Baby Huwae lahir di Rotterdam, 22 November 1939, dari Anna Geertrinda van Kriesz dan Alexander Wynand Marcus Huwae. Ayahnya sedang menempuh studi kepabeanan di Belanda waktu itu. Perang pecah sebelum usianya genap setahun. Untung ayahnya sudah menyelesaikan sekolah, mereka pun pulang ke Indonesia.
Ayahnya ditugaskan ke Pontianak. Baby kecil tak banyak ingat dari masa itu, kecuali satu hal, adiknya, Alexander Gerald, satu-satunya lelaki di keluarga itu, lahir di kota di garis khatulistiwa itu. Dari Pontianak keluarga pindah ke Yogyakarta, dua adik perempuan lain lahir di sana.
Sejak itu keluarganya berpindah dari kota ke kota, mengikuti tugas ayahnya. Masa kecil Baby tersebar di Jawa Tengah, Sumatra, Kalimantan.
Umur sembilan tahun, ibunya meninggal. Yang masih tersisa di ingatannya adalah rumah di Jalan Tanjung 17, Yogyakarta, biola ayahnya, dan jari-jari ibunya yang lincah di atas tulut piano, mengiringi nyanyiannya.
Sepeninggal ibunya, ia dan saudara-saudaranya lebih dekat dengan nenek mereka di Bungur Besar, Jakarta. Rumah tua yang besar itu jadi tempat berteduh.
Lulus SD, Baby masuk SMP Santa Maria tahun 1953, ditempatkan di asrama yang disiplin. Selalu juara kelas. Pindah ke SMP Santa Theresia bersama dua kakaknya, Vonny dan Lonny.
Ia mulai tumbuh jadi remaja yang cantik, meski belum memikirkan soal pacar. Dua kakaknya lebih dulu jadi “kembang” Menteng.
Reputasinya sebagai murid baik bertahan sampai kelas dua di SMA PSKD Salemba. Sesudah itu, godaan demi godaan datang. Bukan soal pacar, tapi soal film dan mode.
Umur tujuh belas, di puncak kariernya, ia sering absen sekolah. Alasannya selalu sama, sakit, padahal sedang menghadiri festival film di Hong Kong, Malaysia, Tokyo, atau Singapura.
Alasan itu diterima. Sampai suatu hari.
Ia bolos bersama Gaby Mambo, menghadiri festival film di Malaysia, pulang lewat Singapura. Wartawan Straits Times mewawancarai mereka. Mereka membeli baju renang, difoto di tepi kolam. Foto dan artikel itu muncul di halaman depan, judulnya, “Brigitte Bardot dari Indonesia,” lengkap dengan ukuran tubuh mereka.
Koran itu ternyata beredar juga sampai Jakarta.
Kepala sekolahnya, Piet Soplanit, memanggilnya.
“Kenapa bolos sepuluh hari?”
Baby diam. Ditekan terus, akhirnya menjawab, “Sakit, Pak. Sakit kepala sampai tak bisa jalan.”
Pak Soplanit marah. Ia menunjukkan koran itu.
“Ini yang sakit?”
“Habis sudah saya,” bisik Baby dalam hati. Ia masih ingin sekolah, minta dispensasi, minta maaf. Kepala sekolah menolak meluluskannya. Ini kesalahan yang sama untuk ketiga kalinya, katanya. Tidak ada ampun lagi.
Baby diminta keluar. Pindah sekolah. Aktivitas filmnya berlanjut, hasilnya bisa ditebak, ia “dikeluarkan” lagi, kali ini menjelang ujian akhir.
“Tapi itu salah saya sendiri, waktu itu saya sering absen karena main di tiga film sekaligus,” katanya. Gembira Ria, Juara Skate Roda, Asrama Dara.
Popularitasnya terus naik meski sekolahnya berantakan. Filmnya dipuji kritikus. Ia juga menyanyi bersama grup Baby Dolls. Hidupnya, katanya, terasa sungguh seru, naik turun pesawat, tampil keliling Indonesia, singgah di hotel-hotel mewah zaman itu.
Banyak lelaki melamar. Tapi ia tak pernah membayangkan, suatu hari, presiden sendiri yang akan memberi perhatian khusus.
Pertama kali bertemu Bung Karno tatap muka, 1957, di peresmian kolam renang Karang Setra, Bandung. Baby diminta memperagakan baju renang.
Saat berjalan ke ruang ganti, seseorang menyampaikan pesan, “Baby, diminta menghadap Pak Siwabessy.”
Tugasnya belum selesai. “Sampaikan saja, saya temui setelah acara,” jawabnya, lalu kembali ke panggung, memperagakan gaun malamnya.
Selesai peragaan, ia menghampiri meja Pak Siwabessy. Di meja yang sama, seorang lelaki berkacamata, berpeci, berjas lengkap dengan tanda jasa di dada. Ruangan remang, wajahnya tak terlihat jelas, Baby tak menyapanya.
