Secangkir Teh Manis Butaan Tirta

Sore hari merayap turun dengan malas ketika selembar amplop putih kecil berkop tinta biru mendarat tepat di atas hidung Tirta. Nyawanya belum terkumpul genap, masih tercecer di antara sisa-sisa mimpi buruk tentang kejaran mandor pabrik. Sambil mengumpat pelan, dia menyingkirkan kertas resmi itu ke atas galon air mineral di pojok ruangan. Otaknya yang masih tumpul segera beralih memikirkan urusan perut yang mulai keroncongan.

Di selasar luar, Jaka sudah berdiri bersandar pada pembatas beton, memperhatikan langit Karangwangsa yang mendung.

“Surat sakit pesanan lo sudah gue taruh di muka lo tadi,” cetus Jaka tanpa menoleh.

Tirta melangkah keluar dengan sarung yang masih melilit pinggang. “Sembarangan saja meletakkan barang. Untung nggak basah kena liur.” Dia mengempaskan pantat di kursi plastik kusam. “Lapar nih. Lo sudah beli makan?”

“Sudah barusan.”

“Sialan, kenapa nggak nawarin gue? Nggak bisa nitip dong?”

“Sesekali melangkah sendiri ke depan gang, Tir. Biar kakimu nggak kaku.”

Tirta mendengus, merasa dikhianati oleh kawan senasib sepenanggungan. “Jahat benar lo. Biasanya siapa yang paling sering jadi babu titipan kalau bukan gue?”

Jaka terkekeh, menepuk bahu Tirta. “Pahala, Tir, pahala. Lo mau memesan kavling di surga, kan?”

“Nggak lewat jalur menjadi kurir nasi uduk juga kali,” gerutu Tirta.

Tawa Jaka mereda, matanya melirik ke arah pintu kamar nomor dua puluh empat yang tertutup rapat. “Eh, perempuan ajaib itu ke mana? Dari tadi gue nggak melihat batang hidungnya.”

“Mana gue tahu? Lo lihat sendiri gue baru bangun tidur.”

“Masalahnya, sejak gue melek sejam lalu, kamar sebelah sepi seperti kuburan.”

“Ya, paling dia sedang meringkuk di dalam.”

“Sedang apa?” Jaka penasaran.

Tirta memutar bola mata. “Pertanyaan bodoh yang nggak butuh jawaban.”

Jaka terdiam sejenak, tampaknya sedang menimbang sesuatu dalam kepalanya. “Tapi, Tir, kalau kakinya nggak bolong-bolong penuh bekas luka begitu, dia sebenarnya seksi juga ya.”

Tirta langsung menatap Jaka dengan pandangan menyelidik. “Lo naksir dia?”

“Kagum, Man. Tolong bedakan antara kekaguman estetis dengan urusan hati.” Jaka membela diri. “Dia cantik kok. Ramah pula sebenarnya, kalau otaknya sedang berada di frekuensi yang benar.”

“Jadi, lo benar-benar berminat?”

“Sekali lagi lo mengajukan pertanyaan interogasi begitu, gue dorong lo dari balkon ini,” ancam Tirta, mulai kehilangan kesabaran.

“Ya ampun, begitu saja pundung. Kalau nggak ya sudah, santai saja.”

Tirta bangkit, menggulung sarungnya ke atas lutut. “Sudahlah, gue mau cari makan dulu ke bawah.”

“Titip sop buah ya, Tir!” teriak Jaka saat kaki Tirta baru memijak anak tangga ketiga. Tirta hanya membalas dengan acungan jempol tanpa menoleh.

Udara sore yang condong ke arah dingin membuat selera makan Tirta mengerucut pada hidangan yang membakar lidah. Mie ayam ceker di depan gang dengan genangan sambal merah merona menjadi pilihan mutlak. Setelah mengamankan pesanan sop buah pesanan Jaka, Tirta mampir ke warteg sebelah. Dia memesan sebungkus nasi dengan lauk telur dadar dan siraman kuah rendang. Pikirannya mendadak melayang pada Listy. Perempuan itu pasti belum makan sejak siang.

