Kopi datang ke Nusantara sebagai tamu. Dibawa kapal dagang, ditanam tangan yang bukan tangannya sendiri, di tanah yang bukan tanah kelahirannya.
Ceritanya dimulai di dataran tinggi Ethiopia, sekitar abad kesembilan. Seorang gembala bernama Kaldi memperhatikan kambing-kambingnya tak mau tidur setelah mengunyah biji merah dari semak tertentu. Ia mencobanya sendiri. Selebihnya hanya diwariskan sebagai dongeng.
Biji itu berjalan ke Yaman, ke Mekah, menjadi barang dagangan. Bangsa Arab mengunci pintu keluarnya. Biji kopi hanya boleh dibawa keluar wilayah setelah disangrai atau direbus, supaya tak ada yang bisa menanamnya di tempat lain.
Kuncian itu bocor lewat seorang haji dari India, Baba Budan. Ia pulang dari Mekah awal abad ketujuh belas dengan tujuh biji kopi. Ditanamnya di pegunungan Chikmagalur, India selatan.
Tahun 1696, Belanda mengangkut bibit dari Malabar ke Batavia. Itulah yang kemudian disebut sebagai awal kopi di Indonesia.
Arabika, jenis pertama yang ditanam, tak bertahan di dataran rendah. Karat daun, Hemileia vastatrix, menghabisi kebun-kebun itu awal abad kedua puluh. Belanda mendatangkan Robusta sebagai gantinya. Kini Robusta mengisi sembilan puluh lima dari seratus bagian produksi kopi negeri ini. Arabika bertahan hanya di atas seribu meter, tempat karat daun tak sanggup naik.
Di ketinggian itu tumbuh kopi-kopi yang kemudian disebut dunia sebagai kekayaan Indonesia.
Lintong, di sebelah barat daya Danau Toba. Mandheling, nama yang diambil dari orang Mandailing. Gayo, di antara Takengon dan Danau Tawar, diproses setengah basah, warnanya lebih dalam, bijinya lebih ringan. Toraja, Kalosi, Mamasa, Gowa, tumbuh di seribu hingga seribu tujuh ratus meter, rasa rempah, keasaman sedang. Papua, dari dataran tinggi Baliem dan Kamu, jejak buah-buahan. Mangkuraja, dari Bengkulu. Jawa, dari lereng Ijen, dari kebun-kebun Blawan, Jampit, Pancoer, Kayumas, Tugusari, badannya kuat, sedikit manis di akhir. Kintamani, dari Bali, ringan, jejak jeruk saat disangrai. Flores, cokelat dan tembakau, tubuhnya berat.
Adi W. Taroepratjeka, penikmat kopi bersertifikat, menyebut keunggulan Arabika Indonesia pada keragaman rasanya. Mirza Luqman Effendi, barista, mengatakan hal serupa: iklim tempat tumbuh menentukan tubuh dan kekuatan rasa.
Istilah kopi spesialti muncul tahun 1974, dari Erna Knutsen, untuk menyebut biji dengan karakter yang lahir dari iklim tempatnya tumbuh. Asosiasi Kopi Amerika memperluasnya kemudian, memasukkan cara panen, cara olah, cara kirim, ke dalam definisi.
Kopi bukan tanaman asli Indonesia.