“Bapak memanggil saya?”
“Ya, ada yang mau bertanya.”
“Siapa, Pak?”
“Bapak Presiden.”
Baby, yang sudah lelah, tak sempat kaget mendengar nama BK. Ia hanya bertanya-tanya sendiri, kenapa presiden ada di sini. Belum sempat menjawab pertanyaannya sendiri, BK sudah bertanya, “Siapa namamu?”
“Baby Huwae, Pak.”
“Kenapa mau memperagakan baju renang?”
Ia bingung, kenapa presiden ikut campur urusan pribadinya. “Sesuai acaranya, Pak,” jawabnya.
BK bilang, sebagai gadis Timur, ia semestinya tidak menerima tawaran seperti itu. “Nanti di Jakarta, lapor ke istana,” katanya, nada memerintah.
Baby tidak menurut. Bukan apa-apa, ia tak tahu bagaimana caranya, belum pernah menginjak istana.
Beberapa hari kemudian, film Asrama Dara diputar di istana. Kabarnya, BK menyukainya.
Suatu hari sepulang sekolah, sebuah sedan mewah menjemputnya. “Mobil dari istana, diminta menghadap Bung Karno,” kata sopirnya.
Dengan seragam sekolah putih biru, kaus kaki sebatas lutut, rambut dikepang dua, ia masuk istana.
BK terkejut melihat penampilannya.
“Saya Baby Huwae,” katanya.
“Kok beda sekali dengan di film? Sekarang kelihatan seperti anak-anak,” kata BK.
Di sana ada juga sutradara Asrama Dara, Usmar Ismail, dan aktris Fifi Young.
Beberapa saat kemudian BK bertanya, “Kamu tahu kenapa dipanggil?” Baby menggeleng.
“Saya baru beli pesawat dari Amerika, namanya Dolok Martimbang. Sayang, belum ada pramugarinya. Kamu mau jadi pramugari?”
Baby langsung menjawab, “Saya tidak punya pelatihan pramugari, Pak. Yang di film cuma bohongan. Sebagai bintang film, saya harus bisa main peran apa saja.”
BK tak mau tahu. “Ah, itu gampang.”
Saat itu juga BK menulis memo untuk Menteri Perhubungan. “Bawa surat ini, saya minta kamu diberi fasilitas khusus untuk dilatih jadi pramugari.”
Baby masih bingung. BK bertanya lagi apa yang mengganjal. “Saya harus izin ayah dulu, Pak,” katanya hati-hati.
BK tertawa. “Baik, kalau begitu. Saya undang ayahmu ke istana.”
BK ternyata tidak main-main. Undangan itu benar-benar datang. Seperti dugaan Baby, ayahnya menolak.
Sepulang dari istana, ayahnya bilang, “Mulai sekarang, saya larang kamu ikut kegiatan apa pun yang berhubungan dengan pramugari.”
BK tak menyerah begitu saja, kembali meminta izin ayah Baby. Ayahnya tetap teguh. “Tidak.”
Akhirnya BK mengalah. Belakangan Baby tahu, kesempatan itu diberikan pada Kartini Manoppo.
Bukan itu saja kejutan dari BK. Suatu kali datang kejutan yang lebih berat. BK melamarnya.
Baby waktu itu tujuh belas tahun. Sekali lagi ia harus menolak halus permintaan presiden pertama Republik Indonesia. “Saya harus tanya Ayah dulu,” alasannya.
Dalam hati, ia yakin ayahnya tidak akan mengizinkan. Dugaannya benar. Ayahnya menolak tegas. “Dia masih terlalu muda. Baru besar,” katanya.
BK tak putus asa, melamar lagi beberapa waktu kemudian. Jawabannya tetap sama, harus izin ayah.
“Orang mungkin mengira betapa bodohnya saya, tidak mau menikah dengan presiden, penguasa tertinggi negara. Tapi saat itu saya tak punya perasaan apa-apa pada BK. Apalagi cinta. Saya hanya menghormatinya sebagai presiden. Tidak lebih. Saya kagum, tapi itu tidak berarti saya tertarik pada BK,” kata Baby.
BK melamar berkali-kali, jawabannya tetap “tidak”. Baby lalu dibujuk, ditawari perjalanan ke New York.
BK penasaran, terus bertanya, “Kenapa menolak lamaran saya? Sudah punya pacar?”
Baby, tersudut, akhirnya mengaku, “Ya, Pak.”
Saat itu ia memang dekat dengan seorang pemuda. Cinta monyet mungkin sebutannya, karena keduanya tak pernah saling mengucap “aku cinta kamu.”
BK terus bertanya, “Siapa orangnya?” Baby menyebut nama. “Anak siapa?” Tanpa curiga, Baby menyebut nama orang tuanya.
