Seorang murid menghampiri gurunya dengan dahi berkerut. Dia bertanya soal kasih sayang. Guru itu tidak menjawab dengan tumpukan buku tua. Dia menarik tangan muridnya ke arah jendela yang menghadap jalanan kota. Di pojok sana, seorang pengemis duduk dengan debu menempel di kulitnya.
Seorang nenek tua melintas. Dia melempar koin ke mangkuk si pengemis. Wajahnya ditekuk rasa kesal melihat kemiskinan.
Seorang saudagar berpakaian necis lewat tak lama kemudian. Dia mengeluarkan lima koin perak, lalu pergi dengan langkah cepat tanpa menoleh.
Terakhir, seorang anak kecil berjalan sambil menggenggam setangkai bunga. Dia melihat pengemis itu, tersenyum, dan memberikan bunganya.
Sang guru bertanya, “Siapa yang paling menunjukkan kasih sayang?”
Muridnya menjawab, “Sang saudagar! Lima koin jelas lebih bernilai daripada bunga yang layu.”
Sang guru tersenyum kecut.
Nenek itu merasa kasihan karena dia takut melihat kemelaratan. Ketakutan inilah yang mendorong tangannya bergerak. Dia merasa ngeri melihat penderitaan orang lain, lalu mencoba menenangkan rasa takutnya sendiri dengan memberi sesuatu. Itu bukan kasih sayang. Itu adalah pelarian dari rasa takut.
Sang saudagar berperilaku lebih buruk. Dia memberi lima koin karena ada orang-orang di sekitar yang sedang memperhatikan. Dia ingin menunjukkan betapa dermawannya dia. Uang itu alat untuk memoles citra. Ego saudagar itu yang berbicara, bukan hatinya. Dia ingin dipuji, ingin tampak agung, ingin martabatnya naik beberapa tingkat di mata orang sekitar.
Lalu sang anak. Dia tidak punya uang, tidak punya citra untuk dipoles, tidak punya ketakutan yang menghantuinya. Dia memberi karena melihat sesamanya. Dia tidak menganggap dirinya lebih tinggi atau lebih baik dari pengemis itu. Dia hanya membagi kebahagiaan yang dia miliki.
Kasih sayang bukan sekadar tindakan memberi. Kasih sayang melampaui rasa iba yang muncul dari ketakutan. Jika rasa takut menyentuh penderitaan orang lain, yang lahir adalah belas kasihan yang memuakkan. Namun, jika cinta menyentuh luka orang lain, itulah kasih sayang yang murni.
Semua orang menderita dengan cara yang sama. Menyadari bahwa kita tidak lebih hebat, lebih suci, atau lebih berkuasa dari orang yang sedang menderita adalah kunci untuk memahami kasih sayang. Sisanya hanyalah sandiwara ego manusia yang merasa dirinya paling benar.