Kamar kos itu mendadak lowong. Pintunya merapat rapat, mengunci kenangan tentang stik PS yang biasa tergeletak di lantai dan tawa Jaka yang meledak saat menang taruhan bola.
Tirta berdiri di depan pintu kayu tripleks yang kini membisu. Kepergian Jaka menyisakan ruang kosong yang ganjil. Bau minyak rambut Jaka masih tertinggal tipis, beradu dengan aroma lembap lorong kosan. Memang, ada riak yang mengganjal di dada Tirta sejak pengakuan Jaka soal Nadya kemarin malam. Rasanya seperti menelan kerikil. Tapi persahabatan mereka terlalu liat untuk putus hanya karena masa lalu yang buram. Jaka tetaplah orang pertama yang menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan saat Tirta terdampar di kota ini tanpa ongkos.
Hidup Jaka sebentar lagi akan beres. Karir menanjak, isi dompet tebal, dan seorang perempuan setia menemani. Beberapa bulan lagi, tangis bayi akan menggenapi segalanya. Sempurna.
“Kapan kamu nyusul Jaka?”
Suara Listy memecah lamunan Tirta. Perempuan itu duduk di lantai berkarpet plastik, memangku buku tebal kuliahnya.
Tirta mengerjap, buru-buru melempar majalah otomotif loak ke lantai. “Eh, gimana? Kamu nanya apa?”
“Tuh kan, melamun!” Listy mencibir, matanya berkedip di balik bingkai kacamata tipis.
“Sedikit. Cuma membayangkan kamu rebahan di kasur pakai bikini, lalu memanggil namaku pakai suara mendesah yang bikin merinding.” Tirta terkekeh, merebahkan tubuhnya ke kasur tipis, menirukan pose sensual yang dibuat-buat.
“Cukup, Tirta! Sebelum buku ini mendarat di jidatmu, telan kembali kalimat konyol itu!” Listy meraih bantal sofa, lalu tanpa ampun membekap wajah Tirta.
Suara Tirta tersumbat kain. Napasnya putus-putus sampai badannya menggelepar minta ampun. Begitu bebas, dadanya naik turun memburu oksigen.
“Mesum juga ya pikiranmu,” cetus Listy, kembali menekuni catatan kuliah.
“Sialan kamu, Lis. Tadi malaikat maut sudah menengok dari jendela, menanyakan nomor kamar. Untung dia balik kanan.”
“Kok balik kanan?”
“Nggak cocok harga.”
Tawa Listy pecah, renyah mengisi sudut kamar yang pengap. Tirta meraih segelas air putih di meja kecil, meneguknya hingga tenggorokan yang kering terasa sejuk. Matanya mendadak tertuju pada wajah Listy. Ada yang baru.
“Sejak kapan kamu pakai kacamata?”
Listy mendongak, membetulkan letak bingkai tipis di hidungnya. “Kemana saja matamu? Dari dulu aku pakai kalau lagi belajar.”
Tirta mengernyit, mencoba memutar memori, tapi nihil. “Nggak pernah lihat tuh.”
“Baguslah, berarti matamu baru sembuh hari ini dari rabun ayam.” Listy terkikih puas. “Minusku cuma setengah, Tir. Tapi tulisan dosen di papan tulis sering kelihatan seperti cacing kepanasan kalau nggak dibantu ini. Memangnya aneh ya?”
Tirta menggeleng. Kamu justru kelihatan jauh lebih cantik begitu, bisik Tirta, tentu saja hanya berani bergaung di dalam batok kepalanya sendiri.
“Berarti selama ini pandanganmu ke aku blur dong?” tanya Tirta bodoh.
“Ya kelihatan jelas kalau dekat. Dulu kupikir kamu lumayan. Begitu kacamata ini bertengger di hidungku, baru kelihatan jelas jelekmu.” Listy tertawa terbahak-bahak, puas sekali menatap wajah Tirta yang langsung kecut.
Tapi aku tidak butuh kacamata untuk tahu seberapa cantiknya kamu, Lis, batin Tirta lagi, menelan kata-katanya sendiri dalam-dalam.
“Puas-puasin saja menghina aku,” gerutu Tirta.
“Hahaha, gampang banget ngambek. Iya, iya, kamu ganteng kok, Tir.”
“Kenapa harus pakai ‘kok’? Nggak ikhlas banget.”
Listy tidak menyahut lagi, jemarinya kembali sibuk menulis. “Sudah ah, sana balik ke kamarmu. Sore ini kamu sudah bikin aku tertawa terus. Tugas ini nggak bakal kelar kalau kamu di sini.”
