Entah sudah berapa lama Tirta terpaku di atas kursi jalinan rotan yang mulai ringkas anyamannya itu. Seindah apa pun angin sore Karangwangsa berembus dan sekeras apa pun tawa Jaka memecah sepi, separuh hatinya tetap terasa lumat. Kepergian Nadya adalah sebuah pukulan telak tanpa aba-aba. Terlalu naif untuk berbohong pada cermin bahwa perih ini akan menguap secepat detik berlalu. Cinta yang telanjur berakar dalam di dada tidak bisa dicabut begitu saja tanpa menyisakan lubang yang menganga.
“Gue sudah mengikhlaskan dia kok,” cetus Tirta, menanggapi cercaan Jaka yang sejak kemarin memintanya berhenti meratapi nasib.
Jaka mengembuskan asap rokoknya ke udara, membiarkannya bergulung-gulung sebelum musnah ditelan angin malam. “Kalau memang sudah ikhlas, jangan pasang muka mendung terus. Kasihan Nadya di sana, jadi nggak tenang melihat lo merana begini.”
Dua isapan dalam lagi, dan lintingan tembakau di jemari Jaka sudah mendekati batas sumbu.
“Lagian, sepertinya lo sudah menemukan penawar baru sekarang,” Jaka melirik dengan dagunya ke arah pintu kamar Listy yang mengatup rapat.
Tirta mendengus, membuang muka. “Terlalu cepat untuk mencari pengganti, Jak. Menghapus bayangan perempuan yang pernah mengisi seluruh isi kepala itu nggak semudah membalik telapak tangan.”
“Mending ada cadangan daripada kesepian setengah mati, toh?”
Tirta hanya bisa menyunggingkan senyum getir.
“Listy itu cantik, Tir. Manis kalau dipandang lama-lama,” komentar Jaka lagi sambil mematikan puntung rokoknya pada kaleng asbak.
“Iya, gue tahu. Mata gue masih normal.”
“Waduh, syukurlah kalau begitu. Gue sempat was-was lo bakal kehilangan selera pada perempuan, lalu mendadak menembak gue suatu hari nanti.”
Tawa mereka berdua pecah, berkejaran dengan deru mesin pabrik dari kejauhan.
“Sialan lo! Biarpun gue menyimpang, gue juga bakal pilih-pilih objek. Muka seperti lo mana masuk kriteria,” balas Tirta terbahak.
“Parah benar, bahkan sesama jenis pun menolak gue,” Jaka terkekeh sambil melirik arlojinya. “Sudah mau jam delapan malam. Gue harus bersiap berangkat kerja shift malam.”
Jaka melangkah masuk ke kamarnya dan keluar beberapa menit kemudian dengan seragam pabrik yang rapi.
“Di bawah meja televisi ada stok mi instan. Masak saja kalau perut lo mulai demo,” pesan Jaka sembari membenahi kerah bajunya.
Tirta mengangguk samar.
“Eh, gue baru beli kaset video baru. Tonton saja di kamar sampai puas.”
“Iya, sudah, cepat berangkat sana. Nanti telat diamuk mandor.”
“Gue berangkat dulu.” Kurang dari semenit, langkah sepatu Jaka lenyap di turunan tangga, meninggalkan Tirta kembali berteman dengan kesunyian selasar.
Kesendirian memang menjadi kawan akrab Tirta di kosan ini. Jika Jaka mendapat giliran kerja malam, praktis Tirta hanya memiliki waktu sebentar untuk bercakap-cakap. Sementara Listy, sudah beberapa hari ini dia seperti ditelan bumi. Perempuan itu kembali pada kebiasaan lamanya yang hobi menghilang secara misterius. Setelah beberapa malam kemarin mereka sempat hanyut dalam obrolan hangat di tembok balkon, selasar ini kembali terasa dingin. Sepi selalu sukses menyeret Tirta pada pusaran melankoli yang melelahkan.
