Kelas 2-C SMA Negeri Desa Wonoraharja bukanlah tempat untuk anak-anak pintar yang dingin. Di sudut bangku kayu yang sudah dicorat-coret tipex, Kasman dan Parti menghabiskan masa remaja dengan cara yang membuat guru wali kelas mengelus dada. Mereka bertukar catatan, berbagi bekal nasi kuning buatan ibu Parti, bahkan seringkali saling menyuapi saat jam istirahat. Pandangan mereka bertemu, dunia kelas yang bising dengan suara kapur tulis seketika senyap.
Kelulusan datang. Mereka merayakannya dengan cara yang aneh. Menikah. Cukup di KUA kecamatan dengan sisa uang tabungan sekolah yang pas-pasan. Tidak ada anak. Keputusan gila yang mereka ambil demi menjaga sisa-sisa ruang di hati hanya untuk satu sama lain.
Tahun demi tahun melesat. Kasman dan Parti meniti karier di kantor Dinas yang sama. Orang-orang di kantor sering berbisik. Mereka pasangan yang tidak masuk akal. Seragam, seirama, seolah hidup mereka adalah satu napas yang dibagi dua. Tidak ada serakah di sana. Tidak ada kebencian yang bersarang di rumah kecil mereka.
60 puluh tahun berlalu. Kulit mereka kini keriput seperti kertas tua yang diremas. Setiap sore, Kasman menuntun Parti menyusuri jalan setapak di depan rumah. Tangan mereka bertautan, jari-jari yang gemetar mencari pegangan pada pasangannya.
“Mataku masih jauh lebih tajam daripada matamu yang sudah seperti kaca berembun, Parti,” suara Kasman serak, terdengar seperti gesekan amplas.
Parti tertawa, gigi-giginya sudah hilang separuh. “Jangan sombong. Gigi ompongmu itu sudah tidak sanggup mengunyah bubur.”
“Setidaknya aku masih kuat menopang tubuhmu saat kau lelah berdiri,” sahut Kasman sambil menepuk pundaknya sendiri.
Matahari memerah di ufuk barat saat Parti menuju dapur. Dia ingin menyeduh teh untuk suaminya. Langkahnya goyah. Denting cangkir pecah memecah sunyi sore itu. Parti tersungkur di atas ubin dingin, nyawanya lepas tanpa sempat memanggil nama Kasman.
Kasman masuk ke dapur beberapa menit kemudian. Dia melihat Parti tergeletak. Tidak ada teriakan atau tangisan histeris yang memekakkan telinga. Dia hanya mendekat, mencium kening istrinya dengan bibir yang bergetar hebat. Dia kembali ke kursi di halaman, duduk dengan punggung tegak, menatap ke arah dapur seolah menunggu seseorang membawakan teh.
Tangannya meraba-raba udara, mencari pundak Parti. Air mata jatuh, menetes pelan, mengalir dari sudut mata yang sudah hampir buta. Kucing mereka berbaring di kaki Kasman, ikut diam, merasakan duka yang tidak perlu suara.
Tetangga mulai berdatangan saat senja. Jenazah Parti sudah dibawa pergi. Kasman terkunci di kamar. Ketika mereka mendobrak pintu, Kasman sudah terbaring di lantai. Selembar kertas terselip di jemarinya yang dingin.
“Aku menunggu teh buatannya, dia menunggu pundakku,” tulis Kasman di sana dengan huruf-huruf yang berantakan. “Jangan biarkan kucing kami kelaparan.”
Rumah itu kembali sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar, menghitung waktu yang tidak lagi mereka perlukan.