Lomba Lari

Gadis itu berlari lebih cepat dari siapa pun di kampungnya. Kabar itu sampai ke desa-desa sekitar, sampai orang-orang berdatangan membawa bendera kecil, berdiri berjajar di sepanjang jalan tanah yang sudah ditandai kapur sebagai garis lomba.

Ia sudah berlatih berbulan-bulan. Pagi sebelum matahari naik, sore sesudah sekolah bubar, kakinya menghantam tanah yang sama, jalur yang sama, sampai hafal setiap batu dan lubangnya, sampai telapak kakinya mengeras, sampai napasnya bisa diatur tanpa dipikirkan lagi.

Lomba pertama, lari cepat. Anak-anak gadis terkuat dari desa-desa tetangga berlari sejajar dengannya sampai garis akhir, dada mereka sama-sama naik turun, tapi dialah yang lebih dulu menyentuh pita. Ia berhenti, kedua tangan di lutut, napas memburu, lalu tiba-tiba berdiri tegak lagi begitu sorak-sorai pecah. Bendera-bendera dikibarkan, namanya diteriakkan berkali-kali. Ia mengepalkan tangan ke udara, berputar sekali menghadap kerumunan, membiarkan mereka melihat wajahnya.

Lomba kedua, jarak jauh. Ketiga, estafet. Setiap kali, ia yang paling dulu sampai. Setiap kali, tepuk tangan makin keras, dan setiap kali pula ia berdiri lebih lama di garis akhir sebelum melangkah mundur, seperti ingin memperpanjang detik itu selama mungkin.

Ia mencari wajah-wajah di kerumunan yang menatapnya, satu per satu, membiarkan matanya bertemu mata mereka sebelum berpindah ke wajah berikutnya.

Ketika ia mengira hari itu sudah selesai, tangannya sudah turun ke samping, napasnya sudah kembali normal, Kepala Kampung berteriak dari tengah kerumunan.

“Masih ada satu lomba lagi. Yang paling penting.”

Gadis itu menoleh cepat, alisnya terangkat sebentar. Lalu bibirnya melengkung lagi, yakin.

Kepala Kampung membawa dua orang ke garis start. Seorang lelaki buta, tongkatnya mengetuk-ngetuk tanah mencari pijakan. Seorang perempuan tua, punggungnya bungkuk, tangannya gemetar memegangi tongkat kayu.

Gadis itu menatap keduanya sebentar, lalu tertawa pendek.

“Lomba macam apa ini? Aku pasti menang gampang.”

“Yang paling penting,” jawab Kepala Kampung, datar, tanpa ikut tersenyum.

Gadis itu berlari seperti biasa, langkahnya panjang, cepat, tak menoleh ke belakang. Ketika ia menyentuh garis akhir, lelaki buta itu masih berdiri di garis start, tongkatnya menyentuh-nyentuh tanah, mencari arah yang tepat. Perempuan tua itu baru saja mengangkat kaki pertamanya, tubuhnya oleng sebentar sebelum kembali seimbang.

Gadis itu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, dadanya membusung, menunggu suara yang biasa datang.

Tidak ada suara.

Ia menoleh ke kerumunan, tangannya masih terangkat setengah jalan, lalu turun perlahan. Semua diam. Tak ada tepuk tangan, tak ada bendera yang dikibarkan. Beberapa orang menatap ke arah lain, ke lelaki buta yang masih meraba-raba, ke perempuan tua yang masih tertatih di tengah jalan.

Ia berjalan mendekati Kepala Kampung, langkahnya tidak secepat tadi, tangannya sudah turun sepenuhnya ke samping.

“Ada apa,” tanyanya, suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

“Kita ulangi lombanya,” kata Kepala Kampung. “Kali ini, kalian bertiga menyelesaikannya bersama.”

Gadis itu diam sebentar, menatap lelaki buta dan perempuan tua yang masih berdiri kelelahan di dekat garis start. Lalu ia berjalan ke arah mereka.

Ia menuntun lelaki buta itu melewati batu-batu di jalan, tangannya memegang siku lelaki itu erat-erat setiap kali mendekati lubang di tanah. Ia memegangi lengan perempuan tua itu, menyesuaikan langkahnya, memperlambat larinya sendiri sampai sama dengan langkah perempuan itu yang gemetar.

Mereka bertiga menyentuh garis akhir bersamaan, napas gadis itu kali ini tidak memburu karena berlari cepat, tapi karena menahan langkah selama itu.

Kerumunan meledak. Tepuk tangan yang lebih keras dari sebelumnya, bahkan lebih keras dari lomba lari cepat pertama tadi. Beberapa orang bersorak sambil mengusap mata mereka sendiri.

Gadis itu berdiri di antara lelaki buta dan perempuan tua itu, tangannya masih memegangi lengan mereka berdua, tidak tahu harus mengangkat tangan ke arah mana.

“Siapa yang menang lomba ini?” tanyanya pada Kepala Kampung, suaranya nyaris tenggelam oleh sorak-sorai. “Untuk siapa mereka bertepuk tangan?”

Kepala Kampung berjalan mendekat, meletakkan tangannya di bahu gadis itu, cukup lama sebelum bicara.

“Kamu memenangkan sesuatu yang jauh lebih besar dari lomba mana pun yang pernah kamu menangkan. Dan di lomba ini, kerumunan tidak sedang bersorak untuk pemenang siapa pun.”

Bagikan

Leave a Reply