Pintu kamar nomor dua puluh empat tetap bergeming, terkunci rapat selama berhari-hari. Tirta mulai terbiasa dengan keheningan ini, sampai sebuah kejutan muncul dari balik anak tangga. Sosok Listy mendadak menonjol di ujung selasar, menenteng dua kantong plastik besar yang tampak penuh sesak oleh barang belanjaan. Tirta mematung di kursinya, mengawasi pergerakan perempuan itu.
“Lagi apa?” sapa Listy, nadanya terdengar tak biasa, begitu renyah.
“Duduk,” jawab Tirta pendek, menyembunyikan rasa lega yang mendadak membuncah karena malam ini dia punya teman bicara.
Listy, dengan balutan stoking hitam yang membungkus rapi sepasang kakinya, berjalan mendekat. Dia menjatuhkan kantong belanjanya ke lantai tegel, menyilangkan kedua tangan di depan dada, lalu menatap Tirta lekat-lekat tanpa berkedip.
“Kenapa menatap aku seperti itu?” Tirta mulai merasa jengah.
“Berdiri,” jawab Listy ketus, meniru gaya ketus Tirta tadi.
Tirta mendesah pelan, merasa kena batunya.
“Tidak enak, kan, mendengarkan jawaban pendek begitu?” Listy mencibir, namun seulas senyum tipis terbit di bibirnya.
“Iya, maaf. Bawa apa saja itu?” Tirta menunjuk bungkusan plastik di lantai.
“Habis berburu di minimarket depan. Oh iya, kamu sudah makan belum? Ini aku belikan mi ayam ceker untukmu.”
“Wah, baru saja aku makan setelah isya tadi.”
Listy cemberut. “Aduh, lalu bagaimana dengan mi ayam ini? Aku sengaja mengantre lama untuk membelikanmu porsi ini.”
“Ya, kamu habiskan saja sendiri.”
“Perutku sudah penuh, tadi sudah makan di jalan.”
“Kamu sih, sok baik mendadak pakai membelikanku mi segala,” goda Tirta.
“Sesekali mencari pahala lewat memberi makan tetangga tidak ada salahnya, kan?” Listy membela diri. “Lagian, kamu ini cerewet sekali.”
“Dari mana saja kamu beberapa hari ini? Pergi menghilang tanpa pamit, lalu malam-malam begini baru muncul.”
Listy melirik jam di pergelangan tangannya. “Baru juga jam delapan malam, Tirta. Ehem, jangan-jangan kamu rindu ya sama aku?”
Tirta mengernyitkan dahi, pura-pura pasang muka masam. “Iya, rindu ingin melempar kamarmu pakai sandal jepit.”
“Ciye, ngaku saja tidak apa-apa kok,” goda Listy sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu tertawa lepas. “Eh, tapi aku butuh bantuanmu sekarang.”
“Bantuan apa?”
“Barang-barang dari kosan aku yang lama sudah dipindahkan ke kamar ini. Tolong bantu aku menata ruangannya ya?”
“Kapan?”
“Sekarang juga,” tanpa menunggu persetujuan, Listy langsung menyambar pergelangan tangan Tirta dan menariknya kuat-kuat menuju kamar nomor dua puluh empat.
Kondisi di dalam ruangan ternyata memang sudah berubah. Beberapa perabot baru yang belum pernah Tirta lihat sebelumnya tampak menumpuk acak-acakan di sudut ruangan. Setelah sempat beradu argumen sengit antara kalimat ‘besok pagi saja’ dan ‘harus sekarang’, Tirta akhirnya menyerah. Malam yang dingin itu mereka habiskan dengan menggeser lemari, menyapu debu, dan ditutup dengan acara menyantap mi ayam bersama di bawah temaram lampu kamar.
“Woi, Tir! Bangun, woi!” Sebuah teriakan melengking merobek gendang telinga Tirta di pagi hari yang cerah.
