Apa boleh buat, Ernesto Che Guevara telah terlanjur menjelma menjadi legenda paling pekat di abad kedua puluh. Ia berdiri sebagai ikon revolusi yang abadi, di mana potret wajahnya dengan baret bintang terus melekat pada kaos oblong, lembaran poster, pin, hingga aneka rupa aksesori jalanan. Kalimat “Hasta la victoria siempre!” yang ia goreskan dalam surat perpisahan kepada Fidel Castro saat meninggalkan Kuba, kini telah berubah menjadi salam heroik yang digelorakan oleh anak-anak muda di berbagai belahan bumi.

Kisah-kisah petualangan revolusionernya selama bergerilya di dalam hutan banyak dibukukan orang. Di Indonesia sendiri, pasar sempat diramaikan oleh peredaran empat buku tentang Che secara hampir serentak, semuanya mengusung gambar sampul yang serupa dan isi yang hampir tidak berbeda. Buku-buku itu bertajuk Revolusi Rakyat Che Guevara terbitan Teplok Press, Che Guevara Sang Revolusioner produksi Insist Press, serta dua jilid cetakan Yayasan Litera Indonesia yang diberi judul Sikap Politik Che dan Catatan Revolusioner Che. Banyaknya pilihan ini pada akhirnya menyerahkan keputusan pada ketelitian para pemburu bacaan untuk memilah naskah mana yang paling berbobot.

Lelaki itu dilahirkan secara prematur di Rosario pada 14 Juni 1928. Sang ayah kemudian menyematkan nama yang sama dengan dirinya sendiri, Ernesto Guevara. Garis silsilah leluhur Che dari pihak ayah bermula dari Juan Antonio Guevara, sementara sang ayah sendiri merupakan keturunan dari Viceroy Liniers, seorang bangsawan Argentina awal yang pernah mengangkat senjata melawan kediktatoran Juan Manuel Ramos. Perjuangan itu menemui kegagalan, memaksa sang bangsawan melarikan diri ke pengasingan sekitar tahun 1850 dan mengakhiri sisa hidupnya di California.

Sama halnya dengan sang suami, ibu Che yang bernama Celia de la Serna juga lahir dari garis keturunan bangsawan yang terpandang. Dari rahim perempuan itulah Che lahir sebagai anak sulung dari lima bersaudara, diikuti oleh adik-adiknya yakni Celia, Roberto, Anna Maria, dan si bungsu Juan Martin yang lahir paling akhir pada tahun 1941.

Ketika Che baru menginjak usia empat tahun, keluarga Guevara memboyongnya pindah ke Kordoba dan menetap di kota kecil Alta Gracia. Di lingkungan berudara sejuk inilah Che menghabiskan masa kanak-kanaknya. Namun, tidak seperti anak-anak sebayanya, Che tidak bisa langsung mengenakan seragam sekolah dasar hingga usianya menginjak tujuh tahun.

Serangan penyakit asma akut yang dideritanya sejak bayi memaksa bocah itu untuk lebih banyak tinggal di dalam rumah. Baru pada tahun-tahun berikutnya ia mulai bisa mengikuti pelajaran di sekolah secara formal. Di kota ini pula, saat usianya baru sebelas tahun, bakat kepemimpinan politik Che mulai nampak secara ganjil; ia mengorganisir kawan-kawan sebayanya untuk merusak setiap lampu jalanan di seluruh penjuru kota menggunakan ketapel. Aksi nekat anak-anak itu bertepatan dengan aksi pemogokan besar-besaran para pekerja perusahaan listrik di seluruh provinsi, di mana sebuah korporasi tengah berupaya menyewa preman untuk menghentikan pemogokan tersebut.

Setelah merampungkan pendidikan dasarnya, tepat pada tahun 1943, Che memutuskan pindah ke Kordoba yang merupakan ibu kota provinsi. Di kota besar inilah ia melanjutkan pendidikan ke tingkat menengah menggunakan biaya sendiri dari hasil kerja serabutan. Langkah ini terpaksa diambil karena pada saat yang bersamaan, usaha orang tuanya sedang dihantam kebangkrutan total. Kendati hidup dalam jepitan ekonomi, Che berhasil menyelesaikan sekolahnya dengan catatan yang baik. Pada periode remaja inilah aktivitas politiknya kian merangkak naik. Ia memilih untuk bergabung dalam Civico Revolucionario Monteagudo, sebuah kelompok pemuda nasionalis radikal yang lebih suka menantang rezim diktator Juan Peron lewat aksi-aksi bentrokan fisik di jalanan, ketimbang larut dalam perdebatan teori yang melelahkan di dalam ruangan.

Pada usia sembilan belas tahun, Che melangkah lebih jauh dengan mendaftarkan diri sebagai mahasiswa kedokteran di University of Buenos Aires. Namun, status sebagai mahasiswa universitas ternama belum mampu mengubah nasib ekonominya. Guna menutup biaya kuliah dan menyambung hidup, ia harus melakoni berbagai pekerjaan kasar mulai dari menjadi penjaga malam, menulis berita untuk mingguan ultranasionalis Accion Argentina, hingga menjadi juru tulis pada sebuah perusahaan konstruksi lokal.

Gelar Medical Doctor akhirnya berhasil diraih Che pada bulan Maret 1953. Namun, alih-alih membuka praktik pengobatan atau bekerja mengenakan jas putih di rumah sakit layaknya dokter kebanyakan, ia justru memilih memanggul ranselnya dan kembali melakukan perjalanan lintas benua.

Langkah kaki itulah yang di kemudian hari mempertemukan takdirnya dengan Fidel Castro pada musim panas tahun 1955 di Meksiko, di kala pemimpin Kuba itu sedang berada dalam masa pengasingan. Dari titik pertemuan itulah keterlibatan Che dalam roda Revolusi Kuba resmi dimulai. Ia awalnya direkrut sebagai dokter tentara gerilya, meskipun sejak semula ia lebih suka menganggap dirinya sebagai seorang prajurit tempur. Dalam perkembangannya, peran Che di medan laga terbukti melampaui urusan merawat serdadu Castro yang terluka; ia ikut memanggul senapan dan memberondongkan peluru ke arah barisan pasukan diktator Batista.

Keberanian dan kecakapannya di medan pertempuran membawa karier militer Che melesat cepat di dalam struktur pasukan pemberontak. Hanya dalam waktu tiga tahun setelah bergabung, ia su dianugerahi pangkat comandante, pangkat tertinggi dalam struktur tentara pembebasan Kuba saat itu. Puncaknya, Che berhasil mempersembahkan kemenangan terhormat bagi rakyat Kuba pada 4 Januari 1959. Atas jasa-jasanya, Dewan Menteri mengesahkan status kewarganegaraan Kuba bagi lelaki Argentina itu pada 9 Januari 1959, sekaligus meresmikan kata “Che”—yang dalam logat tanah kelahirannya berarti “Bung” atau “Kawan Baik”—sebagai bagian nama depannya yang abadi.

Setelah revolusi menang, Che sempat mencurahkan seluruh energinya untuk menata ekonomi Kuba dengan mengemban tugas sebagai Direktur Bank Nasional, Ketua Departemen Perindustrian, hingga bertindak sebagai delegasi diplomatik Kuba di berbagai forum internasional. Namun, jiwa pemberontaknya tidak bisa diam di balik meja birokrasi. Ia akhirnya memilih kembali masuk ke dalam hutan dan menemui ajalnya dalam sebuah pertempuran sengit di Bolivia, menutup riwayat hidupnya sebagai seorang gerilyawan abadi.