Ramadan tiba dengan wajah masam. Harga-harga merangkak naik dengan angkuh. Kita menapaki bulan puasa kali ini dengan dompet yang menjerit. Pandemi belum benar-benar pergi, perang di Ukraina mengacaukan pasokan dunia, dan kini rakyat harus menanggung beban kenaikan pajak pertambahan nilai yang melompat tanpa permisi.
Pemerintah punya hobi lama. Mereka menaikkan harga minyak goreng, kedelai untuk tempe, tahu, daging sapi, bahkan gas elpiji non-subsidi. Tarif listrik dan harga Pertamax ikut-ikutan pesta kenaikan harga. Minyak goreng kini bertengger di kisaran dua puluh ribu rupiah per liter. Pertamax memaksa pemilik kendaraan merogoh kocek lebih dalam dari biasanya. Inflasi mencapai titik tertinggi dalam dua puluh dua bulan terakhir. Beban hidup terasa berat sekali.
Ini bulan puasa paling mahal yang pernah kita catat dalam ingatan belakangan ini.
Manusia memang makhluk tangguh. Kita terbiasa mengakali keadaan saat jepitan ekonomi mulai terasa sesak. Ramadan mengajarkan pengendalian diri. Mari kita sambut ajaran itu dengan memangkas konsumsi. Gorengan menjadi barang mewah? Singkirkan wajan. Kita beralih ke masakan kukus atau tumis. Jika rindu tempe goreng begitu menyesakkan, internet penuh dengan tutorial membuat minyak kelapa di rumah.
Bahan pokok mahal? Kita cari alternatif. Singkong atau ubi rebus bisa menemani kopi saat berbuka. Harga bensin melangit? Tetap di rumah. Kita mainkan permainan keluarga atau berbincang dengan orang terkasih daripada membuang bensin di jalanan macet.
Kembali ke dasar menjadi kunci. Puasa melatih kita berwudu, salat, dan merajut hubungan dengan Tuhan serta sesama manusia. Fokuslah pada kebajikan. Berbagi dengan mereka yang kekurangan jauh lebih berarti daripada memikirkan piring gorengan yang kosong.
Pemerintah perlu bercermin. Beban tambahan bagi rakyat bukan solusi bagi masalah yang mereka ciptakan sendiri. Mengatur negara butuh akal budi, bukan sekadar memeras keringat orang-orang yang sedang berjuang menyambung napas. Semoga berkah tetap turun meski ekonomi sedang sakit gigi. Selamat menjalankan ibadah puasa dengan segala keterbatasan yang ada.