“Siapa sih? Mengganggu orang tidur saja,” gerutu Tirta, menarik selimutnya lebih tinggi untuk menutupi kepala dari serbuan cahaya matahari.
“Ya ampun, anak ini susah sekali dibangunkan!” Suara melengking itu jelas bukan milik Jaka. Itu suara perempuan. Tirta merasakan bahunya diguncang-guncang dengan bertenaga. “Kamu kan sudah janji semalam mau membantu aku merapikan sisa barang? Bangun sekarang!”
Tirta memilih diam, berpura-pura menjadi mati di balik kain selimut.
“Benar-benar mirip kerbau kalau sudah tidur!”
“Nanti saja kalau matahari sudah di atas kepala,” sahut Tirta malas, posisinya tidak bergeser satu senti pun.
“Harus sekarang!” Listy mulai merengek, suaranya berubah manja yang menjengkelkan. “Nanti siang aku ada jadwal kuliah di kampus.”
“Kalau begitu kuliahnya digeser saja ke subuh, biar siangnya kita bisa beres-beres kamar,” balas Tirta asal, masih enggan membuka mata.
“Enak saja bicara. Memangnya aku ini rektor yang bisa mengacak-acak jadwal kuliah?”
“Ambil cuti saja kalau begitu.”
“Lama-lama kamu ini menyebalkan ya. Cepat bangun! Kalau tidak, kasurmu ini aku bakar sekarang juga!”
“Bakar saja, aku tidak peduli.”
“Tirrrtataaa!” Guncangan di bahu Tirta berubah menjadi guncangan hebat yang membuat badannya terguncang keras. “B-A-N-G-U-N!”
“Iya, iya, aku bangun!” Tirta menyibakkan selimutnya dengan kasar, duduk dengan rambut yang acak-acakan mirip sarang burung.
“Nah, begitu dong,” seru Listy riang, wajahnya langsung cerah. “Janji itu adalah utang, harus dibayar tuntas.”
Namun, belum sempat Listy menyelesaikan kalimatnya, tubuh Tirta kembali ambruk ke atas bantal. Matanya terpejam lagi dalam hitungan detik.
“Lho, malah tidur lagi!” gerutu Listy, langkah kakinya mendekat ke tepi ranjang. “Ayo bangun!”
Tirta membalikkan badan memunggungi perempuan itu. Rasa kantuknya masih terlalu berat untuk dilawan. Tak lama kemudian, dia merasakan pipinya ditepuk-tepuk dengan telapak tangan yang halus.
“Bangun, Tirta. Dua jam lagi aku sudah harus sampai di dalam ruang kelas.”
Tirta mengabaikan tepukan itu. Namun, perlahan tepukan di pipinya berubah ritme menjadi lebih bertenaga. Sialan, ini bukan lagi tepukan, melainkan tamparan-tamparan kecil yang berulang.
“Sakit, Listy!” Tirta melompat duduk, matanya terbuka lebar seketika. Tangannya sibuk mengusap pipi kanannya yang mendadak panas dan memerah.
“Hehehe,” Listy malah nyengir lebar tanpa memperlihatkan secuil pun rasa bersalah di wajah cantiknya. “Makanya cepat melek. Itu di atas meja sudah aku buatkan teh manis hangat untukmu.”
“Lain kali membangunkan orang tidak perlu pakai kekerasan fisik begini,” protes Tirta ketus.
“Iya, maaf. Habisnya kamu bebal sekali kalau tidur. Terpaksa aku memakai jalur militer.” Listy menjulurkan lidahnya. “Sudah, cepat basuh mukamu sana. Wajahmu jelek sekali kalau baru bangun tidur.”
Sembari menggerutu tiada henti, Tirta menyeret langkahnya ke kamar mandi. Sabtu pagi yang seharusnya menjadi surga untuk bermalas-malasan terpaksa tumbang demi selembar janji yang telanjur terucap semalam.
