Besi beradu dengan besi. Bunyi decit rem yang kalah cepat oleh takdir terdengar memekakkan telinga di pinggiran Bekasi. Senin malam itu, sebuah gerbong komuter yang diam di jalur rel mendadak menjadi sasaran empuk bagi lokomotif jarak jauh yang melaju tanpa ampun. Sepak terjang maut ini merenggut nyawa belasan orang. Empat belas nyawa melayang. Delapan puluh empat lainnya terbaring dengan tulang patah dan daging terkoyak di bangsal rumah sakit.
Sausan Sarifah, seorang pekerja yang hendak pulang, menyaksikan maut datang menjemput. Ia berada di dalam gerbong komuter yang berhenti di Stasiun Bekasi Timur. Pengumuman sudah terdengar dua kali. Penumpang bersiap turun. Tiba-tiba, suara lokomotif meraung memecah kesunyian.
Semuanya berlangsung dalam sekejap mata.
Gerbong yang seharusnya membawa pulang orang-orang ke pelukan keluarga berubah menjadi kaleng sarden yang penyok. Tubuh-tubuh manusia bertumpuk, saling himpit, terhimpit besi yang meliuk. Sausan selamat karena ia berada di tumpukan paling atas. Ia mendengar jerit ketakutan di bawah sana. Ia menahan napas, takut maut menjemputnya di bawah tumpukan sesama penumpang.
Di luar, para penyelamat berjibaku dengan waktu. Suasana di stasiun berubah menjadi kancah perang yang kacau. Petugas teriak meminta oksigen. Ambulans berderet panjang dengan lampu sirine yang menyambar-nyambar malam. Polisi, tentara, dan pemadam kebakaran datang membawa alat pemotong besi berat. Mereka mencoba membuka kerangka gerbong yang hancur.
Proses evakuasi terasa sangat lamban.
Kepala badan pencarian dan penyelamatan berbicara di depan kamera tentang perlunya prosedur terukur. Ia menyebut ada korban yang masih hidup terjepit di balik besi. Mereka berharap bisa mengeluarkan korban dalam keadaan bernapas. Namun, setiap menit yang lewat adalah taruhan nyawa.
Pihak operator kereta menyatakan sebuah taksi sempat menyenggol gerbong komuter di perlintasan sebidang. Kejadian itu memaksa kereta berhenti mendadak di jalur yang tidak semestinya. Kereta jarak jauh melaju kencang dan menghantam gerbong terakhir. Gerbong khusus perempuan menjadi sasaran utama hantaman tersebut.
Eva Chairista berlari ke rumah sakit setelah mendengar kabar adik iparnya menjadi korban. Ia menemukan kekacauan. Dokter sibuk melakukan triase medis di tengah deru napas pasien yang merintih. Petugas meminta keluarga untuk bersabar. Banyak nyawa yang berada dalam kondisi jauh lebih buruk di ruang perawatan.
Keluarga menunggu di luar pintu bangsal dengan wajah pucat.
Kejadian ini kembali menampar wajah tata kelola transportasi negeri ini. Kecelakaan demi kecelakaan terus berulang dengan pola yang sama. Kita selalu disuguhi drama evakuasi, janji evaluasi, dan angka korban jiwa yang terus bertambah.
Kereta api tetap menjadi urat nadi bagi ribuan orang, namun di baliknya, ada risiko yang selalu mengintai di setiap tikungan rel. Apakah kita harus terbiasa dengan pemandangan besi hancur dan tubuh manusia yang bersimbah darah setiap kali musim mudik atau sekadar rutinitas pulang kantor?
Di stasiun, ratusan orang menonton dengan tatapan kosong. Mereka mungkin membayangkan betapa tipisnya batas antara pulang ke rumah dan pulang ke liang lahat. Petugas terus bekerja membedah bangkai kereta. Malam terus berjalan. Korban-korban yang masih terjepit menunggu mukjizat di antara tumpukan baja yang dingin.




