Sebuah panggilan telepon mendadak memanggil seorang wanita tua kembali ke pondok masa kecilnya. Kenangan lima puluh tahun silam bangkit perlahan. Suni muda dan keluarganya pernah pindah ke sebuah desa terpencil. Di sana, mereka menemukan seorang anak laki-laki liar bersembunyi di balik semak. Rasa kasihan menggerakkan mereka untuk merawatnya. Suni menatap mata liar makhluk itu. Ia mengajarkan bocah itu cara menunggu sebelum makan, cara mengenakan pakaian, hingga mengeja aksara demi aksara agar kelak ia sanggup hidup selayaknya manusia.
Banyak orang membandingkan film ini dengan Twilight. Tren manusia serigala sedang melambung tinggi di panggung musik dan layar lebar. Namun, anggapan itu keliru. Film ini berdiri di atas fondasi yang jauh berbeda.
Alurnya mengalir dengan tenang. Saya seringkali merasa muak dengan drama yang bertele-tele dan penuh melodramatik hingga jari saya gatal ingin menekan tombol cepat. Film ini tidak menyimpan adegan pengisi yang sia-sia. Setiap bingkai dirancang dengan ketelitian tinggi. Jika kita memotong-motong film ini menjadi kepingan adegan, setiap bagian tetap memiliki kekuatan untuk berdiri sendiri sebagai sebuah karya.
Seluruh pemeran bekerja dengan baik. Meski begitu, saya merasa sedikit kecewa dengan Ji Tae. Karakter antagonis itu tampil terlalu klise. Ia sekadar anak orang kaya yang pemarah dan berubah menjadi psikopat tanpa kedalaman motif. Mencari penjahat yang berwibawa di layar lebar masa kini memang sebuah perkara sulit. Namun, Song Joong Ki dan Park Bo Yong menebusnya dengan kombinasi yang manis dan menyayat hati. Kimia di antara mereka berpendar indah. Saya tertawa, lalu air mata mengalir deras.
Saya sempat khawatir peran Song Joong Ki hanya akan menjadi komoditas untuk memuaskan penggemar semata. Saya membayangkan ia sekadar memainkan anak anjing lucu yang belajar menjadi manusia. Potensi untuk terjebak dalam fanservice murahan tampak begitu kentara di atas kertas. Nyatanya, ia berhasil membawakan peran itu dengan kesungguhan yang sah. Ia menjadikan karakter itu lucu sekaligus punya martabat. Saya sudah menontonnya dua kali. Kemungkinan besar, layar saya akan kembali menayangkan kisah mereka di waktu mendatang.