Dua malam yang lalu, Listy memang baru memindahkan sisa barang dari tempat kos lamanya. Tirta baru mengetahui fakta bahwa selama ini Listy menyewa dua kamar kos sekaligus. Satu di bangunan ini, dan satu lagi di daerah Mahoni. Alasan perempuan itu sederhana saja: dia sering bolak-balik karena mudah didera rasa bosan di satu tempat. Selama proses berbenah itu, Tirta dengan sengaja tidak pernah mengungkit atau mempertanyakan bekas-bekas luka sayatan di kaki Listy. Dia khawatir pertanyaan sensitif itu akan merusak suasana hati Listy dan memicu kambuhnya dorongan ekstrem perempuan itu untuk kembali melukai diri sendiri. Tirta memilih bersikap seolah Listy adalah perempuan normal pada umumnya.
Dan sejauh ini, Listy memang tampak sangat normal. Sebagai teman bicara, isi kepalanya sangat nyambung dan menyenangkan. Hanya saja, ada momen-momen tertentu di mana Listy tiba-tiba terlempar ke dalam lamunan yang sangat dalam, menatap kosong ke satu titik selama berjam-jam seolah jiwanya sedang bertualang ke dimensi lain.
“Tirta, cepat kesini!” panggil Listy dari dalam kamar nomor dua puluh empat.
“Ada barang yang perlu aku hancurkan?” Tirta melangkah masuk. Ruangan itu masih sama, remang-remang dengan bohlam lampu kuning berdaya rendah yang membuat suasana terkesan temaram sejak awal.
“Menurutmu, posisi kasur ini bagusnya diletakkan di sudut mana?” Listy berdiri di samping gulungan kasur busa yang baru dipindahkan.
“Di mana saja boleh, asal jangan kamu gelar di dalam kamar mandi,” komentar Tirta asal.
Listy langsung menghujamkan tatapan mata yang tajam, seolah berkata: aku sedang bertanya serius, jangan main-main!
“Di sebelah situ saja, dekat lemari pakaian,” Tirta menunjuk sudut yang dimaksud dengan jempolnya.
“Ya sudah, ayo tolong gelarkan kasurnya sekarang,” Listy melangkah mundur memberi ruang.
“Kenapa harus aku? Tangan dan kakimu kan masih berfungsi dengan baik?” Tirta memprotes.
“Kenapa harus kamu? Karena kamu sudah berjanji membantuku hari ini.”
“Aku berjanji membantu, Nona, bukan mendaftar menjadi pembantu pribadimu.”
“Sama saja, tidak usah banyak protes. Buruan kerjakan,” Listy mendorong punggung Tirta mendekati gulungan kasur.
“Huh, ini namanya kerja paksa zaman Jepang,” omel Tirta, namun tangannya tetap bergerak lincah membentangkan kasur busa itu ke posisi yang tepat.
Kamar Listy kini terasa jauh lebih padat. Ada tambahan dispenser air, galon, lemari pakaian berukuran kecil, serta beberapa tumpukan piring dan gelas plastik di atas meja sudut. Sebuah tas punggung hitam besar tergeletak begitu saja di dekat pintu, ditemani beberapa buku tebal yang berserakan di lantai semen. Tugas Tirta pagi itu bertambah drastis: menyapu lantai, mengepel hingga mengilat, dan membersihkan kamar mandi sampai bersih dari kerak, sementara Listy hanya duduk manis di atas kursi sambil mengawasi kinerjanya dengan senyum puas.
“Oke, semua sudah rapi dan bersih. Aku berangkat kuliah dulu ya,” pamit Listy santai sembari memasukkan beberapa buku ke dalam tas punggungnya. “Sudah jam sembilan lewat ini.”