“Ngusir nih?”
“Iya! Hus!”
Tirta mendengus keras, bangkit dari kasur lalu melangkah keluar. Langkahnya terhenti di koridor luar saat mendengar ponselnya di dalam kamar menjerit-jerit. Tirta menyambarnya cepat tanpa melihat layar.
“Halo?”
“Hai, Tir. Kenapa lama banget sih? Lagi ngapain?” Suara di seberang sana sangat familiar. Tirta menjauhkan ponsel dari telinga, menatap layarnya. Di sana tertulis nama: Misya Cantik. Kurang ajar, perempuan itu pasti mengedit kontaknya sendiri waktu meminjam ponsel Tirta minggu lalu.
“Maaf, tadi kusenyapkan.”
“Kamu di kosan, kan? Aku ke situ sekarang ya.”
Klik. Telepon diputus sepihak.
Tirta melongo menatap layar yang menggelap. Sepuluh menit kemudian, ponselnya bergetar lagi. Nama yang sama muncul.
“Mis, kamu jadi ke sini?” tanya Tirta langsung.
“Iyalah, kan tadi sudah dibilang.”
Tirta melirik ke arah pintu kamar Listy yang tertutup. Entah kenapa ada rasa enggan yang mendadak muncul. “Waduh, aku lagi di luar, Mis.”
Bohong besar. Tirta saat itu sedang duduk termenung di undakan tangga semen menuju lantai bawah.
“Yah, kok gitu? Katanya tadi di kosan?” Suara Misya terdengar agak aneh di telepon, seperti ada gema yang tidak asing.
“Iya, tadi sempat keluar sebentar. Kamu nanti saja ya mainnya?”
“Tanggung, Tir. Aku tunggu di kamarmu saja ya? Kamu masih lama nggak?”
“Nunggu?” Jantung Tirta agak melompat. “Kamu memangnya sudah sampai mana?”
“Aku sudah di kosanmu,” jawab suara itu. Kali ini suara itu tidak hanya keluar dari speaker telepon, tapi juga menggema dari arah bawah tangga.
Tirta menengok ke bawah. Di sana, di belokan tangga yang remang oleh cahaya sore, Misya berdiri tegak. Matanya menengadah menatap Tirta yang duduk di ujung atas tangga dengan ponsel yang masih menempel di telinga.
Malu setengah mati merayap di tengkuk Tirta.
“Eh, sudah sampai ternyata…” Tirta nyengir, kikuk.
“Katanya lagi di luar?” Misya melangkah naik, sepatu kerjanya mengetuk anak tangga dengan irama yang tegas.
Tirta biasa menghadapi bos besar di kantor dengan presentasi rumit, tapi pertanyaan sederhana dari perempuan di depannya ini rasanya lebih menyiksa daripada sidang skripsi.
“Eh, maksudku… ini… ini kan lagi di luar kamar. Iya, di koridor tangga!” Tirta cengengesan, mencoba menyelamatkan mukanya yang terlanjur basah oleh kebohongan.
Misya mencibir namun kakinya tetap melangkah mendekat. “Lucu juga kamu ya.”
Tirta tertawa garing. Misya kemudian mengambil tempat, duduk di sebelah Tirta tepat di undakan tangga. Udara sore bertiup agak kencang, membawa aroma parfum kantoran Misya yang tajam dan berkelas.
“Sudah makan?” tanya Misya.
Tirta mengangguk pelan. “Kamu baru balik kerja, Mis?”
“Nggak juga, kan kita pulang bareng jam empat tadi. Aku cuma mampir supermarket sebentar beli keperluan.”
Misya mengedarkan pandangan ke koridor kos yang sepi. Tatapannya tertuju pada pintu kamar di ujung. “Mana cewek itu?”
“Cewek yang mana?”
“Yang waktu itu di kamarmu. Siapa namanya… Listy? Mana dia?”
“Ada di kamarnya. Kenapa memangnya?”
Misya tersenyum simpul, jenis senyuman yang membuat Tirta sadar bahwa kata ‘nggak apa-apa’ milik perempuan adalah teka-teki paling rumit di dunia.
“Dia anak mana sih?” tanya Misya lagi, nadanya menyelidik.
“Listy? Rumahnya di Jakarta, tapi aslinya Padang. Lahir di Kuala Lumpur, sempat SD di Inggris sebelum besar di Padang, lalu kuliah di sini.”