Pemuda itu ternyata anak seorang menteri. Tak lama kemudian, menteri itu diangkat jadi duta besar.
Bukan cuma orang tuanya yang kena imbas. Baby dijauhkan dari pemuda itu selama lima tahun. Cinta pertamanya berakhir, gara-gara kecemburuan BK.
“Baru belakangan saya tahu, pemindahan menteri itu semata-mata karena BK tidak suka anaknya berpacaran dengan saya,” kata Baby.
“Jadi, kabar bahwa saya pernah dekat dengan BK itu tidak benar. Saya kira semua karena sikap saya yang terbuka dan spontan. Setiap kali BK bertanya, saya jawab jujur apa adanya. Saya benci sikap ABS (Asal Bapak Senang). Kalau orang percaya, ya sudah, kalau tidak, ya sudah. Saya terapkan sikap itu ke semua orang, termasuk BK, dan belakangan Dewi, istri kelima BK,” lanjut Baby.
Karena ketegasannya itu, BK mengganti namanya jadi Lokita Purnamasari. “Lokita, kamu perempuan berani. Bicara sama saya tidak pakai sopan santun. Tidak pikir dua kali, langsung bicara,” kata BK.
Meski ditolak lamarannya, sikap BK padanya tak pernah berubah.
Baby kembali sibuk dengan film dan nyanyi. Pernikahan belum terpikir olehnya sampai suatu waktu.
Ia kembali dipanggil ke istana. Namanya sempat masuk daftar delegasi New York Fair, tapi menjelang keberangkatan, entah kenapa, BK melarangnya pergi. Ia dimasukkan ke acara lain, Women’s Traders’ Event.
“Kalau tidak salah, itu mendekati waktu pernikahan saya,” kata Baby.
Mendengar kabar pernikahan itu, BK memanggilnya ke istana.
“Saya dengar kamu mau menikah. Benar?”
“Benar, Pak.”
“Kamu yakin cinta sama orang itu? Tidak berubah pikiran?”
Baby menjawab yakin, tidak akan berubah pikiran.
“Baiklah. Saya ingin bertemu calon suamimu, memberi nasihat. Saya usahakan datang ke pernikahanmu,” kata BK.
Hari pernikahan Baby, BK sedang di Amerika, berpidato di Sidang Umum PBB. Sebelum berangkat, ia sempat bilang akan mengirim istrinya sebagai wakil.
“Karena saya tidak berani tanya siapa yang akan datang, undangan saya berikan pada Ibu Fatmawati. Padahal yang diminta BK datang adalah Ibu Hartini. Saya kebagian tugas berat, memberitahu Ibu Fatmawati soal itu,” kenang Baby.
BK menepati janjinya memberi nasihat pada suami Baby sepulang dari Amerika. Mereka diundang ke Istana Bogor. Di sana, sambil Baby belajar membuat sambal dari Ibu Hartini, suaminya bertemu BK, mendengarkan nasihatnya.
Pernikahan Baby berlangsung setelah setahun pacaran. Usianya dua puluh satu waktu itu.
“Kami kemudian bercerai. Tapi bagaimanapun, mantan suami saya tetap ayah dari ketujuh anak saya,” katanya.
Baby merasa, semakin jelas bagi semua orang bahwa tak ada hubungan intim antara dirinya dan BK, meski gosip terus beredar kencang.
Soal gosip ini, ia pernah mengadu langsung pada BK di Wisma Yaso.
“Pak, saya mau bicara serius. Saya sedih sekali karena orang bilang saya punya anak dari Bapak. Apa yang harus saya lakukan, Pak?”
BK menjawab tenang, “Kalau orang bilang begitu, pertama, kamu harus bangga. Kedua, diam saja.”
Baby kaget mendengarnya. Bagaimana bisa diam saja?
“Lokita,” kata BK lagi, “makin kamu bantah, makin orang tidak percaya. Tapi kalau kamu diam, gosip itu akan berlalu sendiri.”
Dalam hati, Baby membenarkan kata-kata itu. Tapi rasa sakitnya tetap tinggal, apalagi ia sudah menikah, sudah punya anak waktu itu.
Orang mungkin tak tahu proses sebenarnya. Bahkan setelah menikah, Baby masih bertemu BK dan Dewi hampir setiap hari. Ia, menurutnya sendiri, orang paling beruntung, selalu dipilih jadi pendamping setiap kunjungan ke luar negeri.
Namanya selalu tercantum sebagai pejabat istana. Kepercayaan BK padanya makin kuat setelah Baby berteman dengan Ratna Sari Dewi sejak pertama kali berkenalan.
“Waktu itu Dewi datang ke butik dekat rumah saya, memesan baju. Ia memperkenalkan diri sebagai Nona Kubo,” kenang Baby.