Tirta hanya bisa melongo menatap pemandangan di depannya dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Benar-benar keterlaluan perempuan ini. Setelah memaksanya bangun pagi dan memeras tenaganya sampai lemas, dia melenggang pergi begitu saja tanpa beban.
“Terima kasih banyak ya sudah bersedia menjadi kuli dadakan pagi ini. Aku berangkat dulu!” Listy melambaikan tangan, melangkah anggun keluar melewati pintu kamar.
“Tunggu sebentar,” Tirta menahannya di batas selasar.
“Ada apa lagi?”
“Kamu mau pergi begitu saja setelah membuat badanku remuk semua?”
Listy tersenyum manis, jenis senyuman tulus yang sempat Tirta kagumi beberapa waktu lalu. “Kan agenda hari ini memang hanya membersihkan kamar, Tirta. Ingat, utang janji sudah lunas ya.”
“Ya sudah, cepat berangkat sana,” kata Tirta akhirnya, tidak tega merusak suasana hati perempuan itu.
“Daaah!” Listy bergegas menuruni anak tangga dengan langkah ringan.
Tirta hanya bisa mengumpat dalam hati, meratapi nasib pipi dan otot-otot badannya yang pegal. Dia menutup pintu kamar Listy dan melangkah kembali ke kamarnya sendiri, berniat melanjutkan ritual tidur yang sempat terpotong.
Tadinya Tirta mengira dia baru akan terbangun seribu tahun lagi setelah mendapat kecupan dari seorang putri dongeng, namun baru setengah jam matanya terpejam, suara bising dari selasar luar kembali mengusik ketenangannya. Udara kamar yang mendadak terasa pengap juga membuat dadanya sesak. Dengan rambut acak-acakan dan muka bantal yang kusut, dia berjalan keluar lalu duduk bersandar pada tembok balkon.
Jaka tampak sedang duduk di depan pintu kamarnya, sementara Pak Haji, sang pemilik kos, sedang asyik berbincang dengan seorang pria asing di depan pintu kamar nomor dua puluh. Kamar itu sudah kosong selama dua bulan sejak ditinggalkan oleh penghuni lamanya. Pria asing itu tampaknya akan menjadi tetangga baru mereka. Penampilannya cukup mencolok: rambut ikal berantakan, kumis dan jenggot yang tumbuh lebat, serta kacamata berbingkai tebal yang menyembunyikan sebagian besar ekspresi wajahnya.
“Siapa itu, Jak?” tanya Tirta mendekati Jaka yang sedang memperhatikan dari kejauhan.
“Penghuni baru,” jawab Jaka pelan sembari menggeser posisi duduknya. “Dia mengambil alih kamar yang dulu ditempati Mas Harjo.”
“Kosan ini akan tetap sepi seperti kuburan, Jak. Lihat saja dua kamar di seberang kita itu, penghuninya nggak pernah keluar atau sekadar menyapa kita. Nggak punya kehidupan sosial sepertinya.”
“Mereka semua sibuk kerja, Tir. Wajar saja, buru pabrik otomotif besar begitu pasti jam lemburannya gila-gilaan,” Jaka mengambil sebatang rokok dari saku celana lalu menyulutnya dengan korek api gas. “Kadang gue suka iri melihat mereka, gajinya pasti besar dan mengalir lancar setiap bulan.”
“Tapi imbalannya lo harus merelakan seluruh waktu lo habis di dalam pabrik seperti mereka. Lo mau?”
“Kalau hari Sabtu dan Minggu tetap bisa libur sih, gue nggak keberatan. Yang penting dompet tebal.”
“Sudahlah, syukuri saja apa yang ada sekarang, Jak.”
Jaka tertawa kecil. “Iya juga sih, bisa mendapat pekerjaan di kawasan Karangwangsa ini saja sudah mukjizat. Teman-teman satu angkatan gue di kampung masih banyak yang luntang-lantung nggak jelas.”
