Waktu melesat seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Ramadhan yang kita rayakan dengan penuh drama lapar dan dahaga kini mencapai titik akhir. Seolah baru kemarin kita tergesa-gesa menyiapkan sahur di tengah kantuk yang menindih kelopak mata. Ibadah sudah ditunaikan. Apakah catatan amalku bersih atau justru penuh coretan dosa, itu urusan langit. Saya tidak ambil pusing.
Teman saya mengirim pesan singkat kemarin. Dia memohon doa restu karena harus berangkat menuju lokasi KKN. Dia merasa perlu dukungan spiritual agar segala urusan di tanah pengabdian berjalan mulus.
Saya tersenyum kecut melihat layar telepon genggam. Manusia selalu punya cara untuk menyeret Tuhan ke dalam ambisi pribadi mereka.
Doa kini berubah menjadi instrumen negosiasi. Orang tidak lagi sekadar percaya pada Sang Pencipta. Mereka ingin memenjarakan Tuhan dalam kotak doa agar Dia menuruti setiap keinginan konyol mereka. Mereka membayangkan Tuhan sebagai penyedia jasa yang harus melayani tuntutan setiap saat. Setiap hari, Tuhan didemo dengan kata-kata manis yang sebenarnya berisi perintah. Mereka menuntut rezeki seolah Tuhan sedang menahan harta di gudang-Nya dan manusia merasa berhak menjarahnya.
Persaingan pun pecah di bumi.
Manusia saling sikut, saling gontok, bahkan saling mangsa demi menguasai kapling rezeki yang mereka anggap terbatas. Mereka ingin menjadi pemilik segalanya. Jika mampu, mereka akan mengantongi Tuhan ke dalam saku baju agar bisa diperintah kapan saja.
Eddy Suhendro dalam novelnya, Taksi, pernah mengutip pemikiran Erich Fromm tentang pertarungan antara menjadi atau memiliki. Kita terjebak dalam obsesi untuk memiliki. Identitas seseorang ditentukan oleh tumpukan harta yang dia pamerkan, bukan oleh kedalaman jiwanya. Manusia menjelma menjadi kolektor benda mati.
Jalanan dipenuhi kaum hedonis yang haus akan tumpukan materi. Yang kuat menimbun kekayaan hingga meluber, sementara yang lemah dibiarkan mengais sisa di selokan. Ketimpangan ini melahirkan kecemburuan yang membusuk. Si miskin tidak lagi melihat keadilan sebagai cita-cita, melainkan sebagai kesempatan untuk merampas apa yang dimiliki si kaya. Kriminalitas meledak. Kekacauan menjadi menu harian.
Saya menutup ponsel. Kepala saya mulai berdenyut melihat kebodohan yang terus berulang tanpa jeda.