Rakhine kini berubah menjadi jagal besar. Empat ratus nyawa hilang dalam sekejap, angka yang terus bertambah seiring asap hitam membumbung dari rumah-rumah yang terbakar. Militer Myanmar bergerak dengan ritme yang teratur, melakukan apa yang mereka sebut operasi pembersihan etnik. Bahasa birokrasi yang dingin untuk menutupi aksi pembantaian sistematis terhadap perempuan, anak kecil, dan orang tua yang tidak memiliki senjata untuk melawan.
Tujuh puluh tiga ribu manusia kehilangan tempat berteduh. Mereka berlari menembus batas negara dengan ketakutan yang menempel di tulang punggung.
Semua ini bermula dari percikan api kecil. Gerilyawan menyerang pos keamanan, lalu dibalas dengan napalm dan peluru yang tidak membedakan mana pemberontak dan mana pengungsi. Negara yang mengaku menjunjung tinggi nilai ajaran perdamaian kini tampak seolah sedang berpesta di atas genangan darah. Tidak ada ruang bagi nurani ketika senapan sudah berbicara.
Paus Fransiskus bersuara. Penerima Hadiah Nobel Perdamaian di seluruh penjuru bumi mengirimkan seruan. Myanmar bergeming. Mereka menulikan telinga seolah suara dunia hanyalah dengung nyamuk di musim kemarau.
Aung San Suu Kyi menjadi potret paling mengenaskan dalam sejarah modern. Dia adalah penerima Hadiah Nobel yang memilih bungkam, seolah dia sedang menonton film bisu di ruang kerjanya yang mewah. Dia membiarkan negerinya menjadi kuburan massal bagi mereka yang dianggap tidak layak menghuni tanah itu. Kekuasaan memang memiliki daya pikat yang mampu melumpuhkan akal sehat, membuat seorang ikon demokrasi berubah menjadi patung batu yang tak berjiwa.
Dunia internasional berhimpun. PBB, ASEAN, serta organisasi lainnya mengeluarkan kecaman yang tertulis di atas kertas putih.
Kertas-kertas itu sering kali berakhir di tumpukan dokumen yang tidak terbaca. Tekanan harus lebih keras, lebih nyata, lebih tajam. Jika kecaman hanya menjadi barisan kata di media sosial, maka pembantaian akan berlanjut sampai tidak ada lagi manusia tersisa di Rakhine.
Presiden Indonesia mengirim utusan. Retno Marsudi berangkat menemui para jenderal dan diplomat di Myanmar. Langkah yang layak diapresiasi, setidaknya untuk menunjukkan bahwa kita punya detak jantung sebagai tetangga yang peduli. Namun, diplomasi di meja makan sering kali kalah telak di hadapan jenderal yang sudah terlanjur mabuk kekuasaan.
Tragedi ini menampar wajah kita. Kita adalah tetangga yang melihat rumah sebelah terbakar namun hanya sanggup berteriak dari balik pagar.
Mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri tentang arti kemanusiaan yang sebenarnya. Apakah kita membiarkannya berakhir hanya dengan berita di layar televisi, atau kita menuntut Myanmar berhenti sebelum semua penduduk Rohingya menjadi catatan kaki dalam buku sejarah yang ditulis oleh para pemenang yang haus darah. Tragedi di Rakhine bukanlah cerita tentang negeri nun jauh di sana. Ini tentang nasib kita sebagai sesama penghuni bumi yang masih memiliki sisa-sisa rasa malu.