Reset adalah jebakan manis bagi mereka yang haus akan ketegangan. Bayangkan Li Shi Qing, seorang mahasiswi yang mendadak terjebak dalam putaran waktu yang menjemukan. Dia terus-menerus terkurung di dalam bus umum yang akan meledak. Kematian menjadi rutinitas harian yang tidak masuk akal.
Nasib malang ini menyeret Xiao He Yun ke dalam pusaran yang sama. Mereka berdua berjibaku mengubah takdir agar bus sampai ke tujuan dengan selamat. Sederhana terdengar, tetapi kenyataan di lapangan berkata lain.
Konsep putaran waktu dalam drama Tiongkok kontemporer ini terasa menyegarkan. Biasanya, genre fiksi spekulatif di sana hanya berkutat pada perjalanan lintas zaman atau fantasi dunia paralel yang melelahkan. Penuturan kisahnya mencengkeram perhatian. Ketakutan saya akan lubang cerita yang bolong di sana-sini sirna begitu saja. Aturan main putaran waktu ini tertata rapi. Penonton tidak dibiarkan meraba dalam gelap.
Drama ini bukan sekadar teka-teki bus meledak. Ada kedalaman rasa di sana. Campuran antara dinamika anak muda, drama kehidupan sehari-hari, hingga bumbu romansa terselip rapi dalam perkembangan karakter. Selama lima belas episode, penonton disuguhi kejutan yang memutar balik logika. Paruh kedua cerita menjadi bukti nyata kelihaian penulisnya.
Bukan hanya dua tokoh utama yang mendapat panggung. Para penumpang bus dan detektif polisi di balik penyelidikan pun memiliki napas kehidupan. Mereka bukan sekadar properti tambahan. Mereka manusia dengan lapisan emosi yang jujur.
Bai Jing Ting memerankan desainer gim Xiao He Yun dengan pas. Dia mencerminkan konflik batin seseorang yang ingin lari dari bencana, tetapi nuraninya menolak untuk membiarkan orang lain mati. Zhao Jin Mai di sisi lain, tampil tenang sebagai Li Shi Qing yang terjepit dalam situasi ekstrem di luar nalar.
Awalnya saya tidak menaruh harap pada benih romansa di antara mereka. Namun, melihat mereka berjuang hidup dan mati dalam kekacauan yang tak kunjung usai, pikiran saya berubah. Ada keterikatan emosional yang tumbuh dari penderitaan. Mereka menjadi pasangan yang membuat saya peduli. Kesulitan dan tragedi yang mereka bagi terasa lebih nyata daripada sekadar adegan manis di layar.
Liu Yi Jun membuktikan kematangannya sebagai detektif Zhang Cheng. Meski porsi layarnya terbatas, dia membawa kelas tersendiri ke dalam cerita. Liu Tao hadir sebagai inspektur Du Ju, menambah deretan nama besar dengan gaya rambut yang tampak janggal. Saya mendamba sosoknya lebih dari sekadar pelontar perintah tes narkoba yang berulang.
Beberapa pemeran pendukung lainnya mencuri perhatian dengan kualitas akting yang kuat, meski saya memilih diam untuk menjaga kejutan bagi kalian yang belum menonton. You Jing Rou memberikan kesan mendalam lewat kemunculan yang singkat.
Musik pengiring menambah jiwa pada adegan. Komposisi Kim Hyun Do mengisi ruang dengan tepat. Lagu tema My Only yang dilantunkan Zhou Shen mencabik perasaan. Suaranya menjadi teman setia dalam setiap detik ketegangan.
Reset berakhir sebagai kejutan yang menyenangkan. Dia tidak butuh anggaran raksasa atau deretan nama besar untuk memikat penonton. Naskah yang kokoh, akting yang meyakinkan, serta karakter yang terasa dekat di hati adalah kuncinya. Drama ini melampaui ekspektasi. Begitu pula bagi saya.