang, Rasulullah bertanya mengapa Jibril tidak menyertainya. Jibril pun turun, bersiap menyambut ruh kekasih Allah itu. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasulullah lirih.
“Pintu-pintu langit terbuka, para malaikat menanti ruhmu. Semua surga menanti kedatanganmu,” jawab Jibril.
Namun, mata Rasulullah masih penuh kecemasan. “Bagaimana dengan nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, Rasul Allah. Aku mendengar Allah berfirman: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” jawab Jibril.
Detik-detik itu semakin dekat. Sakaratul maut menyapa. Rasulullah bersimbah peluh, lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini,” bisik beliau. Jibril memalingkan wajah, tak sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal.
Di tengah sakit yang tak tertahankan, Rasulullah memekik, “Ya Allah, dahsyat nian maut ini. Timpakan saja semua siksa ini kepadaku, jangan pada umatku.”
Tubuh beliau mendingin. Sebelum napas terakhirnya, Ali mendekatkan telinga ke bibir Rasulullah yang mulai membiru. “Peliharalah shalat, dan santuni orang-orang lemah di antaramu.”
Di luar pintu, tangis mulai bersahutan. Fatimah menutup wajah dengan tangannya. Dan sekali lagi, Ali mendengar bisikan itu, “Ummatii, ummatii, ummatiii.”
Lalu, kembang hidup itu pun pupus. Kini, mampukah kita mencinta seperti beliau? Wallaahu A’lam.