Tirta kembali ke lantai tiga dengan rentengan kantong plastik di kedua belah tangannya. Tiga menu berbeda untuk tiga isi kepala yang berbeda pula.

“Ciye, perhatian banget lo, Tir,” goda Jaka begitu melihat bungkusan nasi warteg yang ditaruh terpisah.

Tirta tidak menghiraukan ledekan itu. Dia melangkah mantap menuju kamar nomor dua puluh empat. Tiga ketukan di pintu kayu yang lapuk tidak menghasilkan suara apa-apa. Tanpa pikir panjang, dia memutar knop pintu dan mendorongnya. Di dalam ruangan yang remang, Listy sedang terlelap di atas lantai semen yang dingin, tanpa alas, hanya berbantalkan lengan kirinya sendiri yang kurus.

“Hei, bangun,” Tirta menggoyang bahu perempuan itu perlahan dengan ujung jarinya. “Makan dulu, setelah itu terserah kalau mau pingsan lagi.”

Sepasang mata Listy terbuka cepat. Dia terperanjat, langsung mengambil posisi duduk merapat ke dinding dengan tatapan penuh kewaspadaan.

“Sedang apa kamu di sini?” tanyanya, suaranya tajam menuntut penjelasan.

“Aku belum sempat berbuat apa-apa kok, kamu sudah keburu bangun. Mau tidur lagi biar bisa aku jahilin?” Tirta mencoba mencairkan ketegangan dengan banyolan asal.

PLAK!

Satu tamparan mendarat telak di pipi kanan Tirta, menyisakan rasa panas yang menjalar cepat.

“Buset! Galak benar, Non. Aku cuma bercanda,” Tirta mengaduh sambil memegangi pipinya yang mendadak kesemutan.

Listy memasang wajah keruh, napasnya memburu. “Bercandamu tidak lucu.”

“Ya sudah, ini,” Tirta meletakkan bungkusan nasi telur di atas lantai, tepat di depan lutut Listy. “Aku cuma mau mengantar ini. Ini air minumnya, dan ini obat yang dipesan dokter semalam. Jangan lupa ditelan.”

Tirta berbalik, bersiap angkat kaki.

“Mau ke mana?” tanya Listy mendadak, menahan langkah Tirta di ambang pintu.

“Kembali ke kamar sebelah. Daripada pipiku yang sebelah kiri ikut kena giliran tampar.”

“Maaf…”

Langkah Tirta terhenti. Dia menoleh kembali, memastikan telinganya tidak salah menangkap frekuensi suara. “Kamu bicara apa barusan?”

“Maaf untuk yang tadi. Aku sering bereaksi berlebihan kalau mendadak kaget,” Listy menunduk, memainkan ujung bungkus nasi dengan jarinya yang gemetar.

Tirta tersenyum tipis, rasa panas di pipinya mendadak agak berkurang. “Kalau kata maaf bisa menyelesaikan segalanya, buat apa pemerintah menggaji polisi?”

“Memangnya apa gunanya polisi? Maling ayam di pasar bawah saja masih banyak yang berkeliaran,” balas Listy datar.

Tirta terpaku menatap sepasang mata yang sayu itu. Ada rasa takjub yang menyelinap di antara rasa herannya. Ternyata kalau sedang waras, perempuan ini bisa melontarkan kalimat yang cukup waras pula.

“Kalau butuh bantuan apa-apa, ketuk saja pintu sebelah,” kata Tirta sebelum menarik daun pintu hingga tertutup rapat.

Namun, baru sedetik gerendang pintu menyatu dengan kusen, pintu itu terbuka lagi dari dalam.

“Tirta,” panggil Listy.

“Kenapa lagi?”

“Terima kasih untuk nasinya.”

Tirta mengangguk pelan. Terima kasih juga untuk cap tamparan di pipiku, batinnya sarkas.