“Gue juga merasa beruntung bisa terdampar di sini. Di kota kelahiran gue di pedalaman Kalimantan, lapangan kerja nggak seluas di pulau Jawa. Makanya sejak lulus sekolah dulu, tekad gue sudah bulat untuk merantau jauh dari orang tua, yang penting hari raya bisa pulang membawa uang.”
Jaka melirik Tirta dengan pandangan usil. “Eh, omong-omong, pacar baru lo itu asli mana?”
“Pacar yang mana?” Tirta mengernyitkan dahi.
“Itu, gebetan baru lo yang hobi melukai diri sendiri, si Listy. Anak mana dia?”
“Bujang inam! Sejak kapan gue jadian dengan perempuan aneh itu?”
“Tapi pengamatan gue melihat kalian berdua belakangan ini semakin lengket saja.”
“Dekat bukan berarti harus ada ikatan status, Jaka.”
“Ya, siapa tahu nanti keadaan berubah lalu kalian berdua jadian benaran.”
Tirta tertawa hambar, ada rasa perih yang mendadak menyengat dadanya kembali. “Gue masih terlalu sayang dengan Nadya, Jak. Susah sekali menghapus namanya dari kepala gue.”
“Aduh, mulai lagi membahas masa lalu,” Jaka menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan ekspresi bosan. “Kenapa lo bisa sesentimental ini, Tir?”
“Orang yang ditinggal pergi selamanya oleh kekasih itu beda rasanya, Jak. Lo belum pernah berada di posisi gue, jadi tidak akan mengerti.”
“Gue memang tidak pernah ditinggal mati oleh pacar, tapi kalau urusan kehilangan, gue paham betul perasaannya. Sejak SMP gue sudah ditinggal pergi oleh ayah gue untuk selamanya. Setidaknya gue tahu rasanya ditinggal mati oleh orang yang kita sayangi.” Jaka menepuk bahu Tirta, mencoba memberi kekuatan moral.
“Sudahlah, jangan membahas topik suram ini lagi,” Tirta menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang kaku. Di ujung selasar, Pak Haji dan pria berjanggut lebat itu tampak mulai melangkah menuruni tangga. Dari potongan obrolan yang sempat tertangkap telinga, tampaknya kesepakatan harga sewa sudah tercapai dan sang penghuni baru akan segera menempati kamar nomor dua puluh dalam waktu dekat.
“Gue mau lanjut tidur dulu ya, Tir. Sejak pulang kerja shift malam tadi mata gue belum terpejam sama sekali. Mumpung hari libur, gue mau memuaskan hasrat tidur seharian,” pamit Jaka sebelum menghilang di balik pintu kamarnya.
Tirta kembali didera kesendirian di atas balkon. Iseng, langkah kakinya bergerak menuju kamar Listy yang pintunya tidak dikunci. Pemiliknya pasti masih terjebak di dalam ruang kuliah, mengingat dia baru berangkat satu jam yang lalu. Tirta mendorong pintu, melangkah masuk ke dalam ruangan yang remang-remang. Dia berdiri sejenak mengagumi hasil kerja kerasnya menyapu dan mengepel tadi, lalu mendaratkan pantatnya di tepi kasur busa milik Listy.
Tirta heran kenapa Listy sangat menyukai atmosfer ruangan yang gelap dan suram begini. Dia pernah menyarankan agar bohlam kuning itu diganti dengan lampu neon putih yang lebih terang, namun Listy menolak mentah-mentah dengan alasan kenyamanan mata. Pandangan Tirta kemudian beralih pada lemari kecil di sudut kamar. Dia ingat betul saat membantu merapikan pakaian semalam, isi lemari itu didominasi oleh rentengan stoking hitam yang biasa dipakai Listy sehari-hari. Perempuan ini benar-benar menyimpan banyak misteri yang tidak terjangkau oleh logika Tirta.
