Arisu Ryohei adalah perwujudan pemuda apatis. Hari-harinya habis terkuras di depan layar monitor, tenggelam dalam simulasi gim video yang menjauhkan dia dari realitas. Dia pengangguran tanpa arah. Dia tidak tahu apa arti hidup di luar kontroler. Tiba-tiba Tokyo berubah wajah. Kota megah itu menjadi sunyi. Kosong melompong. Bersama kawan-kawannya, Arisu terpaksa masuk ke dalam permainan maut yang tidak punya aturan main selain membunuh.
Di balik puing kota yang sunyi, dia bertemu Usagi. Gadis itu bergerak sendirian, bertahan dengan insting tajam di tengah ancaman. Mereka akhirnya jalan beriringan, memecahkan teka-teki yang mengancam nyawa. Mereka mempertaruhkan eksistensi diri. Mereka dipaksa berhadapan dengan hakikat hidup yang sebenarnya.
Tontonlah jika ragu.
Sudah lama saya menunggu tontonan Jepang dengan anggaran besar yang serius digarap. Netflix akhirnya menyuguhkan sesuatu yang layak. Kamera, akting, dan efek visual kelas satu. Semuanya bekerja dengan presisi tinggi. Sayang, departemen musik latar terasa kurang berani. Saya mendambakan alunan yang lebih berkarakter untuk mengiringi ketegangan di setiap sudut kota. Meski begitu, lagu Good Times tetap menjadi satu-satunya yang patut dirayakan.
Premis kota Tokyo yang mendadak ditinggal penghuninya cukup memikat. Ide tentang orang-orang yang hilang begitu saja selalu punya daya tarik kelam yang sulit diabaikan. Ceritanya berhasil menjaga detak jantung saya tetap kencang hingga akhir. Kejutan-kejutan dalam naskah dan karakter yang punya kedalaman menjadi bahan bakar utama serial ini.
Sebelum menonton, saya mengira serial ini hanya menyajikan adegan aksi tanpa henti. Ternyata mereka memberi ruang bagi perkembangan karakter. Pacing cerita terasa melambat di beberapa titik. Saya justru bersyukur akan hal ini. Kita jadi punya waktu untuk merasakan duka dan ketakutan para tokoh. Mereka bukan sekadar pion dalam permainan mematikan. Mereka manusia dengan segala beban emosi yang menumpuk.