Pelukan Misterius Nadya

Dunia Tirta menyempit sejak Nadya datang membawa keriuhan baru. Lelaki itu seakan menemukan jangkar di tengah gersangnya kota industri Karangwangsa. Hari-hari bergulir tanpa jeda yang jelas. Kalau bukan Nadya yang meringkuk di kasur busa kamar Tirta, maka Tirta yang akan menggelar tikar di lantai kosan Nadya. Kebetulan mereka berdua sama-sama mendapat posisi non-shift di kantor. Jam kerja mereka lurus, berangkat pagi pulang sore, sebuah kemewahan bagi buruh kasar di kawasan industri yang biasanya terombang-ambing oleh jadwal kerja malam.

Sebagai sepasang manusia yang sedang mabuk kepayang, lembur bukan lagi prioritas. Beberapa kali kepala bagian umum menawari Tirta uang lemburan tambahan untuk merapikan berkas gudang di akhir pekan. Tirta menolak tanpa berkedip. Baginya, upah bulanan tanpa uang lembur sudah lebih dari cukup untuk sekadar membeli rokok kretek dan semangkuk bakso urat. Nadya juga bukan perempuan penuntut yang gemar menguras dompet lelaki. Sering kali justru Nadya yang mengeluarkan lembaran uang dari dompetnya sendiri untuk membayar sepiring mie goreng di pinggir jalan.

“Kamu keseringan menghilang sekarang, Tir,” ujar Jaka suatu sore di gerbang bawah rumah sewa, memergoki Tirta yang baru turun dari boncengan motor sewaan.

Tirta cuma nyengir, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Sudah resmi, Jak. Gue sudah jadian sama Nadya.”

Jaka terbahak, suara tawanya memantul di antara pilar-pilar beton jemuran. “Heh, ingat pesan gue, jangan macam-macam dulu!”

“Sudah telanjur,” sahut Tirta asal, membuat tawa Jaka makin meledak.

Sejak saat itu, Tirta menjadi tamu asing di kamarnya sendiri. Jaka yang mendapat giliran kerja shift malam membuat mereka berdua semakin jarang bertatap muka. Hari libur Tirta habis di bawah rindangnya pohon beringin alun-alun Kota Karangwangsa, duduk berdampingan dengan Nadya sembari memperhatikan pedagang asongan yang menjajakan rupa-rupa mainan plastik.

Memasuki bulan keempatnya mengadu nasib di kota ini, Tirta menyisihkan sebagian gaji untuk menebus sebuah telepon genggam mungil berlayar monokrom dengan lampu latar biru menyala. Benda itu tergolong mewah pada masanya. Nada dering polifonik yang cempreng menjadi penanda kasta baru dalam pergaulan buruh urban.

Perlahan, selera hidup Tirta yang semula seadanya mulai bergeser. Uang di dompet terasa lebih ringan untuk dihamburkan. Jiwa mudanya bergolak, merasa berada di puncak dunia karena memiliki pekerjaan tetap dan seorang kekasih yang setia. Kadang, malam-malam di kosan Nadya dihabiskan dengan menenggak beberapa botol bir murah hingga pandangan mereka berdua berputar-putar menatap langit-langit kamar yang pengap.

Enam bulan sudah Tirta menetap di Karangwangsa. Kamar kosnya di lantai atas lebih sering kosong dan berdebu, tetapi dia enggan pindah. Jaka adalah alasan utamanya bertahan. Di kota yang asing dan keras ini, Jaka menjadi satu-satunya kawan yang bisa diandalkan untuk urusan pinjam-meminjam uang di akhir bulan saat dompet Tirta mendadak kempes.

Genap dua minggu berturut-turut Tirta tidak menginjakkan kaki di rumah sewa itu. Kerinduan pada sudut kamar yang sempit, pada petikan gitar akustik, mendadak membuncah setelah penat dihajar tumpukan laporan kantor. Selepas jam pulang pabrik, Tirta mengirim pesan singkat ke ponsel Nadya, mengabarkan bahwa malam ini dia ingin pulang ke kosannya sendiri.

“Wah, sang petualang akhirnya pulang juga,” tegur Jaka saat berpapasan di gerbang bawah. Lelaki itu sedang memegang setrikaan listrik yang kabelnya melingkar mirip ular mati. “Masih ingat jalan pulang ternyata.”

“Kangen kamar sendiri, Jak. Pingin memetik gitar lagi. Itu setrikaan kenapa?”

“Eror. Ini baru meminjam punya anak kamar bawah,” sahut Jaka sembari melangkah meniti anak tangga semen yang permukaannya mulai mengelupas.

