Hank Moody memuakkan. Dia bercinta dengan siapa saja yang lewat, lalu menganggap kegilaannya sebagai kutukan artistik. Televisi memuja citra ini. David Duchovny memerankan tokoh itu di layar, lalu mengaku mengalami hal serupa dalam hidup nyata. Jada Pinkett Smith melakukan pengakuan serupa di depan kamera. Budaya populer kita gemar sekali membungkus nafsu tak terkendali dengan label yang terdengar medis agar terlihat dramatis.
Apakah diagnosis ini nyata?
Orang menyebutnya kecanduan seks. Para ahli menyebutnya perilaku seksual kompulsif. Kita berbicara tentang dorongan yang tidak bisa dijinakkan. Masturbasi berlebihan, pornografi yang menghabiskan waktu berjam-jam, atau petualangan liar dengan banyak orang asing meskipun ada janji setia yang terikat di jari manis. Inti masalahnya terletak pada ketidakmampuan mengendalikan dorongan itu saat hidup mulai berantakan. Pekerjaan terbengkalai. Hubungan hancur. Setelah pelampiasan selesai, rasa bersalah datang menyerang, lalu siklus berulang.
Manual diagnostik kesehatan mental resmi tidak mencantumkan istilah kecanduan seks di dalamnya. Tidak ada satu pun halaman dalam buku pedoman psikiatri yang melegitimasi label itu.
Para peneliti punya alasan kuat untuk menolak masuknya istilah tersebut ke dalam catatan medis. Pertama, bukti ilmiah tidak menunjukkan pola kecanduan ini mengikuti jalur yang sama dengan alkohol atau narkoba. Kita tidak bisa menyamakan kerusakan organ akibat racun kimia dengan gairah manusia.
Ada bias yang menjijikkan di sini. Seorang dokter kolot akan dengan mudah menuding pasiennya pecandu, sementara dokter yang lebih progresif akan melihatnya sebagai variasi perilaku manusia. Jika istilah ini dilegalkan, pelaku kejahatan seksual bisa saja menggunakan dalih medis untuk memangkas masa hukuman di pengadilan.
Paling krusial, seks selalu berkelindan dengan moral. Begitu kita memasukkannya ke dalam buku diagnosa, kita berisiko mematikan perilaku seksual sehat hanya karena sebagian orang menganggapnya tabu.
Meskipun buku pedoman menutup pintu, Organisasi Kesehatan Dunia mengakui perilaku seksual kompulsif sebagai kondisi kesehatan mental. Manusia memang sering merasa kehilangan kendali atas gairahnya. Faktor biologis berperan di sini. Ketidakseimbangan dopamin di otak, yang mengatur rasa senang dan imbalan, bisa membuat seseorang terus mengejar sensasi. Genetik mungkin turut andil dalam kecenderungan ini.
Tekanan psikologis seperti depresi atau kecemasan sering kali menjadi akar. Seks berubah menjadi obat bius untuk melarikan diri dari rasa sakit emosional. Kita menggunakan tubuh untuk menumpulkan kesedihan.
Lingkungan masa kecil juga membentuk persepsi. Paparan dini terhadap konten dewasa atau trauma masa lalu akan menuntun seseorang pada cara pandang yang cacat mengenai keintiman. Seks bisa menjadi pelarian, senjata, atau bahkan hukuman.
Gejalanya mudah dikenali namun sulit diakui. Pikiranmu terpenjara oleh fantasi yang terus berputar hingga pekerjaan sehari-hari terbengkalai. Kamu menuntut intensitas yang lebih tinggi setiap waktu untuk mencapai kepuasan yang sama. Upaya berhenti berakhir dengan kegagalan yang memuakkan. Perilaku berisiko diambil tanpa mempedulikan bahaya fisik.
Berhati-hatilah saat mencari terapis. Banyak program rehabilitasi yang menawarkan metode dua belas langkah atau abstinensi total. Mereka lebih mirip rumah ibadah daripada pusat kesehatan. Metode ini cenderung merusak karena memperlakukan manusia seolah-olah mereka adalah pecandu narkoba yang harus berhenti total. Kamu bisa mati karena berhenti minum alkohol jika tubuhmu sudah ketergantungan. Kamu tidak akan mati karena tidak melakukan seks.
Penelitian menunjukkan bahwa seseorang lebih sering melabeli dirinya sendiri sebagai pecandu hanya karena perilakunya berbenturan dengan kompas moral yang kaku. Selingkuh atau menonton film dewasa dianggap dosa besar yang kemudian berubah menjadi diagnosis diri yang menyesatkan. Jika terapis langsung menyodorkan label kecanduan, segeralah angkat kaki.
Cari mereka yang menelisik trauma di balik layar. Mereka yang membantu membedah apakah tindakanmu memang melanggar kehendak pribadimu atau hanya melanggar standar moral yang dipaksakan orang lain. Kadang-kadang, mengubah sudut pandang moral jauh lebih efektif daripada mencoba mengekang gairah.
Seksualitas adalah labirin yang rumit. Mengakui kebutuhan diri tanpa harus menghakimi setiap dorongan sebagai patologi adalah langkah awal. Kebebasan tidak terletak pada penekanan nafsu secara brutal, melainkan pada pemahaman mendalam tentang mengapa kita bertindak seperti itu. Jangan bersembunyi di balik label mesin jika yang kau butuhkan adalah ruang untuk bernapas.