SMS Pamitan Kekasih

Gedoran bertalu-talu menghantam daun pintu kayu kamar Tirta, merobek sisa kantuk yang belum sempat genap tiga jam. Suara kayu berderit keras, seolah engsel besinya mau lepas dari kusen kalau Tirta tidak segera beranjak dari kasur busa.

“Sabar, Jaka! Rusak pintu orang!” teriak Tirta sembari menyeret langkah, membuka grendel pintu dengan gusar.

Jaka berdiri di ambang pintu dengan nafas memburu. Wajahnya pucat, tidak mencerminkan raut jenaka yang biasanya menempel di kepala buruh pabrik asal tanah seberang itu.

“Buruan pakai baju rapi. Kita pergi sekarang,” cetus Jaka tanpa basa-basi.

“Ada urusan apa sepagi ini? Ini bahkan kamar kos lo sendiri, kenapa lo yang panik?”

“Ponsel lo mana? SMS gue masuk nggak?” Jaka merangsek masuk, menunjuk telepon genggam layar monokrom milik Tirta yang masih tertancap di kabel pengisi daya dekat dispenser.

Tirta melangkah lambat, mencabut kabel lalu menyalakan layar kecil berwarna biru itu. Sebuah pemberitahuan berkedip, memori pesan penuh. Jemarinya menghapus beberapa baris pesan lama secara acak sampai ruang penyimpanan kosong. Detik berikutnya, sebuah pesan singkat dari nomor Jaka melesat masuk ke kotak pesan.

Nadya kecelakaan. Sekarang di Rumah Sakit Asih Medika. Cepat ke sini.

“Lo lagi bercanda, kan?” Tirta menatap Jaka, berharap menemukan binar usil di mata sahabatnya. Tubuhnya mendadak tegang, darahnya seakan berhenti mengalir ke ujung-ujung jari.

“Gue tahu kapan harus melawak, Tir. Ini urusan nyawa. Semalam kakaknya Nadya menelepon gue karena tahu gue teman dekatnya di Karangwangsa. Mereka bingung harus menghubungi siapa lagi,” Jaka mencengkeram bahu Tirta, memberikan tekanan yang nyata.

“Bagaimana kondisinya sekarang? Dia baik-baik saja, kan?”

Jaka menarik nafas dalam, berat sekali rasanya. “Parah, Tir. Kepalanya benturan hebat, pendarahan di dalam. Kakaknya menangis terus di telepon.”

“Bagaimana bisa? Semalam dia…” Kalimat Tirta menggantung di udara, teringat aroma lumpur basah yang sempat mampir di hidungnya beberapa jam lalu.

“Dia mau menyeberang ke minimarket depan perumahan, lalu ada motor melaju kencang dari arah kanan. Ditabrak langsung di tempat, penabraknya kabur bajingan,” suara Jaka meninggi, menahan geram yang tertahan di tenggorokan.

Tirta terduduk di tepi kasur. Kakinya mendadak lemas. Realitas di depannya runtuh tanpa sempat dia pasang fondasi. Kehangatan pelukan semalam, wewangian tanah basah, dan pertanyaan aneh tentang bintang di langit selatan mendadak saling rajut menjadi satu sebuah teka-teki yang mengerikan.

“Ayo berangkat, kita lihat langsung ke sana,” Jaka menarik lengan Tirta agar bangkit.

Saat berjalan keluar meniti koridor lantai tiga, Tirta memperhatikan langkah Jaka yang agak pincang dan tertatih. “Kaki lo kenapa, Jak?”

“Tiga hari lalu kena hantam plat besi di lini produksi. Belum sembuh benar,” jawab Jaka singkat sembari terus melangkah turun. “Lo yang bawa motor ya. Motor Supra hitam gue lagi turun mesin di bengkel depan, kita pakai motor bebek punya pacarnya Pak RT, gue pinjam tadi subuh.”

Matahari baru berupa garis jingga tipis di ufuk timur saat motor bebek itu melaju kencang membelah kabut pagi Karangwangsa. Angin dingin menusuk jaket parka Tirta, tetapi rasa dingin itu kalah telak oleh debar ketakutan yang berkecamuk di dadanya. Dia memacu kendaraan tanpa peduli lubang jalan, hanya ada satu nama yang berputar di kepalanya: Nadya.

Lorong Rumah Sakit Asih Medika terasa begitu panjang dan berbau obat-obatan yang menyengat hidung. Bau kematian. Tirta berdiri mematung di selasar ruang jenazah, menatap sebuah mobil ambulans yang perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah sakit, membawa jasad yang sudah terbujur kaku di dalamnya.

“Sabar, Tir. Ikhlaskan,” Jaka menepuk punggung Tirta, menahan suaranya sendiri agar tidak pecah.

Air mata Tirta jatuh tanpa suara, membasahi lantai ubin rumah sakit yang putih bersih. Waktu seolah berhenti bergerak. Segala rencana masa depan, obrolan tentang rumah kecil di pinggir kota, dan tawa renyah Nadya menguap bersama kepulan asap knalpot ambulans yang kian menjauh.

Tim dokter menyatakan menyerah tepat setengah jam setelah Tirta tiba. Pendarahan hebat di kepala tidak memberi kesempatan bagi Nadya untuk bertahan lebih lama. Pihak keluarga memutuskan membawa jasadnya pulang ke Surabaya hari itu juga menggunakan jalur darat.

“Ini nggak masuk akal, Jak!” Tirta mendadak berbalik, menatap Jaka dengan mata merah menyala. “Nadya semalam ke kosan kita! Dia berdiri di selasar, gue memeluk dia di sana! Kita ngobrol!”

“Tir, dengar gue,” Jaka memegang kedua lengan Tirta, mencoba menenangkan. “Nadya tertabrak jam delapan malam. Jam setengah sembilan dia sudah masuk ruang gawat darurat dalam kondisi nggak sadar. Lo lihat sendiri dokumen medisnya tadi.”

“Lalu yang semalam memeluk gue siapa, Jaka?!” suara Tirta melengking, memecah kesunyian lorong rumah sakit. “Tangan yang gue genggam itu dingin! Lo mau bilang kalau itu makhluk halus penunggu kamar seberang?! Dia bicara sama gue!”

Jaka diam, tidak berani membantah atau membenarkan. Dia tahu logika Tirta sedang hancur lebur dihantam kenyataan.

“Gue tahu Nadya sayang sekali sama lo, Tir. Dia sering cerita ke gue kalau dia pingin lo jadi pelabuhan terakhirnya,” kata Jaka lirih. “Gue tidak tahu yang semalam itu apa. Tapi mungkin, Nadya cuma ingin pamit ke orang yang paling dia sayang sebelum benar-benar pergi.”

Tirta teringat pesan singkat terakhir di ponselnya. Pesan yang berbunyi: Aku pulang duluan ya, Tir…

Dia merogoh kantong celana dengan gemetar, menyalakan ponsel monokromnya. Namun, jemarinya membeku saat menyadari bahwa seluruh kotak masuk telah dia hapus bersih tadi subuh sebelum berangkat ke rumah sakit. Bukti satu-satunya tentang kehadiran Nadya semalam telah lenyap, bersih tanpa sisa, menyisakan kekosongan yang mengerikan di kepalanya. Pandangan Tirta mendadak kabur, warna biru dari layar ponselnya perlahan memudar berganti kegelapan pekat yang membawanya tumbang ke lantai semen.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(