Langkah kaki mereka berdentum di koridor lantai atas. Tirta memandang berkeliling, merasakan keakraban yang sempat memudar dari dinding-dinding kusam rumah sewa ini. Namun, telinganya langsung berdenging begitu mendekati kamar Jaka. Suara musik berdentum keras dari speaker aktif.

“Kumat lagi kan lagu ginian,” protes Tirta.

“Habisnya lo jarang pulang. Sepi kalau nggak ada yang mengomel di koridor. Lagian, lo tahu sendiri gue malas ngobrol dengan tetangga kamar lain,” Jaka meletakkan setrikaan di lantai, lalu duduk selonjoran di selasar.

Tirta ikut duduk di tembok pembatas. Tatapannya langsung tertuju pada pintu kayu di seberang kamarnya. Kamar nomor dua puluh empat. Rasa penasaran yang sempat terkubur oleh asmara bersama Nadya mendadak bangkit kembali. Wanita itu, sosok misterius berstoking hitam, seolah menguap dari kepalanya selama beberapa bulan terakhir.

“Eh, Jak, kamar seberang itu masih ada orangnya?” Tirta menunjuk dengan dagu.

Jaka menghentikan ketukan jarinya di lutut. “Entahlah, gue jarang melihat dia keluar masuk. Tapi beberapa kali gue yakin dia ada di dalam.”

“Masih pakai stoking hitam?”

Jaka mengangguk pasti. “Menurutmu, dia itu manusia atau makhluk halus, Tir?”

“Manusia, Jak. Mana ada makhluk halus hobi pakai stoking di cuaca segerah ini.”

“Ya, siapa tahu setannya sedang meriang,” seloroh Jaka, membuat Tirta terkekeh.

Rasa penasaran itu kembali menjalar, menggelitik saraf-saraf di kepala Tirta. Pertemuan terakhir mereka adalah malam penuh keanehan saat perempuan itu ikut menyanyikan bait lagu Jamrud dari kegelapan selasar. Setelah itu, dia seperti hilang ditelan bumi. Atau mungkin Tirta sendiri yang terlalu sibuk melenyapkan diri dalam pelukan Nadya.

Malam semakin larut saat Jaka berpamitan untuk berangkat kerja shift malam. Tirta kini sendirian di selasar, memeluk gitar akustik milik temannya. Dia menyetem senar satu per satu, sengaja memetik nada-nada awal dari lagu yang sama dengan malam itu, berharap pintu di seberangnya terbuka.

Satu petikan intro baru saja mengalun, ketika sebuah suara dari arah belakang ikut menyanyikan liriknya. Suara itu rendah, akrab di telinga Tirta, namun ada yang ganjil. Cara menekankan nadanya berbeda, tidak sekaku biasanya.

Tirta menoleh cepat, siap mendapati sosok misterius berstoking hitam.

Namun, jantungnya nyaris copot. Yang berdiri di sana adalah Nadya. Perempuan itu tegak mematung di kegelapan selasar dengan tatapan lurus yang tidak biasa.

“Kamu bikin kaget saja, Nad,” Tirta menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debar dadanya. “Kenapa ke sini tidak memberi kabar dulu?”

Nadya tidak menjawab. Dia hanya mengulas senyum simpul, sangat tipis, hanya sudut bibir sebelah kanannya yang terangkat. Itu bukan cara Nadya tersenyum yang biasa Tirta lihat di Alun-alun kota.

“Kamu kenapa? Kok cemberut begitu?” Tirta meletakkan gitar, mendekati kekasihnya.

Nadya menggeleng perlahan, matanya tetap menatap kosong ke arah pagar selasar.

“Mau aku buatkan kopi hangat?”

Gelengan lagi.

“Lapar? Mau cari makan keluar?”

Tetap gelengan yang sama sebagai jawaban. Tirta menurunkan kakinya dari tembok pembatas, meraih jemari Nadya dan menggenggamnya. Kulit perempuan itu terasa sedingin es balok, membuat Tirta sedikit mengernyit. Hujan yang mengguyur Karangwangsa sejak sore memang menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang, pikir Tirta mencoba mencari pembenaran. Dia menarik tubuh Nadya ke dalam pelukannya, mencoba membagi kehangatan tubuhnya sendiri.

Saat dagunya bertumpu di pundak Nadya, hidung Tirta menangkap sesuatu. Ada aroma aneh yang menguar dari pakaian atau mungkin rambut perempuan itu. Bau lumpur basah yang pekat, mirip aroma tanah pemakaman yang baru diguyur hujan lebat. Tirta mengedarkan pandangan ke halaman bawah, melihat beberapa kubangan air cokelat sisa hujan tadi sore. Mungkin ujung celana Nadya sempat tepercik genangan air di jalan raya, pikirnya lagi.