Misya menoleh tajam, menatap Tirta dengan alis bertaut. “Kamu tahu banyak ya tentang dia.”
“Cuma cerita-cerita santai saat mengobrol kok.”
“Dia tipemu?”
Tirta terdiam lima detik. Angin sore terasa agak dingin. “Tipe cewek buat pacar?”
“Iyalah.”
“Aku nggak pintar memilih perempuan, Mis. Nggak punya kriteria khusus, yang penting cocok saja.”
“Masa cuma cocok? Kalau cocok tapi punya penyakit bisulan sebadan gimana?”
Tawa mereka pecah bersamaan, memecah ketegangan di tangga semen itu.
“Ada-ada saja kamu. Aku ini standar saja, nggak muluk-muluk pengen yang sempurna karena aku sadar diriku juga banyak celanya,” kata Tirta, mencoba terdengar bijak.
“Sok bijak kamu.” Misya menyenggol bahu Tirta.
Perempuan itu masih memakai kemeja kantor rapi. Namun ada sesuatu yang berbeda dari penampilannya sore ini. Tirta mengamati lamat-lamat, mencoba mencari tahu apa yang berubah, tapi fokusnya terganggu saat Misya kembali bersuara.
“Kalau tipemu sesederhana itu,” Misya menatap lurus ke dalam mata Tirta, tatapannya mendadak berat dan penuh selidik, “kira-kira aku masuk kriteria nggak?”
Suasana mendadak hening. Tirta berdeham, mendadak tenggorokannya kembali kering. “Masuk nggak ya? Kamu cantik kok.”
“Ah, masa?”
Tirta mengangguk seperti orang bodoh.
“Jadi, aku masuk kriteria?” desak Misya, matanya menuntut jawaban pasti.
“Ehm…”
Krieeek.
Pintu kamar di ujung koridor terbuka. Listy berdiri di ambang pintu, memegang pembatas buku.
“Tirta?” Panggilan Listy membuat dua orang di tangga itu menoleh cepat. “Kirain lagi ngobrol sama siapa, suaranya sampai masuk ke dalam. Hai, Misya,” sapa Listy ramah, melempar senyum lebar.
Misya membalas tatapan itu dengan dingin, tubuhnya menegang. “Kita pernah kenal ya?”
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Misya, membuat atmosfer koridor mendadak drop beberapa derajat. Tirta yang panik langsung berusaha mencairkan suasana.
“Hai, Lis. Sini gabung, ngobrol bareng kita di sini,” ajak Tirta, mencoba tersenyum netral.
Misya langsung menoleh ke arah Tirta dengan tatapan tidak percaya. “Bukannya kita mau jalan, Tir?”
“Jalan? Kapan?” Tirta melongo.
“Sekarang lah, kan tadi sudah janjian?” sergah Misya cepat, matanya memberi kode keras.
Tirta memandang Listy dan Misya bergantian, merasa terjebak di antara dua kutub magnet yang saling tolak-menolak. Seingatnya, di telepon tadi tidak ada obrolan soal pergi jalan-jalan.
“Oh, mau jalan-jalan ya?” Listy tersenyum nakal, matanya berkedip ke arah Tirta. “Ya sudah, hati-hati di jalan ya sayang. Kamarku nggak dikunci kok, nanti malam kita lanjut ngobrol lagi ya?”
Listy melambaikan tangan dengan gaya yang sengaja dibuat manja, lalu menutup pintunya perlahan, menyisakan bunyi klik kunci yang terdengar jelas di telinga Misya.
“Dia memanggilmu apa tadi?” Wajah Misya berubah keruh, napasnya memburu.
“Eh, nggak… dia cuma bercanda itu. Asli, cuma bercanda,” kilah Tirta, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.
Misya mendengus kasar. Tangannya terkepal di atas lutut. Kalau ada tumpukan piring kotor di depannya sekarang, mungkin sudah hancur diremas. “Hubungan kalian apa sih sebenarnya? Kalian nggak pacaran, kan?”
“Entahlah. Aku juga bingung cari kata yang pas untuk menjelaskannya.”
Misya menarik napas berat, matanya menatap lurus ke koridor yang sepi. “Kamu suka sama dia?”
Tirta bungkam. Menyadari obrolan ini akan menggelinding ke arah yang berbahaya, dia memutuskan untuk memotong kompas. “Kamu tunggu di sini sebentar. Aku mau ganti baju dulu.”
“Mau kemana?”
“Katanya tadi kita mau jalan?”
