Rumah kami dulu hanya sekitar satu setengah kilometer dari bandara. Cukup dekat untuk membuat pesawat-pesawat yang lewat terasa seperti bagian dari hidup sehari-hari.
Waktu itu Merauke masih sepi. Langit terasa lebih lapang. Pohon-pohon masih banyak. Kendaraan belum seramai sekarang. Kalau pagi atau siang, suara pesawat sering datang lebih dulu sebelum badannya kelihatan.
Dari bawah, kami biasa mendongak.
Kadang Garuda. Kadang Merpati. Kadang Pelita. Kadang pesawat AURI yang bunyinya lain sendiri, lebih berat, lebih besar, lebih menggetarkan dada. Kalau Hercules lewat rendah, rumah seperti ikut bergetar sedikit. Bagi anak-anak kecil di dekat bandara, pesawat bukan sekadar kendaraan yang melintas di udara. Pesawat itu seperti makhluk besar yang datang dari dunia jauh, membawa orang-orang yang hidupnya terasa lebih mewah daripada hidup kami.
Di samping rumah kami ada tanah kosong milik AURI. Waktu itu belum dibangun apa-apa. Tanah itu luas, terbuka, dan bagi anak-anak seperti kami, tempat begitu selalu punya kemungkinan macam-macam.
Belakangan, kami tahu satu kemungkinan yang paling menyenangkan: sampah makanan dari pesawat kadang dibuang di situ.
Begitu kabar itu masuk ke telinga, tanah kosong di samping rumah mendadak berubah menjadi pulau harta karun.
Saya, Manda, Leni, dan Arman biasa jadi regu pertama yang turun ke lokasi. Kadang-kadang ada juga anak lain yang ikut belakangan, tapi empat nama itu yang paling sering muncul. Begitu terlihat ada tumpukan kantong atau bekas buangan baru, kami langsung bergerak cepat.
Harta karun su turun!
Sampah itu tentu bukan barang bersih. Isinya sisa makanan pesawat, bungkus-bungkus, plastik, kadang basah, kadang berantakan. Tapi bagi anak-anak kecil pada pertengahan 1980-an di Merauke, di mana tidak semua barang mudah didapat, isi buangan itu bisa terasa seperti hadiah dari langit.
Yang kami cari bukan sisa nasi atau lauknya. Kami mencari benda-benda kecil yang masih utuh.
Sendok plastik. Garpu plastik. Gelas plastik. Sachet gula. Sachet kopi. Krimer. Tisu wangi. Kadang-kadang ada roti yang bungkusnya belum terbuka. Kadang ada mentega kecil. Kadang ada selai mini. Kadang ada potongan kue yang masih bagus. Kadang, kalau lagi beruntung, ada tiket atau potongan kertas dari dalam pesawat yang entah kenapa terasa penting sekali, seolah-olah kami baru saja menemukan dokumen rahasia dari dunia orang besar.
Tapi dari semua itu, yang paling saya suka mungkin tisu wanginya.
Tisu itu lain dari tisu biasa yang ada di rumah. Wangi sekali. Halus. Bersih. Kalau dapat satu, saya biasa simpan lama-lama. Kadang cuma untuk dicium baunya saja. Di kepala anak kecil saya, benda-benda seperti itu punya aura yang sulit dijelaskan. Saya merasa sedang memegang sesuatu yang datang dari tempat jauh, dari orang-orang yang naik pesawat, dari hidup yang terasa lebih rapi dan lebih mewah daripada dunia sehari-hari kami di Spadem.
Kadang kami pulang membawa hasil rampasan dalam plastik kecil. Kadang dibagi-bagi di tempat.
“Sa punya ini.”
“Eh, jangan. Itu tadi sa yang lihat duluan.”
“Ko ambil gula saja. Sa ambil tisu.”
Begitulah ribut-ribut kecil kami.
Kalau ada roti atau biskuit yang bungkusnya masih bagus, rasanya seperti menemukan emas. Bukan karena kami kurang makan di rumah, bukan. Tapi karena benda itu datang dari pesawat. Itu saja sudah cukup untuk membuatnya terasa istimewa.
Pesawat, dalam pikiran kami waktu itu, adalah lambang dunia yang lebih jauh dan lebih bagus. Jadi apa pun yang jatuh dari sana, sekalipun cuma sisa-sisa, tetap membawa sedikit kilau.
Sekarang kalau dipikir-pikir, mungkin lucu juga. Anak-anak kecil berebut barang dari tumpukan sampah, lalu menamakannya harta karun. Tapi waktu itu kami sama sekali tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang memalukan. Kami merasa sedang berpetualang.
Tanah kosong AURI itu seperti laut. Kantong-kantong sampah itu seperti kapal karam. Dan kami, anak-anak kecil dari rumah-rumah sekitar, adalah para pencari harta yang datang lebih dulu sebelum orang lain sempat menemukan apa yang masih bisa diselamatkan.
Kadang saya berpikir, masa kecil memang sering bekerja seperti itu. Ia punya kemampuan ajaib untuk mengubah hal yang biasa, kotor, dan remeh menjadi sesuatu yang berkilau.
Kami melakukan itu cukup lama. Mungkin sampai saya kelas tiga, atau kelas empat SD. Lama-lama kegiatan itu berhenti sendiri.
Ada beberapa sebab.
Yang pertama, kami mulai besar. Rasa malu pelan-pelan tumbuh. Kalau masih kecil, kita tra terlalu pikir siapa lihat siapa tidak. Tapi begitu mulai tambah umur, kita mulai sadar: ado, kalau orang lihat tong bongkar sampah begini, macam apa e?
Yang kedua, orang tua mulai lebih banyak melarang.
Waktu itu sudah mulai ramai orang bicara tentang penyakit yang menular lewat darah, tentang bahaya barang-barang bekas, tentang hal-hal yang sebelumnya tidak pernah masuk ke kepala anak-anak. Saya tidak ingat semua istilahnya secara tepat waktu itu. Tapi saya ingat kekhawatiran Mama. Di masa itu, kata AIDS mulai terdengar seperti ancaman yang jauh, kabur, tapi menakutkan. Dan bagi orang tua, sampah dari pesawat jelas bukan tempat yang aman untuk anak-anak.
Maka pelan-pelan, perburuan itu berakhir.
Tanah kosong di samping rumah kembali menjadi tanah kosong biasa.
Pesawat-pesawat tetap lewat di langit Merauke. Garuda, Merpati, Pelita, Hercules AURI—semua tetap melintas di atas kepala kami seperti biasa. Tapi kami tidak lagi berlari ke samping rumah dengan jantung berdebar, berharap ada tisu wangi atau bungkus roti yang belum terbuka.
Masa kecil memang begitu. Kadang berakhir bukan dengan satu perpisahan besar, tapi hanya karena tiba-tiba sesuatu yang dulu terasa ajaib tak lagi kita kejar.
Namun sampai hari ini, kalau saya mencium bau tisu wangi tertentu, ingatan itu kadang datang lagi: tanah kosong AURI, kantong-kantong bekas makanan pesawat, Leni dan Manda yang sibuk membongkar, Arman yang cepat sekali kalau lihat benda bagus, dan kami semua yang percaya sepenuh hati bahwa yang sedang kami cari di sana bukan sampah.
Melainkan harta karun.
