Ada bunga tumbuh di tepi kolam-kolam yang tenang, kelopaknya menunduk, seolah sedang mengaca pada air di bawahnya. Orang menamainya narsis. Nama yang sama kini dipakai untuk sesuatu yang lain, seseorang yang cerminnya lebih penting dari wajah orang lain.
Dua ribu tahun membentang di antara keduanya, dan di ujung yang jauh sana ada seorang pemuda bernama Narcissus, wajahnya membuat orang berhenti di jalan.
Ceritanya muncul dalam beberapa naskah kuno, yang paling dikenal ditulis penyair Romawi, Ovid, dalam Metamorphoses, di sanalah muncul juga tokoh Echo, bidadari hutan yang ikut menjadi bagian dari kisah ini. Tahun 2018, arkeolog menemukan lukisan dinding tentang kisah ini di antara reruntuhan Pompeii, tanda betapa lekat cerita ini di ingatan orang, dulu maupun sekarang.
Echo dulu suka menceritakan aib para dewa, sampai Hera murka, mengutuknya. Ia berjalan sendirian sesudah itu. Tak ada yang bisa diajaknya bicara sungguh-sungguh, sebab mulutnya hanya sanggup melempar balik kata orang lain, tak pernah kalimatnya sendiri.
Ia melihat Narcissus suatu hari, mengikutinya dari kejauhan. Ketika Narcissus menyapanya, yang keluar dari mulut Echo hanya sapaan itu sendiri, diulang, dilempar balik. Narcissus mengerutkan kening, mundur satu langkah, lalu pergi.
Echo tinggal di sana, semakin lama semakin kurus, sampai tulangnya berubah jadi batu, dagingnya luruh ke tanah. Yang tersisa hanya suaranya, tersimpan di lembah-lembah, di dinding gua, menunggu seseorang berteriak supaya bisa menjawab sekali lagi.
Ada beberapa versi tentang kejatuhan Narcissus sendiri. Ovid menulis, seorang dewi mendengar rintihan Echo, lalu mengutuk Narcissus sebagai balasan. Conon, penulis mitografi Yunani, punya cerita lain, seorang pemuda bernama Ameinias, cintanya ditolak Narcissus, patah hatinya juga didengar seorang dewi yang berbeda.
Ceritanya bercabang di sana, tapi bertemu lagi di satu titik. Kutukan itu membuat Narcissus jatuh cinta pada dirinya sendiri, cinta yang tak mungkin dijawab siapa pun, termasuk dirinya sendiri.
Ia sampai di tepi sebuah kolam. Airnya diam, tak ada angin yang mengganggu permukaannya. Ia berjongkok, ingin minum, dan melihat wajah di sana.
Ia tidak beranjak lagi setelah itu.
Tangannya menyentuh air, riak-riak kecil merusak wajah itu sebentar, lalu air kembali tenang, wajah itu utuh lagi. Ia mengulanginya, menyentuh, menunggu, menyentuh lagi.
Hari berganti hari. Rerumputan di sekitarnya terinjak rata, jejak lututnya membekas di tanah yang sama, di tempat yang sama, tak pernah bergeser.
Ia berhenti makan. Kulitnya menguning, tulang pipinya menonjol, tapi matanya tak sekali pun berpaling dari air itu.
Dalam versi yang menyertakan Echo, ia duduk di balik semak tak jauh dari sana, mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan Narcissus kepada bayangannya sendiri, lalu ia mengulanginya, kebiasaan lama yang tak pernah lepas darinya, meski kali ini tak ada telinga lain yang mendengar selain daun-daun yang diam.
Sebagian versi menyebut, sesudah Narcissus mati, ia turun ke dunia arwah, dan di sana menemukan sungai lain, Styx namanya, tempat ia kembali berlutut di tepinya, mencari wajah yang sama.
Di tanah bekas ia berlutut bertahun-tahun itu, sekuntum bunga tumbuh, kepalanya menunduk ke arah air, mencari sesuatu yang sudah lama tak ada di sana. Orang menamainya bunga narsis.
Kalau kau melewati kolam yang tenang, dan melihat bunga itu tumbuh miring ke arah air, ingatlah pada pemuda yang mati di situ, sebab tak sanggup berpaling dari wajahnya sendiri, dua ribu tahun yang lalu.