Malam itu, Karangwangsa disergap hujan deras yang turun sejak petang. Jaka sudah meringkuk di balik selimut lorengnya tak lama setelah rintik pertama menyentuh genteng seng. Tirta sendiri masih terjaga, duduk di depan televisi tabung 14 inci yang layarnya dipenuhi semut hitam putih. Pikirannya sibuk merancang skenario jawaban seandainya besok pagi sang mandor pabrik menuntut penjelasan soal absensinya yang bolong.

Tepat ketika bayangan wajah galak mandor itu muncul di benaknya, pintu kamar terbuka. Listy berdiri di sana, memegangi kusen pintu dengan canggung.

“Hei, Listy,” Tirta menegakkan posisi duduknya.

“Eh, aku kira kalian berdua tidur di kamar sebelah lagi seperti semalam,” kata Listy, matanya melirik kasur busa yang kosong.

“Memangnya kenapa?”

“Aku pikir aku bisa memakai kasur ini lagi untuk tidur. Hehehe,” Listy tertawa kecil, suara tawa yang terdengar asing sekaligus aneh.

“Jaka sudah menjelma jadi guling sejak satu jam lalu. Kalau mau, kamu tidur di kamar aku saja di sebelah. Di sana ada kasur yang menganggur.”

Listy mengernyitkan dahi. “Lho, bukannya kamarmu yang ini?”

Tirta menggeleng. “Ini kamar Jaka. Kamarku yang di sebelah.” Dia bangkit, melangkah melewati Listy menuju selasar yang terkena tempias air hujan. “Tidur di kamarku saja, biar nanti aku yang menggelar tikar di sini.”

“Eh, tidak usah repot-repot. Biar saja, aku bisa tidur di kamar sendiri kok.”

“Maksudmu, malam ini kamu mau tidur di atas semen dingin lagi tanpa bantal seperti sore tadi?” Tirta menatapnya sangsi.

Listy mengangguk, ada keraguan yang tertangkap di matanya yang redup. “Sudah biasa kok,” jawabnya pelan.

“Jangan membiasakan hal-hal yang merusak badan.”

“Mau bagaimana lagi? Keadaannya memang sedang begini.”

“Itulah salahmu. Jangan biarkan keadaan yang mendikte kita. Kita yang harus memegang kendali,” Tirta membuka pintu kamarnya sendiri, memperlihatkan ruangan yang sudah rapi setelah dibersihkan siang tadi. “Aku janji tidak akan menapakkan kaki ke dalam kamar ini selama kamu di dalam. Tenang saja.”

“Sudahlah, biasa saja. Tidak perlu repot begitu. Aku tidak enak kalau terus-terusan merepotkan kalian.” Listy bersikeras, kakinya yang diperban bergeser hendak mundur.

“Sedikit merepotkan tidak akan membuat aku jatuh miskin, asal akunya ikhlas,” potong Tirta.

“Aku tidur di kamar sendiri saja.” Listy tampaknya memiliki keras kepala tingkat dewa.

“Oke,” Tirta masuk ke kamarnya, langsung melipat kasur busa tipis miliknya menjadi satu gulungan besar.

“Mau kamu apakan kasur itu?” Listy melongok dari balik pintu, bingung.

“Aku pindahkan ke kamarmu. Biar adil.”

“Eh, jangan! Tidak usah! Oke, oke, aku tidur di sini saja,” Listy buru-buru masuk, tangannya menahan lengan Tirta agar tidak mengangkat gulungan busa itu.

Tirta tersenyum puas. “Nah, begitu. Selamat menikmati mimpi indah, Nona. Anggap saja kamar sendiri.” Dia melangkah mundur menuju pintu.

“Tunggu, kamu sendiri mau ke mana?”

“Bawel. Ya ke kamar Jaka lah. Masa kita mau tidur satu ranjang di sini?”

“Bukan begitu. Maksudnya, kenapa buru-buru sekali? Ini baru jam tujuh malam, aku juga belum mengantuk.” Listy menahan langkah Tirta dengan pertanyaan baru.

Tirta menimbang sejenak. “Mau kopi?”

