Seorang bocah lelaki, yang jiwanya telah lama tersihir oleh dongeng-dongeng tentang Tuhan, membulatkan tekad untuk menemui-Nya. Ia tahu perjalanan ini tidaklah pendek. Maka, dengan penuh percaya diri, ia menyiapkan bekal. Dimasukkannya beberapa keping kue kesukaannya ke dalam tas, ditambah segelas teh dalam botol minum. Langkah kecilnya pun diayunkan, meninggalkan rumah demi sebuah pertemuan agung.
Setelah menyusuri jalan sejauh tiga blok, ia berhenti. Matanya tertuju pada sebuah taman yang molek. Ia memutuskan untuk duduk di atas bangku taman. Di sana, seorang perempuan tua sedang duduk seorang diri, menatap kawanan burung merpati dengan pandangan yang teduh. Bocah itu membuka tasnya, mengeluarkan kue, dan menuang teh. Ketika hendak menikmati hidangannya, ia melihat perempuan tua di sebelahnya tampak lapar. Tanpa ragu, ia menyodorkan kue dan secangkir teh miliknya. Perempuan itu menerima pemberian tersebut dengan rasa syukur dan membalasnya dengan senyuman yang hangat.
Bocah itu merasa sangat bahagia. Sepanjang sore mereka duduk berdampingan, makan kue, dan berbagi keheningan. Tidak ada satu kata pun yang terucap di antara mereka. Begitu hari mulai senja, bocah itu merasa lelah dan ingin segera pulang. Ia bangkit dari duduknya. Namun, belum jauh melangkah, ia berbalik. Ia berlari kembali kepada perempuan tua itu dan memeluknya dengan erat. Sang perempuan memberikan senyuman paling cerah yang pernah bocah itu lihat seumur hidupnya.
Sesampainya di rumah, wajah bocah itu berseri-seri. Ibunya, yang merasa heran dengan pancaran kebahagiaan di wajah anaknya, bertanya, apa yang sebenarnya ia lakukan hari ini hingga tampak begitu gembira. Bocah itu menjawab dengan polos, bahwa ia baru saja makan siang bersama Tuhan. Sebelum ibunya sempat berkata apa pun, ia menambahkan bahwa Tuhan memiliki senyum yang paling indah yang pernah ia temui.
Di sisi lain, perempuan tua itu pun sampai di rumahnya dengan hati yang berbunga-bunga. Putranya yang menunggu di rumah tertegun melihat wajah ibunya yang dipenuhi kedamaian dan sukacita. Ia bertanya, apa yang membuat ibunya merasa begitu bahagia. Sang ibu menjawab, bahwa ia baru saja menikmati kue dan teh di taman bersama Tuhan. Sebelum anaknya sempat menanggapi, ia berujar, bahwa ternyata Tuhan jauh lebih muda dari yang ia duga.
Seringkali kita meremehkan kekuatan dari perbuatan kasih yang sederhana. Sebuah sentuhan, senyuman, tutur kata yang baik, telinga yang mau mendengar, atau pujian yang jujur, semuanya memiliki kekuatan besar untuk mengubah jalan hidup seseorang.