Category: Opini dan Esai

Kumpulan opini yang kadang-kadang saya tulis dalam esai sederhana, kadang-kadang dalam cuitan iseng. Hanya pendapat pribadi, bukan memanggil perdebatan.

2 menit baca
Post Jul 9, 2021

Debu Maracana dan Riuh Wembley

Dunia sedang babak belur dihantam pandemi, tapi mata manusia tetap menatap layar televisi dengan nafsu yang sama. Akhir pekan ini, bola menjadi candu massal. Dua benua menggelar pesta penutup di tengah krisis yang belum…

2 menit baca
Post Jun 25, 2021

Pertaruhan Nasib Reformasi

Presiden Joko Widodo berulang kali menolak perpanjangan masa jabatan. Suaranya terdengar tegas. Ia menyebut dukungan untuk masa jabatan ketiga sebagai tamparan bagi wajahnya. Ia merasa terhina. Begitu klaimnya. Namun, di lorong-lorong gelap politik Jakarta,…

2 menit baca
Post Jun 24, 2021

Pilih Nyawa atau Harta?

Jakarta berkeringat dingin di bawah kepungan gelombang kedua pandemi. Rumah sakit kehabisan napas, tenda-tenda darurat berdiri di pelataran, sementara angka kematian merangkak naik tanpa permisi. Pemerintah memilih jalan yang menenangkan diri sendiri. Mereka menolak…

2 menit baca
Post Jun 18, 2021

Demi Pesta Bola EURO 2020

Eropa berpesta. Mereka membuka pintu stadion meski virus masih mengintai di balik pintu keluar. Euro 2020 akhirnya berdenyut setelah setahun tertunda. Mereka membiarkan penonton masuk dengan jumlah terbatas. Sebuah keberanian yang lahir dari keyakinan…

2 menit baca
Post May 28, 2021

Kambuhnya Penyakit Kabel Bawah Laut Papua

Papua kembali gelap. Internet mati. Telkom berdalih soal kabel bawah laut yang putus tujuh ratus kilometer jauhnya dari Sarmi. Mereka membutuhkan waktu satu bulan penuh untuk sekadar memulai perbaikan. Publik di tanah Papua tidak…

2 menit baca
Post May 21, 2021

Masihkah Ada Demokrasi di Era Teror Digital?

Dua puluh tiga tahun silam, mahasiswa berbaris di jalanan Jakarta. Mereka menumbangkan seorang despot tua. Seorang ilmuwan politik Amerika memuji peristiwa itu sebagai revolusi pertama yang memakai internet. Kita semua percaya pada dongeng itu.…

2 menit baca
Post Apr 21, 2021

Seratus Tahun Lebih Menunggu Cahaya dari Jepara

Setiap tanggal dua puluh satu April, kita kembali memainkan sandiwara tahunan. Para pejabat mengenakan kebaya atau batik terbaik mereka. Mereka berbaris rapi. Mereka membacakan pidato tentang emansipasi perempuan. Lalu, mereka pulang. Kartini menjadi sekadar…