Di ruang makan utama Hotel Mayflower, malam itu, dua puluh dua November 1963, tiga perempuan duduk semeja. Jeane Dixon tidak menyentuh piringnya.
“Jangan melamun. Makan, dong. Kamu kayak orang takut gemuk,” kata Nyonya Kaufmann.
“Saya tidak bisa makan,” jawab Jeane.
Ia menunduk. Sendoknya tergeletak di sisi piring, tak terangkat sejak tadi.
“Saya khawatir. Presiden akan mengalami bencana besar hari ini.”
“Hari ini?” Nyonya Kaufmann berhenti mengunyah. Ia sudah merasakan kegelisahan yang sama beberapa hari terakhir, tanpa tahu harus dikatakan kepada siapa.
Musik di ruang makan berhenti tiba-tiba. Pengumuman masuk dari pengeras suara: seseorang mencoba membunuh Presiden John Kennedy di Dallas.
“Bukan cuma percobaan. Presiden sudah meninggal,” kata Jeane.
“Radio bilang belum,” sahut Nyonya Cope.
“Radio itu salah.”
Radio memang salah. Jeane sudah mencoba menyampaikan firasatnya kepada seorang kenalan yang punya akses ke Presiden, jauh sebelum hari itu tiba. Kenalannya enggan membawa kabar buruk yang belum pasti kepada siapa pun.
Bukan kali pertama ramalannya tentang orang besar terwujud. Tahun 1952 ia sudah menulis, presiden Amerika terpilih tahun 1960, dari partai Demokrat, akan mati dengan cara kekerasan. Tulisan itu dimuat majalah Parade, Mei 1956. Menjelang pemilu 1960 sendiri, ramalannya justru meleset, ia menyebut Nixon akan menang.
Sejak awal 1940-an, ramalan Jeane sudah muncul di koran-koran Washington. November 1944, di tengah perang yang masih membakar Eropa dan Pasifik, telepon dari sekretaris Presiden Roosevelt masuk ke rumahnya. Undangan ke Gedung Putih.
Jeane bercerita, saat bertemu FDR, ruangan terasa dingin. Sepi, meski ada orang lain di dalamnya.
Presiden yang terpilih tiga kali itu bertanya, “Berapa lama waktu yang saya punya untuk menyelesaikan pekerjaan saya?”
Jeane diam sebentar.
“Boleh saya pegang ujung jari Anda?”
Tangan besar itu terulur. Jeane menunduk, ragu, sebelum akhirnya menjawab.
“Enam bulan. Atau kurang.”
Hening lama.
“Saya sedang mempertimbangkan keputusan soal Rusia. Bagaimana pendapatmu?”
“Saya tidak perlu bola kristal untuk ini, Tuan Presiden. Sejak umur empat tahun saya sudah tahu, Inggris, Prancis, Jerman, Amerika harus bersatu demi perdamaian dunia. Jerman pada akhirnya akan membantu kita menghadapi Rusia.”
“Kita akan tetap bersekutu dengan Rusia?”
“Tidak. Tapi satu generasi lagi, kita akan bersekutu melawan Cina.”
“Kami tidak ada masalah dengan Cina,” kata FDR. Saat itu Cina masih sekutu Amerika, Inggris, dan Rusia.
Pertengahan Januari 1945, telepon kedua datang. FDR tampak lebih santai kali ini, tapi tubuhnya lebih kurus.
“Bagaimana? Berapa lama waktu saya?”
“Tidak banyak.”
Soal Rusia, ia mengulang pendapatnya, menyarankan Amerika jangan membagi-bagi milik orang lain. Ia melihat Paman Sam sedang menggerayangi kantong orang.
Ia juga meramalkan konflik ras akan melanda Amerika, dan negeri itu tak akan aman sampai 1980.
Dua belas April 1945, FDR meninggal karena pendarahan otak. Februari sebelumnya, ia masih sempat ke Yalta, bertemu Churchill dan Stalin. Di sana ia menandatangani perjanjian yang menyerahkan separuh Jerman, pangkalan Port Arthur, Kepulauan Kurile, Sakhalin Utara dan pulau-pulau sekitarnya kepada Rusia. Itulah yang dimaksud Jeane dengan menggerayangi kantong orang.
Jerman baru bersatu kembali empat puluh lima tahun kemudian. Jepang sampai sekarang belum mendapatkan kembali pulau-pulaunya.
Akhir 1956, dalam sebuah wawancara, seorang wartawan bertanya tentang nasib Jawaharlal Nehru, pemimpin kemerdekaan India yang sudah menjabat perdana menteri sejak 1947.
Jeane menjawab, penggantinya kelak bernama depan dengan huruf S, kira-kira tujuh tahun lagi. Nehru, ayah Indira Gandhi, kakek Rajiv Gandhi, dua nama yang kemudian sama-sama menjadi perdana menteri, meninggal 27 Mei 1964. Parlemen India memilih Lal Bahadur Shastri sebagai penggantinya.
Ada juga ramalan tentang pembunuhan Mahatma Gandhi, Senator Robert F. Kennedy, kematian Marilyn Monroe karena bunuh diri, dan pesawat yang membawa Sekretaris Jenderal PBB Dag Hammarskjold akan jatuh. Yang terakhir ini terjadi, September 1961.
Akhir 1965, Jeane meramalkan Presiden Sukarno akan lengser sebelum 1966 berakhir, dan PKI akan kehilangan cengkeramannya. Banyak orang lain, tanpa perlu bola kristal, sudah meramalkan hal serupa. Sukarno saat itu sudah kehilangan wibawa, mahasiswa dari KAMI sudah turun ke jalan.
Ramalannya sering meleset juga.
Ia menyebut Rusia akan jadi negara pertama yang mendaratkan manusia di bulan. Salah. Ia menyebut Uni Soviet akan menguasai hampir seluruh belahan bumi utara pada 1990. Yang terjadi justru sebaliknya, 1991 menjadi awal keruntuhannya. Ia menyebut Amerika akan punya presiden perempuan pertama di dekade 1980-an, dan Cina akan menyerang dengan senjata biologis. Tak satu pun terjadi.
Jeane sering diminta meramal untuk acara amal. Ia sendiri tak pernah menerima bayaran, suaminya, James Dixon, cukup berada, dan Jeane tak pernah rakus.
Bakatnya dikenali sejak umur delapan tahun. Ia dan ibunya menonton rombongan Roma berkemah di Burbank. Seorang perempuan Roma memeriksa telapak tangannya, terkesan, lalu memberinya bola kristal.
Jeane lahir 5 Januari 1904, dengan nama Lydia Emma Pinckert. Orang tuanya, Richard Franz Pinckert dan Luise Johanne Emma, berasal dari Gräfenhainichen, Wittenberg, Sachsen-Anhalt, Jerman. Katolik yang taat.
Ia lahir di Medford, Wisconsin, besar di Missouri dan California. Di California itulah, katanya, seorang Gipsi memberinya bola kristal, membaca telapak tangannya, meramalkan ia akan menjadi peramal terkenal, penasihat orang-orang berpengaruh.
Ramalan itu juga terwujud.
Jeane Dixon meninggal di Rumah Sakit Sibley Memorial, Washington DC, 25 Januari 1997, karena serangan jantung.
Kalimat terakhirnya, “Saya sudah tahu ini akan terjadi.”