Listy menggeleng.

“Teh hangat?”

“Boleh,” jawab Listy, matanya sedikit berbinar. “Hujan-hujan begini sepertinya enak minum yang manis.”

“Kalau begitu silakan seduh sendiri. Teh celup dan gula ada di dalam kaleng biskuit di samping dispenser,” Tirta menunjuk ke sudut ruangan. “Jangan lupa tekan tombol pemanasnya dulu.”

Listy cemberut, bibirnya mengerucut beberapa senti. “Aku harus menyeduh sendiri?”

“Ya ampun, cuma mencelup teh saja masa harus minta dilayani? Kamu kan perempuan?”

“Apa hubungannya status gender dengan urusan menyeduh teh?” tuntut Listy tidak mau kalah.

“Biasanya perempuan lebih cekatan untuk urusan dapur yang begini.”

“Tidak mau. Kamu saja yang bikin. Aku mogok minum,” Listy melipat tangan di dada, duduk di tepi ranjang dengan wajah ketus.

Tirta mendesah panjang. Perempuan ini benar-benar paket lengkap: penuh misteri, suka menyiksa diri, dan luar biasa menyebalkan. Dia melangkah mendekati dispenser, menyalakan stopkontak, lalu mulai memasukkan dua sendok gula pasir ke dalam gelas kaca.

“Kamu tidak membuat untuk dirimu sendiri?” tanya Listy saat Tirta menyodorkan segelas teh manis hangat yang asapnya masih mengepul tipis.

“Aku sedang tidak berselera,” jawab Tirta pendek.

Listy menerima gelas itu dengan hati-hati, meniup permukaannya perlahan sebelum menyesapnya sedikit demi sedikit. “Terima kasih, tehnya manis. Aku suka,” katanya, suaranya melembut seiring dengan kehangatan yang menjalar di tenggorokannya.

Tirta hanya mengangguk, matanya memperhatikan raut wajah Listy dari jarak dekat. Gurat kemuraman itu masih ada, tercetak jelas di sudut mata dan dahinya yang sering berkerut.

“Kalau boleh tahu, kamu kerja di mana?” Tirta mencoba membuka obrolan yang lebih bermartabat.

“Aku belum kerja. Masih kuliah di UNKA, baru jalan semester empat.”

“Ooh, anak kuliahan ternyata. Kamu asli Karangwangsa sini?”

“Bukan. Aku lahir dan besar di Padang.”

“Wah, jauh juga. Kok bisa terdampar sampai ke sini?”

Listy tersenyum simpul, sebuah senyuman yang kali ini terlihat lebih lepas. “Namanya juga orang tersesat, jalurnya bisa sampai ke mana saja, kan? Kamu sendiri orang mana?”

“Aku dari kota kecil di pedalaman Kalimantan.”

“Rasanya aky tidak perlu bertanya kenapa kamu bisa ada di sini,” kata Listy, dan sedetik kemudian mereka berdua tertawa kecil bersamaan. Sesuatu yang terasa mustahil terjadi beberapa jam lalu.

Malam mengalir lambat diiringi simfoni rintik hujan yang menghantam atap seng. Di atas balkon yang dingin, mereka berdua menghabiskan waktu dengan bertukar cerita. Mulai dari urusan asal-usul, kenangan masa kecil yang konyol, hingga alasan-alasan sentimentil yang memaksa mereka bertahan di tanah rantau yang keras ini.

Listy, di balik segala keanehan dan perban putihnya, ternyata adalah teman bicara yang menyenangkan. Dia punya selera humor yang sarkas namun cerdas, lihai membalikkan kalimat dan menghidupkan suasana. Perkenalan malam itu memang jauh dari kesan formal, namun kehangatan yang tercipta di selasar kosan malam itu sanggup mengusir dingin yang merayap hingga ke tulang. Mereka terus larut dalam obrolan panjang, melupakan waktu yang terus berputar, hingga kantuk akhirnya menjemput saat semburat fajar mulai mengintip dari balik ufuk timur.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(