Misya diam sejenak, melihat arloji di pergelangan tangannya. “Di sini saja deh. Jalannya kapan-kapan saja kalau libur. Sudah mau malam juga.”
Tirta melirik ponselnya. Pukul lima lewat tiga puluh tiga menit.
“Kalau gitu mending kamu pulang saja, Mis,” usul Tirta, ingat cerita Misya tentang ibunya yang ketat soal jam malam perempuan.
“Oke, aku pulang. Selamat mengobrol malam nanti ya sama si Listy itu!” Misya bangkit berdiri, wajahnya masam seperti cuka.
Tirta menahan tawa, melihat kecemburuan yang meletup-letup itu. “Kalau memang belum mau pulang, di sini saja dulu, nggak apa-apa kok.”
“Nggak usah, terima kasih. Aku cuma jadi pengganggu di sini!”
Tirta ikut berdiri, langkahnya mengikuti Misya yang berjalan menuju balkon luar dekat tangga turun. “Hei, Misya. Kenapa jadi seperti anak kecil begini? Santai saja. Aku minta maaf kalau omongan Listy tadi bikin kamu kesal.”
“Bikin kesal? Banget tahu nggak!”
Tirta menatap wajah lelah Misya. Sisa-sisa bedak kantornya agak luntur, menunjukkan gurat keletihan setelah seharian bekerja. Tirta melangkah mendekat, berdiri berhadapan di dekat pagar balkon, mencoba memasang wajah setenang mungkin.
“Aku boleh tanya sesuatu?” Misya hanya diam, matanya menatap ujung sepatu. “Aku cuma pengen tahu, sebenarnya apa yang bikin kamu nggak suka sama Listy?”
Misya tampak agak gelagapan, tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar langsung. “Ya nggak suka saja! Dia nggak asyik.”
Suaranya yang nyaring bergema di koridor, cukup keras untuk menembus dinding kamar Listy.
“Aku cuma heran, kenapa kalian berdua nggak bisa akur? Padahal kalian berdua sama-sama orang yang dekat denganku.”
“Karena aku dan dia punya perasaan yang sama!” Kalimat itu meluncur cepat, membuat Tirta tertegun.
Tirta mencoba mencerna kalimat itu dengan logikanya yang tumpul. “Ah iya, sesama perempuan memang biasanya punya radar batin untuk membaca perasaan ya? Hebat juga radarmu.”
Misya menggelengkan kepala, menatap Tirta dengan pandangan frustrasi. “Bukan radarku yang hebat, tapi kamunya saja yang terlalu bodoh untuk membaca perasaan orang. Atau kamu memang sengaja pura-pura bodoh?!”
Tirta hanya tersenyum simpul, menyandarkan punggungnya ke pagar besi balkon. “Aku bukan pesulap yang bisa membaca pikiran orang, Mis.”
“Perasaan, Tirta! Bukan pikiran!” tekan Misya, suaranya bergetar menahan dongkol.
“Ah ya, apapun namanya. Aku lebih suka membaca komik.”
Misya mengembuskan napas panjang, mencoba meredam emosinya yang sempat meluap. “Oke. Kamu pikir selama ini aku bersikap baik dan perhatian ke kamu itu karena apa?”
“Karena kamu orang baik? Bukan begitu? Atau aku salah menebak? Jangan-jangan kamu sebenarnya agen rahasia dari planet luar yang menyamar jadi manusia untuk memata-matai kosan ini?” Tirta terkekeh, mencoba mencairkan suasana dengan humor garingnya.
Misya menatap Tirta datar, jenis tatapan yang dengan jelas mengatakan bahwa candaan itu sama sekali tidak lucu.
“Oke, maaf. Kamu memang orang baik, menyenangkan, dan bersahabat. Itu saja.” Tirta meralat ucapannya cepat.
Misya menarik napas dalam-dalam, bahunya yang tegang perlahan melendut. “Sudah ah, aku pulang dulu. Malas buang-buang waktu untuk debat nggak penting begini.”
“Oh, ya sudah. Hati-hati di jalan ya…”
Tepat saat dia hendak berbalik kembali ke kamar, matanya menangkap sesuatu memori visual yang baru saja terekam. Tirta akhirnya sadar apa yang berbeda dari penampilan Misya sore ini, detail yang sejak tadi dicarinya namun luput dari perhatian.
Sore ini, di balik rok kerjanya, Misya memakai stoking hitam pekat. Persis seperti stoking hitam yang selalu dipakai oleh Listy.