Ada sebuah dusun yang menyimpan cerita tentang seorang lelaki buta. Matanya tertutup rapat oleh kegelapan abadi, membuatnya tidak bisa membedakan siang yang terik atau malam yang pekat. Kegelapan bagi dirinya bukanlah masalah, sebab dunia telah lama sunyi dari rupa. Namun, anehnya, setiap kali langkahnya menyusuri jalanan kampung saat malam tiba, tangannya selalu menggenggam pelita yang menyala terang.
Cahaya itu membelah gelap, meski pemiliknya tidak bisa melihat pendaran apinya sendiri.
Suatu malam, sekelompok pelancong muda melintas. Mereka baru saja selesai berpesta, perut mereka kenyang, dan kepala mereka penuh dengan tawa yang riuh. Saat melihat lelaki buta itu lewat dengan pelita di tangannya, mereka berhenti. Tawa mereka meledak. Mereka menunjuk-nunjuk, melemparkan ejekan yang tajam, merasa paling lucu di atas bumi.
Salah satu dari mereka berteriak lantang.
“Hai orang tua! Untuk apa kau membawa pelita? Kau buta! Kau tidak bisa melihat apa pun, bukan?”
Lelaki itu berhenti. Dia tidak marah. Suaranya tenang, datar seperti permukaan telaga yang tidak tertiup angin.
“Ya, mataku tertutup. Aku tidak punya penglihatan. Pelita ini tidak memberi arti apa pun bagi mataku,” ucapnya pelan.
Dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. “Tetapi cahaya yang kubawa ini untuk kalian yang punya mata. Jalanan di depan gelap, kalian mungkin ceroboh, kalian mungkin tidak melihat arah jalan dengan benar. Bahkan, kalian mungkin menabrakku karena tidak sadar ada aku di sini. Pelita ini ada supaya kalian tidak tersandung, supaya kalian melihat keberadaanku.”
Para pemuda itu bungkam.
Tawa mereka lenyap ditelan udara malam. Wajah mereka memerah, tertunduk malu menyadari kebodohan sendiri. Mereka menyingkir dari jalan, memberi ruang bagi lelaki buta itu untuk berlalu, meninggalkan cahaya kecil yang terus menuntun mereka yang sombong karena merasa bisa melihat.