Ruang Hampa Antar Jendela

Kota tidak pernah peduli dengan kehadiran Rindra.

Kota terus berdetak lewat irama lampu lalu lintas, deru angkot terakhir yang menderu pelan, dan tirai toko di Jalan Melati yang terbuka tutup seperti kelopak mata orang mengantuk. Rindra menempati lantai lima sebuah rumah susun tua tepat di atas bengkel jahit yang sudah bangkrut. Pemilik bangunan menyerahkan kunci tanpa basa-basi, meninggalkan Rindra sendirian dengan keheningan yang menyesakkan dada.

Minggu pertama, Rindra menganggap hunian itu kesalahan sementara. Dia membiarkan kardus pakaian tetap tertutup. Dia tidak memaku apa pun di dinding. Lampu kamar selalu menyala sepanjang malam, bukan karena takut, tapi kegelapan terasa terlalu menuntut perhatian.

Di seberang jalan sempit, berdiri bangunan lain yang tampak lebih renta. Jendela-jendelanya berderet seperti ingatan yang berantakan. Hampir semua kamar gelap setiap malam. Kecuali satu jendela di lantai dua, sisi paling kanan, yang punya kebiasaan terjaga saat penghuni lain sudah terlelap.

Cahaya hangat berpendar di sana.

Waktunya tidak pernah tetap. Rindra mendapati dirinya memeriksa jendela itu tanpa rencana. Dia menepikan perasaan itu sebagai kebiasaan yang lahir dari rasa asing. Cara menandai waktu di kota yang belum memberi dia ruang untuk berpijak.

Pertama kali dia melihat perempuan itu, tidak ada kejadian luar biasa. Perempuan itu hanya berdiri dekat jendela sambil menggenggam mug, seolah berhenti di antara pikiran yang belum selesai dirangkai. Dia tenang. Keheningannya terasa berat, seolah memenuhi seluruh ruangan.

Rindra membuang muka, gugup. Dia merasa tertangkap basah melakukan sesuatu yang salah.

Hari-hari berikutnya mengabur. Rindra bekerja jarak jauh, menulis laporan yang pasti berakhir di keranjang sampah, membalas pesan orang-orang yang tidak dia kenal, dan memakan nasi bungkus tanpa selera. Namun, setiap sore, matanya menghianati keinginan untuk tetap acuh.

Cahaya itu muncul.

Terkadang sore. Terkadang jauh malam. Kadang berkedip sebelum menetap stabil.

Perempuan itu ada di sana.

Dia membaca buku. Dia duduk bersimpuh di lantai. Dia berdiri mematung seolah mendengarkan suara di balik dinding. Rindra tidak pernah melihat perempuan itu menyadari kehadirannya.

Setidaknya, untuk waktu yang cukup lama.

Ritme malam mereka mulai bergeser. Rindra menunda jam makan malam. Dia sengaja berdiri di dekat jendela lebih lama dari kebutuhan, seolah jarak di antara mereka menciptakan makna tersendiri. Kota tetap tidak peduli, terus membasahi jalanan dengan gerimis yang datang sesuka hati.

Suatu malam, cahaya di seberang tidak kunjung menyala.

Rindra menatap jendela kosong itu terlalu lama. Lima menit berlalu. Sepuluh. Ketiadaan cahaya terasa lebih mencolok daripada kehadirannya selama ini. Rindra berusaha meyakinkan diri bahwa ketiadaan itu tidak berarti apa-apa.

Dia tetap terpaku di sana.

Lampu itu akhirnya menyala, tapi tidak dengan ketenangan biasanya. Seseorang masuk ke ruangan dengan terburu-buru. Bayangan bergerak di balik tirai. Dua sosok tumpang tindih, seolah perdebatan sengaja dipindahkan ke dalam ruang sempit itu.

Rindra seharusnya berhenti menonton.

Dia tidak sanggup.

Suara tidak terdengar, tapi gerakan mereka cukup menjelaskan segalanya. Ada sesuatu yang tidak selesai. Sesuatu yang mendesak untuk keluar. Salah satu sosok menghilang dari bingkai jendela. Sosok yang tersisa berdiri mematung dalam waktu yang cukup panjang.

Cukup lama bagi Rindra untuk menyadari bahwa ini bukan kebetulan.

Setelah malam itu, jendela tersebut berubah. Bukan bentuk fisiknya, melainkan cara pandang Rindra. Dia menunggu cahaya itu sebagai bukti. Bukti bahwa perempuan itu ada. Bukti bahwa kota ini masih berisi napas orang lain.

Suatu petang, perempuan itu menoleh.

Tidak ada kebetulan yang dramatis. Tidak ada musik latar yang mengiringi momen itu. Kejadiannya sepi, terjadi begitu saja tanpa pengumuman. Rindra di jendelanya. Perempuan itu di jendelanya.

Untuk sesaat, mereka berhenti bergerak.

Jarak fisik tidak berubah, tapi ruang di antara mereka kini penuh dengan atensi. Perempuan itu tidak melambai. Rindra pun tidak.

Perempuan itu mengangkat tangan sedikit. Bukan sapaan. Bukan pengakuan. Sesuatu di antara niat dan keraguan. Rindra mengikuti gerakannya. Momen itu terasa selesai, perempuan itu melangkah pergi dari jendela.

Cahaya lampu tetap menyala.

Namun, perasaan Rindra berubah. Hari-hari selanjutnya membawa pengulangan. Jendela. Cahaya. Ketiadaan. Kehadiran. Bedanya, kini ada kesadaran dalam setiap pengulangan itu. Struktur yang mereka bangun tanpa kesepakatan tertulis.

Rindra berhenti berpura-pura tidak menunggu.

Dia menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Dia makan lebih lambat. Dia membayangkan seperti apa ruangan itu ketika dia tidak menontonnya. Tekstur kamarnya. Jenis pikiran yang tersimpan di sana.

Hujan turun dengan gigih satu malam, mengubah jalanan menjadi cermin buram bagi lampu neon. Suasana terasa lebih rapat. Rindra berdiri di depan jendela dan cahaya di seberang langsung menyala.

Perempuan itu sudah ada di sana.

Dia menatap tepat ke arah Rindra. Bukan mencari. Bukan kebetulan. Langsung. Jarak di antara mereka mengetat dengan cara yang tidak bisa diputus oleh cuaca atau ruang.

Rindra tidak bergerak. Perempuan itu pun tidak. Tidak ada petunjuk untuk apa yang harus dilakukan setelahnya. Tidak ada bahasa bersama untuk pengakuan semacam ini.

Perempuan itu kembali mengangkat tangan, lebih tegas dari sebelumnya.

Rindra membalas.

Selama beberapa detik, kota menahan mereka di sana. Dua kehidupan terpisah yang mengakui bahwa mereka tidak benar-benar terpisah. Perempuan itu berbalik meninggalkan jendela.

Rindra tetap berdiri di sana lebih lama dari seharusnya. Bukan karena ada sesuatu yang harus diselesaikan, melainkan karena sesuatu telah dipahami tanpa perlu kata-kata.

Setelah malam itu, tidak ada yang berubah secara resmi. Tidak ada nama yang ditukar. Tidak ada janji pertemuan. Kota tidak ikut campur dalam urusan mereka.

Namun, Rindra tidak lagi melihat jendela itu sebagai kebiasaan.

Jendela itu berubah menjadi tempat di mana dua kehidupan sempat berpapasan cukup dekat untuk saling menyadari tanpa perlu bertabrakan. Sesuatu di dalam diri Rindra terasa tenang, membuat kota yang bising ini tidak lagi menakutkan untuk ditinggali sendirian.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(