Seorang pemuda memiliki ambisi besar. Dia memutar otak demi mencari nafkah bagi keluarganya. Di tengah pencarian, dia bertemu seorang pengembara tua yang bercerita tentang negeri asing tanpa bawang. Pemuda ini terbelalak. Dia merasa dunia hampa tanpa bumbu dapur itu.
Dia mengisi gerobak dengan berton-ton bawang. Dia menempuh perjalanan berhari-hari menuju negeri dongeng tersebut. Setibanya di sana, dia menghadap raja. Dengan dada membusung, dia menawarkan bawang sebagai hadiah agung. Raja memberikan izin bagi pemuda ini untuk memasak.
Dia memasak pesta besar. Para menteri dan bangsawan mencicipi hidangan berbau bawang tersebut. Ruangan itu seketika gempar. Semua orang memuji rasa masakan yang belum pernah mereka kenal sebelumnya. Raja sangat girang. Dia membeli seluruh stok bawang dengan emas seberat beban bawaan si pemuda.
Kisah sukses ini menyebar. Seorang pedagang mendengar cerita tentang negeri yang menganggap bawang lebih berharga daripada emas. Pedagang ini serakah. Dia memikirkan bawang putih. Bawang putih beraroma lebih tajam. Jika bawang merah dihargai emas, tentu bawang putih pantas mendapat balasan intan.
Dia membawa kantong-kantong besar bawang putih. Dia berangkat dengan kepala penuh mimpi akan kekayaan melimpah. Penduduk negeri itu menyambutnya dengan tangan terbuka. Mereka baru saja jatuh cinta pada bawang merah, jadi mereka merasa senang mencicipi bumbu baru.
Sang pedagang memasak hidangan lezat. Raja dan para menteri memuji rasa bawang putih jauh lebih hebat daripada bawang merah. Mereka berdiskusi panjang lebar di dalam istana. Mereka merasa emas tidak cukup untuk membalas budi sang tamu yang membawa kenikmatan lidah tersebut.
Raja memutuskan memberikan balasan paling berharga di seluruh negeri.
Emas kalah berharga dibandingkan benda yang satu ini.
Sang pedagang pulang dengan gerobak penuh bawang merah.
Inilah lelucoon paling pahit di dalam hidupnya Sang pedagang membawa bawang putih dengan harapan melambung tinggi, namun dia lupa bahwa standar nilai tidak selalu mengikuti logika serakahnya. Dia pulang membawa benda yang di tempat asalnya dianggap murah. Dia menukar mimpi akan intan dengan setumpuk sayur busuk di rumahnya sendiri.
Begitulah manusia sering terjebak dalam prasangka. Mereka merasa tahu segalanya tentang apa yang dianggap bernilai oleh orang lain. Mereka mengukur dunia dengan standar pribadi. Pada akhirnya, mereka hanya membawa pulang apa yang sudah mereka miliki dari awal. Tidak ada untung. Hanya lelucon yang harus mereka telan bersama aroma bawang yang menempel di baju sepanjang perjalanan pulang.