Mereka berdua terdiam dalam pelukan di bawah langit malam yang pekat, bersih dari kerumunan bintang akibat sapuan awan hujan.

“Tir,” suara Nadya terdengar lirih di dada Tirta.

“Kenapa, Nad?”

“Lihat bintang di sebelah sana?” Nadya mengacungkan jari telunjuknya yang pucat ke arah selatan langit, menunjuk satu-satunya titik cahaya yang berhasil menembus kegelapan.

“Iya, aku lihat.”

“Kalau seandainya aku pergi dan menjadi bintang itu, apa kamu rela bolak-balik dari bumi ke langit cuma untuk menemui aku?”

Tirta mendengus geli, menganggapnya sebagai rengekan manja perempuan pada umumnya. “Tentu saja. Jangankan ke langit, ke ujung dunia pun bakal aku kejar.”

Nadya kembali bungkam, menyandarkan kepalanya di bahu Tirta dengan berat yang terasa ganjil. Tirta mempererat pelukannya, menikmati kesunyian yang perlahan merayap di antara mereka berdua.

Keheningan itu pecah saat suara dering ponsel cempreng milik Tirta berbunyi nyaring dari dalam kamar. Ponsel itu sedang diisi dayanya di atas meja dekat dispenser.

“Sebentar ya, Nad. Ada telepon masuk, aku angkat dulu,” Tirta melepas pelukannya, melangkah cepat masuk ke dalam kamar.

Panggilan itu dari ayahnya di kampung halaman, menanyakan kabar sekaligus membicarakan keperluan kiriman uang bulanan untuk adik-adiknya. Pembicaraan itu tidak lama, hanya sekitar sepuluh menit. Setelah mematikan sambungan telepon, Tirta kembali melangkah keluar ke selasar dengan senyum yang masih tersisa di wajahnya.

Namun, selasar itu kosong melompong.

“Nad? Di mana kamu?” Tirta berseru, matanya menyisir setiap sudut gelap koridor lantai tiga. “Jangan bercanda, Nad. Mau main petak umpet ya?”

Suaranya hanya memantul di dinding semen. Tidak ada tempat untuk bersembunyi di selasar yang lurus ini selain melompat ke bawah atau masuk ke kamar lain. Tirta menunggu beberapa menit di dekat pagar, namun sunyi tetap bertahan. Dia melongok ke halaman bawah, lalu turun tangga untuk bertanya pada beberapa buruh yang sedang merokok di teras bawah. Mereka semua menggeleng, terlalu asyik dengan urusan masing-masing untuk memperhatikan siapa yang keluar masuk gerbang. Tirta bahkan berjalan sampai ke warung kelontong di depan gang, namun sosok Nadya seolah menguap begitu saja di telan kegelapan malam Karangwangsa.

Dengan langkah gundah, Tirta kembali ke kamarnya di lantai atas. Begitu dia membuka pintu, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya, membuat layarnya menyala biru di kegelapan kamar.

Aku pulang duluan ya, Tir…

Tirta mengembuskan napas lega, membalas pesan itu dengan beberapa kalimat perhatian agar Nadya berhati-hati di jalan. Dia merebahkan tubuhnya di kasur busa, menatap jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Besok pagi dia harus bangun lebih awal untuk mengambil pakaian ganti yang tertinggal di kosan Nadya sebelum berangkat kerja.

Ketukan pelan di pintu kembali terdengar.

Tirta bangkit dengan malas, membuka pintu dan mendapati seorang lelaki tua penghuni kamar ujung, sebelah kamar Jaka, berdiri menenteng gitar akustik.

“Maaf mengganggu, Mas. Ini gitarnya tertinggal di atas tembok luar tadi. Takutnya hilang kalau dibiarkan sampai subuh,” kata lelaki tua itu ramah.

“Oh, iya, Pak. Tadi saya lupa memasukkannya setelah menerima telepon. Terima kasih banyak ya, Pak,” Tirta menerima gitar itu dengan dahi sedikit mengernyit, mencoba mengingat apakah dia benar-benar meninggalkan gitar itu di luar.

Setelah mengunci pintu rapat-rapat, Tirta kembali menenggelamkan tubuhnya di kasur. Malam itu, dia memilih memutar kaset lagu-lagu melankolis dari pemutar cakram di sudut ruangan. Musik mengalun rendah, mencoba mengusir sisa-sisa keganjilan yang merayap di benaknya.

Saat matanya terpejam, wajah perempuan berstoking hitam kembali melintas, berganti dengan senyuman tipis Nadya di bawah langit tanpa bintang. Tirta membiarkan badannya larut, menyerahkan seluruh sisa kesadarannya pada malam dingin Karangwangsa yang perlahan menutup cerita hari itu.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(