Arisu Ryohei dan Usagi Yuzuha kini terseret dalam pengejaran misteri tanah perbatasan. Mereka mempertaruhkan nyawa di arena maut demi satu tujuan, kembali ke dunia yang mereka kenal. Kawan dan lawan datang silih berganti. Dalang permainan bersembunyi di balik bayang-bayang. Kartu-kartu bernomor telah terkumpul, menyisakan kartu jack, queen, dan king yang menanti untuk dicabut. Permainan babak ini menuntut lebih banyak darah. Taruhannya jauh lebih kejam.
Dulu saya memberi nilai sembilan untuk musim pertama. Kemudian, beberapa pekan sebelum musim kedua tayang, saya menonton ulang. Angka sembilan itu terasa konyol. Cacat cerita yang dulu luput dari mata kini muncul telanjang. Rasanya menyakitkan melihat kelemahan-kelemahan itu. Harapan saya melorot tajam.
Namun, kegembiraan tetaplah penentu utama. Saya menikmati tontonan ini, meski harus mengakui kebodohan nilai awal saya.
Kualitas produksi berdiri megah. Uang dihabiskan tanpa ragu. Segalanya terlihat mewah di layar.
Permainan babak ini jauh melampaui musim pertama. Karakter yang muncul di arena memiliki kedalaman yang memikat. Ketegangan meningkat drastis. Kekerasan tersaji lebih brutal. Tidak ada lagi ketertebakan yang membosankan.
Chishiya layak memegang kendali cerita. Dia menggendong seluruh serial dengan kecerdasan yang dingin. Murakami Nijiro memerankan karakter ini dengan tepat. Dia cacat, dia cerdik, dia melontarkan kalimat-kalimat yang tajam. Tanpa kehadirannya, serial ini kehilangan taring.
Napas manga terasa kental. Adegan aksi, gestur tubuh, hingga tampilan karakter menyerupai lembaran kertas komik yang hidup. Ini keunggulan nyata.
Karakter baru muncul dengan daya tarik segar. Kyuuma dan Akane memberikan warna yang tidak dimiliki tokoh-tokoh lama seperti Kuina atau An.
Serial ini mengalir lancar. Meski durasi episode mencapai satu jam dua puluh menit, saya tidak merasa perlu menghitung sisa waktu di layar. Bagian yang membosankan lewat begitu saja tanpa menyiksa.
Ending cerita melampaui segala kecemasan saya. Saya takut naskah akan berantakan di akhir. Ternyata, penutupnya terasa pas. Terasa mengejutkan. Rasanya memuaskan hingga saya memberikan nilai sembilan.
Sisi filosofis di sini terasa dipaksakan. Pertanyaan tentang makna hidup atau harga nyawa manusia seringkali hadir sebagai tempelan. Musim pertama tidak memaksakan beban ini.
Tokoh utama terasa menjemukan. Arisu dan Usagi tampak membosankan di tengah karakter lain yang lebih berwarna. Plot armor mereka terlalu tebal. Bencana nuklir pun mungkin tidak akan sanggup membunuh mereka.
Logika cerita seringkali dilanggar. Saya paham ini adaptasi manga, tapi jumlah ketidakmasukalaran yang harus saya telan terasa berlebihan. Penulis seharusnya mampu membangun ketegangan dengan cara yang lebih berpijak pada bumi sebelum sampai ke babak pamungkas.
Akting dua tokoh utama membuat saya mengernyit. Yamazaki Kento seringkali berlebihan. Ekspresinya menggelikan saat dia mencoba terlihat dramatis. Saya justru ingin tertawa daripada bersimpati. Tsuchiya Tao pun serupa. Dia berbicara seolah sedang menekan tenggorokannya sendiri agar terdengar berbeda.
Jdrama memang memiliki tradisi akting yang teatrikal. Ada beda antara akting ekspresif yang tepat dan akting berlebihan yang merusak. Yamazaki gagal mengukur takaran. Dia tidak tahu kapan harus berhenti.
Romansa di antara mereka terasa hambar. Tidak ada percikan. Hubungan yang mereka bangun dari musim pertama lenyap tanpa bekas di layar.
Momen emosional gagal menyentuh. Kematian dan penderitaan seharusnya meninggalkan bekas luka di batin penonton. Musik latar yang sedih malah terasa seperti gangguan yang hambar. Adegan yang ditarik terlalu panjang justru mematikan dampak rasa. Saya lebih peduli pada nasib karakter baru daripada dua tokoh utama yang terjebak dalam naskah yang datar.
Musim kedua melampaui musim pertama. Karakter, alur, dan permainan di dalamnya terasa lebih hidup. Meski cacat, dia tetap berhasil membuat saya bertahan hingga akhir.