Neil Armstrong tak pernah benar-benar mengucapkan kalimat yang dihafal dunia selama puluh tahun. Bukan persis seperti itu.
20 Juli 1969, Armstrong dan Buzz Aldrin menyentuh permukaan bulan. Empat hari sebelumnya, bersama Michael Collins, mereka berangkat dari Cape Kennedy, pukul sembilan lewat tiga puluh dua pagi, disaksikan lebih dari satu juta orang, termasuk mantan Presiden Lyndon B. Johnson, yang berdiri menengadah ke langit sampai Apollo 11 hilang dari pandangan.
Tiga hari melayang di ruang hampa. Armstrong dan Aldrin turun ke modul bulan, mendarat pukul empat lewat tujuh belas sore, 20 Juli. Collins tinggal di modul komando Columbia, memotret, meneruskan komunikasi ke Bumi.
Pukul sepuluh lewat lima puluh satu malam, Armstrong keluar lebih dulu. Aldrin menyusul di belakangnya.
Kalimat itu keluar begitu saja, direkam, disiarkan, didengar jutaan orang di depan layar televisi dan radio di seluruh dunia.
“That’s one small step for man, one giant leap for mankind.“
Begitu yang terdengar, begitu yang dicatat, begitu yang tercetak di buku-buku sejarah sesudahnya.
Sesudah mengumpulkan sampel batu, menancapkan bendera Amerika di permukaan bulan, mereka kembali ke Bumi, jatuh ke Samudra Pasifik pukul dua belas lewat lima puluh satu siang, 24 Juli. Dua puluh satu hari karantina, baru Armstrong bicara pada wartawan, meluruskan sesuatu yang selama ini salah dicatat.
Yang sebenarnya ia ucapkan, katanya, ada satu huruf yang hilang.
“That’s one small step for a man, one giant leap for mankind.“
Huruf “a” itu kecil, nyaris tak terdengar, tapi mengubah seluruh makna kalimat itu. Tanpa “a,” kalimatnya berarti langkah kecil bagi umat manusia, lompatan besar bagi umat manusia juga, dua sisi kalimat yang jadi berbicara hal yang sama. Dengan “a,” kontrasnya jelas, langkah kecil bagi dirinya sendiri sebagai satu orang, lompatan besar bagi seluruh umat manusia.
Bertahun-tahun kemudian, Armstrong sendiri mendengarkan rekamannya lagi. Ia mengaku, ia sendiri pun tak bisa mendengar huruf “a” itu di sana.
Tahun 2006, seorang programmer sekaligus penganalisis suara, Peter Shann Ford, memakai peralatan modern untuk membedah rekaman itu. Kesimpulannya, huruf itu memang diucapkan, hanya tenggelam dalam derau statis transmisi radio dari bulan ke Bumi.
Terdengar atau tidak, diucapkan atau tidak, langkah itu tetap terjadi. Armstrong benar-benar melangkah ke permukaan bulan tahun 1969, dan itu benar-benar sebuah lompatan besar bagi umat manusia, dulu maupun sekarang.
Manusia baru sepuluh kali kembali ke bulan sejak Apollo 11, misi terakhir, Apollo 17, pulang pergi tahun 1972.
Kru Artemis 4 berencana menjelajahi Kutub Selatan bulan tahun 2028, wilayah yang belum pernah diinjak manusia. Tiongkok juga menargetkan mengirim astronotnya ke bulan tahun 2030, bagian dari program eksplorasi bulan mereka sendiri. Keduanya akan jadi pendaratan berawak pertama sejak Apollo 17 mengakhiri perjalanannya, lebih dari lima puluh tahun lalu.