Sebuah lampu gas, di London, tahun 1880-an. Cahayanya meredup tiap malam, sedikit, nyaris tak kentara. Seorang perempuan bernama Bella memperhatikannya, bertanya pada suaminya, Jack. Jack menggeleng. Tidak ada yang berubah, katanya. Kau saja yang membayangkannya.
Begitu berulang-ulang, malam demi malam, sampai Bella mulai meragukan matanya sendiri.
Dari lakon panggung berjudul Gas Light, ditulis Patrick Hamilton, tahun 1938, lahirlah sebuah kata yang delapan puluh tahun kemudian jadi Kata Tahun Ini versi kamus Merriam-Webster, tahun 2022. Perjalanan yang panjang untuk sebuah kata, dari panggung teater kecil sampai ke linimasa jutaan orang.
Dalam lakon itu, Jack punya banyak cara. Ia meredupkan lampu gas rumah mereka, lalu menyangkalnya. Ia menggoda perempuan lain di depan Bella, lalu bilang Bella terlalu banyak berpikir macam-macam. Ia menyembunyikan barang-barang Bella, berbohong soal itu, lalu berganti-ganti antara lembut dan dingin tanpa pola yang bisa ditebak. Belakangan terungkap, Jack sebenarnya pencuri permata, dan seluruh permainan itu punya satu tujuan, membuat Bella dianggap gila, dimasukkan ke rumah sakit jiwa, supaya Jack leluasa menggeledah rumah bibi Bella yang sudah dibunuhnya, mencari permata yang tersembunyi di sana.
Lakon itu sukses besar. Diadaptasi berkali-kali ke layar lebar, yang paling diingat orang, versi 1944, dibintangi Ingrid Bergman.
Kata itu bertahan, berpindah dari panggung ke kamus, dari kamus ke percakapan sehari-hari.
Kamus mendefinisikannya sebagai manipulasi psikologis, biasanya berlangsung dalam waktu lama, membuat korban meragukan pikirannya sendiri, persepsinya sendiri tentang kenyataan, bahkan ingatannya sendiri. Lebih sederhana lagi, tindakan menyesatkan seseorang secara serius, demi keuntungan pihak yang melakukannya.
Intinya, gaslighting adalah cara meyakinkan seseorang untuk tidak mempercayai pengalamannya sendiri. Dalam hubungan yang penuh kekerasan atau paksaan, pelaku bisa menyangkal perasaan pasangannya, bahkan menyangkal ingatan pasangannya tentang suatu kejadian, demi meyakinkannya, tidak ada yang salah di sini, kekerasan ini tidak sedang terjadi.
Sebuah lembaga riset kekerasan terhadap perempuan dan anak di Amerika menyebutnya taktik kontrol, mengalihkan fokus dari perilaku kasar sang pelaku, ke seolah-olah ketidakstabilan emosi dan psikologis korban.
Ini tidak hanya terjadi dalam hubungan asmara. Bisa antara teman, antara orang tua dan anak, antara guru dan murid. Kalimat-kalimat yang sering dipakai, “kamu terlalu berlebihan,” atau “santai saja kali,” diucapkan justru ketika sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Kalimat semacam itu sendiri belum tentu gaslighting. Tapi begitu dipakai berulang, sengaja, untuk membuat seseorang meragukan kenyataannya sendiri, di situlah ia mulai masuk kategori itu.
Efeknya bisa dalam. Orang jadi terisolasi, bingung, dipenuhi keraguan pada dirinya sendiri. Banyak yang akhirnya bertahan lebih lama di hubungan yang sudah tidak sehat, karena tidak lagi percaya pada penilaiannya sendiri tentang apa yang layak dan tidak layak diterima.
Kalau ini sedang terjadi pada seseorang, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Bicara pada orang lain tentang kekhawatiran itu. Tetap terhubung dengan keluarga dan teman, jangan sampai terisolasi sepenuhnya. Mencatat kata-kata dan perilaku pasangan, sebagai pegangan ketika ingatan sendiri mulai diragukan. Kalau perlu, menghubungi pusat layanan kekerasan dalam rumah tangga di daerah masing-masing.
Karena kata ini makin sering dipakai, ia juga makin sering disalahgunakan, dilekatkan pada situasi yang sebenarnya bukan gaslighting sama sekali. Pemakaian yang longgar seperti itu justru mengencerkan makna aslinya.
Kebanyakan psikolog menyebut gaslighting sebagai pola perilaku yang disengaja, ditujukan untuk mencapai sesuatu. Pelakunya mungkin tidak sadar sedang memanipulasi, tapi hampir selalu ada yang diuntungkan dari situ, entah mempertahankan pasangan tetap dalam hubungan, entah kepentingan finansial atau strategis lainnya. Perbedaan pendapat biasa, atau sudut pandang yang berbeda, bukan gaslighting.
“Untuk mengenali gaslighting, cari polanya, sekali saja belum cukup untuk disebut pola, dan cari perilaku yang tampak disengaja atau bermaksud jahat, semacam ‘tidak, kamu cuma terlalu sensitif, kejadiannya bukan begitu,'” kata psikolog Ahona Guha.

Kata itu lahir dari sebuah panggung kecil di London, dari cahaya lampu gas yang diredupkan diam-diam, dan kini menyala di layar telepon jutaan orang, dipakai untuk menyebut sesuatu yang jauh lebih tua dari kata itu sendiri, cara seseorang membuat orang lain meragukan matanya sendiri.