Jalanan di Petaling Jaya pagi itu tampak biasa. Motor-motor selap-selip di antara mobil, matahari memantul di kaca depan, dan orang-orang sibuk memikirkan daftar tugas kantor atau rencana makan siang. Sebuah hari kerja yang terlupakan.
Lalu, dalam hitungan detik, segalanya berubah.
Sebuah mobil putih terjepit di persimpangan. Pintu-pintu terbuka. Sekelompok pria bergerak dengan ketenangan yang mengerikan. Raymond, seorang pendeta yang dikenal karena sering membantu keluarga-keluarga yang terpinggirkan, ditarik keluar dari kendaraannya. Tidak ada teriakan minta tolong yang panjang. Tidak ada kepanikan yang pecah. Hanya presisi yang dingin.
CCTV merekam momen itu dengan jelas. Raymond tidak menghilang dalam kekacauan, melainkan dalam skenario yang tampak sudah dilatih. Setelah tubuhnya berpindah ke mobil lain, iring-iringan itu pergi. Lalu lintas kembali berjalan seolah tidak ada peristiwa mustahil yang baru saja terjadi di tengah keramaian.
Istri Raymond terdiam saat melihat rekaman itu berulang kali di ruang tamu mereka yang kini terasa terlalu luas.
“Mereka tidak merampoknya,” bisiknyapada seorang kerabat dekat, tangan gemetar memegang cangkir teh yang sudah dingin. “Mereka tidak meminta tebusan. Mereka hanya mengambilnya.”
Harapan keluarga untuk melihat Raymond kembali perlahan terkikis oleh waktu. Hari-hari pertama mereka habiskan dengan mendatangi kantor-kantor pemerintahan, berharap ada kesalahan administratif atau penahanan yang keliru. Namun, pintu-pintu tetap tertutup rapat. Keheningan yang menyambut mereka terasa berat, seolah dipaksakan oleh pihak yang tahu persis apa yang terjadi.
Bagi warga sekitar, Raymond adalah sosok yang selalu hadir. Dia adalah pria yang menghabiskan waktu bertahun-tahun mendengarkan keluh kesah mereka. Kehilangannya meninggalkan lubang yang tidak bisa ditutupi oleh sekadar penjelasan normatif. Ketika seseorang yang begitu terlihat di tengah masyarakat tiba-tiba lenyap di pagi hari, kesunyian yang menyusul bukan sebuah kebetulan. Kesunyian itu adalah sebuah pernyataan.
Ketidakpastian ini menyiksa lebih dari sekadar kematian. Kematian memberikan bentuk pada duka, memberikan akhir pada penantian. Kehilangan semacam ini membiarkan orang-orang yang ditinggalkan terus hidup dalam ketidakpastian, terjebak di detik terakhir saat Raymond ditarik keluar dari mobilnya.
Tahun-tahun berlalu dengan desas-desus yang terus tumbuh. Kelompok hak asasi manusia dan keluarga terus mendesak demi jawaban. Siapa yang memberi perintah? Di mana dia dibawa? Apakah dia masih bernapas?
Tahun dua ribu dua puluh lima, sebuah pengadilan mengeluarkan pernyataan yang mengguncang. Hakim memutuskan bahwa petugas kepolisian bertanggung jawab atas penculikan Raymond. Bagi publik, itu adalah pengakuan mengejutkan yang memvalidasi kecurigaan selama bertahun-tahun. Namun bagi sang istri, pengakuan itu tidak memberikan kelegaan.
Pengakuan itu hanya mengonfirmasi bentuk mimpi buruk mereka tanpa pernah membangunkan mereka darinya.
Dia sering berdiri di jendela, menatap jalanan yang sama di mana suaminya ditarik pergi. Dia tidak mencari keadilan dalam bentuk kertas putusan. Dia mencari jawaban yang lebih sederhana. Jika suaminya memang diambil dengan cara seperti itu, apakah ada niat untuk membiarkannya kembali ke rumah?
Jalanan di Petaling Jaya tetap sibuk seperti biasanya. Orang-orang masih lewat, motor-motor masih melesat, dan matahari masih memantul di kaca depan mobil. Tidak ada tanda-tanda yang tersisa dari peristiwa pagi itu. Hanya ada rekaman CCTV yang tersimpan di arsip, sebuah bukti visual dari kebenaran yang menolak untuk dimengerti.
Raymond Koh tidak pernah ditemukan. Sosoknya terselip di antara celah-celah hukum dan rahasia yang terkubur dalam-dalam. Keluarga tetap menjalani hidup, namun sebagian dari diri mereka tertinggal di persimpangan itu, menunggu penjelasan yang mungkin tidak akan pernah datang.