Seorang saudagar kaya merintih kesakitan. Sepasang matanya terasa terbakar, seolah disiram bara api yang tak kunjung padam. Dia memanggil tabib dari berbagai penjuru, menghabiskan pundi-pundi emas untuk segala macam pengobatan yang sia-sia. Rasa sakit justru kian mengganas, mencengkeram kepalanya hingga dia nyaris kehilangan akal.
Dia mendengar kabar tentang seorang rahib yang sakti. Sang saudagar datang membawa sisa-sisa harapannya. Rahib itu menatap matanya dalam-dalam, lalu memberikan resep yang terdengar gila. Dia menyuruh saudagar itu untuk memandang warna hijau selama beberapa minggu penuh dan melarang mata itu menoleh pada warna lain. Keputusasaan memang mengubah orang menjadi orang bodoh yang patuh.
Saudagar itu memanggil tukang cat. Dia membeli tong-tong berisi cairan hijau. Dia memerintahkan pelayannya untuk melabur setiap benda di rumahnya dengan warna yang sama. Dinding, perabot, pintu, hingga lantai berubah menjadi hijau pekat. Pemandangan itu tampak seperti hutan yang mati atau mimpi buruk seorang pelukis yang gagal.
Beberapa minggu kemudian, sang rahib datang untuk memeriksa hasil karyanya.
Belum sampai di depan pintu, seorang pelukis yang sedang bekerja terburu-buru menyiramkan cat hijau ke sekujur tubuh sang rahib. Rahib itu terkejut, namun dia melihat seluruh koridor sudah ludes dibungkus warna yang sama. Dia bertanya mengapa rumah ini berubah menjadi sedemikian rupa.
Saudagar itu menjawab dengan bangga bahwa dia sedang menjalankan perintah sang rahib untuk memanjakan matanya dengan warna hijau.
Rahib itu tergelak. Suaranya bergema di ruangan yang penuh warna membosankan tersebut. Dia menatap saudagar itu dengan kasihan, lalu berujar bahwa semua kekayaan yang dihamburkan untuk mengecat dunia ini sungguh sia-sia belaka. Andaikan saudagar itu membeli sepasang kacamata hijau murah, dia bakal tetap bisa memandang dunia dengan warna pilihannya tanpa harus menghabiskan seluruh harta.
Kita tidak pernah bisa mengecat dunia sesuai selera kita.
Si saudagar tetap berdiri di sana, dikelilingi cat yang masih basah dan bau menyengat, sementara dunia di luar sana tetap berjalan dengan segala kerumitannya. Kita seringkali bertingkah serupa. Kita sibuk merombak orang lain, mengubah keadaan, menuntut dunia agar sesuai dengan keinginan kita, hanya agar rasa sakit di hati atau pikiran kita sedikit berkurang. Padahal, seringkali yang perlu kita ganti bukanlah dunia yang luas ini, melainkan cara kita memandang segalanya.