Mata Tirta mendadak terpaku pada tumpukan buku tebal yang terletak di samping dispenser. Muncul rasa penasaran di kepalanya tentang apa saja yang dipelajari oleh mahasiswa jurusan Teknik Sipil selama perkuliahan. Dia mengambil buku tulis besar yang berada di tumpukan paling atas. Saat halaman pertama dibuka, selembar potongan kertas berwarna abu-abu mendadak terjatuh ke lantai.
Tirta memungut kertas kecil itu. Ternyata itu adalah potongan dari selembar halaman surat kabar lama. Namun, bukan koran lokal berbahasa Indonesia, melainkan surat kabar asing berbahasa Inggris. Di bagian atas potongan kertas itu tercetak judul besar: “Children of God“. Di bawah judul, terpampang foto seorang pria asing berusia senja dengan janggut putih panjang yang lebat.
“Hebat juga perempuan ini, bacaannya koran bahasa Inggris,” gumam Tirta dengan senyum tipis.
Dia mengembalikan potongan kertas itu ke selipan halaman semula, tidak ingin merusak tatanan barang milik Listy yang bisa memicu kecurigaan. Namun, saat dia membuka halaman ketiga buku tersebut, dia kembali menemukan potongan artikel koran lain yang ditempel rapi dengan perekat. Buku tulis ini ternyata berfungsi sebagai buku kliping. Anehnya, Tirta kembali menemukan frasa “Children of God” tercetak jelas pada judul artikel kedua tersebut. Beberapa foto di dalam kliping menampilkan kumpulan orang yang sedang melakukan ritual penyembahan di dalam sebuah ruangan besar dengan jendela kaca mozaik berukir, mirip interior sebuah gereja kuno.
Pada halaman berikutnya, Tirta menemukan sebuah artikel berbahasa Indonesia dengan judul yang cukup mencolok: “Anak-Anak Tuhan Mulai Masuk ke Indonesia”. Foto pria tua berjanggut putih panjang itu kembali muncul sebagai ilustrasi pelengkap artikel. Di bawah foto tersebut tercetak sebaris teks penjelasan singkat: “David Berg, pendiri Children Of God“. Tirta membalik halaman lagi dan menemukan artikel lain berjudul “The Family Was Exist“.
Kemampuan bahasa Inggris Tirta yang pas-pasan memaksanya membaca kalimat demi kalimat dalam artikel itu hingga empat sampai lima kali secara berulang, mencoba merangkai arti dari deretan kosakata asing tersebut. Namun, dia tetap tidak bisa menangkap makna utuh dari isi tulisan itu. Pandangan matanya kemudian jatuh pada sebuah majalah asing yang tergeletak di bawah tumpukan buku. Wajah pria tua berjanggut putih itu kembali menghiasi halaman sampul depan majalah tersebut, lengkap dengan tajuk utama yang dicetak tebal: “Children of God“.
Tirta tidak memahami seluruh isi artikel di dalamnya, namun ada satu kutipan kalimat dalam bahasa Inggris yang menarik perhatiannya karena dicetak berulang kali di beberapa halaman berbeda:
In the quietness of your chamber when you’re alone, you can tell Me you love Me and you can show Me you love Me. For this intimate and special way of loving Me…
Arti dari kalimat itu tidak terlalu dipedulikan oleh Tirta, lagipula dia sendiri bukan tipe orang yang hobi membaca buku, apalagi membaca literatur aneh dengan topik yang tidak biasa seperti ini.
Tirta menutup majalah tersebut dan mengembalikannya ke posisi semula di bawah tumpukan buku. Isi dari artikel-artikel koleksi Listy benar-benar berada di luar jangkauan pemahamannya. Selera bacaan yang sangat ganjil untuk seorang mahasiswi Teknik Sipil. Kenyataan ini membuat Tirta semakin yakin bahwa perempuan yang tinggal di kamar sebelah ini memang menyimpan sisi misterius yang sangat dalam.