Bauan bensin menyengat bercampur asap tebal membubung dari vila terpencil yang baru saja meledak hancur. Ham Myo-jin melarikan diri memakai mobil dengan napas memburu dan dada berdegup kencang, sebelum hantaman keras truk menghancurkan kendaraannya di tengah kegelapan jalan. Dentuman besi beradu dan pecahan kaca yang menancap meninggalkan Myo-jin terkapar tidak sadarkan diri di ruang perawatan berbau antiseptik. Dia terbangun tanpa memori sedikit pun mengenai dendam lima belas tahun atas kematian orang tuanya maupun kaitan ledakan vila yang menewaskan sahabatnya. Ryu Jun-ho, tunangannya yang bekerja sebagai arsitek ternama, mendampingi proses pemulihan seraya menyembunyikan teka-teki besar. Polisi mendapati jasad dua korban di lokasi ledakan, sementara kawanan geng asing dan pemeras misterius bernama Ki-cheol mendadak muncul meneror langkah Myo-jin yang meraba-raba potongan masa lalu.
Sutradara Lim Gun-joong nekat memindahkan naskah audio drama miliknya ke dalam wujud visual lewat platform Wavve. Keputusan ini menghadirkan beban berat karena alur fiksi psikologis ini menuntut perpindahan garis waktu lampau dan mendatang secara simultan. Penonton memeras otak menyaksikan penyuntingan gambar yang berantakan, terutama sewaktu memasuki episode keempat dan kelima. Pewarnaan adegan gagal memberi penanda waktu yang jernih, sehingga penonton berulang kali kehilangan arah di antara ilusi, ingatan palsu, dan kenyataan pahit. Penumpukan karakter sampingan seperti kelompok penjahat Tiongkok yang mendadak fasih berbahasa Korea justru merusak konsentrasi dan terasa seperti gangguan tidak berguna. Alih-alih menikmati alur cerita, penonton malah sibuk mencerna potongan adegan yang saling bertabrakan akibat penyutradaraan yang ceroboh.
Kekacauan pengeditan tersebut hampir menghancurkan potensi cerita.
Kualitas tayangan mendadak bangkit melesat begitu memasuki episode keenam hingga bagian penutup. Seluruh topeng manipulasi para karakter terlepas, memperlihatkan kebusukan moral yang berakar dari tragedi keluarga masa lalu. Seo Ji-hye dan Ko Soo memimpin babak akhir ini dengan akting penuh intensitas emosi, menyuguhkan perubahan watak yang dingin sekaligus mengejutkan. Karakter Lee Sang-ho garapan Lim Won-hee hadir sebagai satu-satunya penyeimbang moral yang bersih di tengah kepalsuan tokoh lainnya. Babak pamungkas meledak penuh kejutan, menyisakan hawa dingin mengenai betapa rapuhnya ingatan manusia ketika dendam membutakan nurani.