Manusia gemar sekali menaruh ekspektasi setinggi langit pada saya. Mereka ingin saya menjadi boneka hidup yang selalu tersenyum, menyambut mereka di ambang pintu dengan ekor yang bergoyang kencang, lalu rela digendong kapan pun mereka mau. Ketika saya sedang asyik mendengarkan dentuman musik di kepala dan tiba-tiba memberikan satu cakaran di tangan mereka, tuduhan keji segera meluncur dari mulut mereka. Saya dituduh pendendam. Saya dituduh tidak tahu terima kasih.
Dendam adalah sampah emosi milik manusia.
Para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu memang sepakat bahwa saya dan kawan-kawan memiliki emosi. Kami merasakan takut dan gembira, persis seperti makhluk hidup lain yang bernapas di bumi. Namun, kapasitas mental saya tidak cukup dangkal untuk merencanakan pembalasan dendam. Saya tidak punya waktu untuk memikirkan skema jahat demi menghancurkan hari Anda.
Kami hidup berdasarkan fakta yang tersaji di depan mata, bukan dari interpretasi batin yang bertele-tele.
Anda sering salah mengira ingatan saya sebagai dendam. Saya memang memiliki ingatan jangka panjang yang tajam mengenai aroma, suara, dan rasa. Jika saya pernah merasakan sakit saat ekor saya terinjak, saya tidak sedang memendam amarah untuk membalas Anda kelak. Saya hanya sedang belajar menghindari posisi yang membuat kaki Anda berada di dekat buntut saya. Saya sedang menyesuaikan diri agar tidak lagi merasakan sakit yang sama.
Cakaran saya adalah bahasa.
Ketika saya menyerang tiba-tiba, kemungkinan besar Anda sedang memaksa saya melakukan hal yang saya benci. Saya membenci pelukan yang terlalu erat atau dipaksa duduk di pangkuan saat saya ingin sendirian. Beberapa dari kami memang punya batas toleransi yang berbeda terhadap sentuhan. Anda membawa saya ke dalam mobil dan membayangkan saya sedang bertualang, padahal saya hanya teringat jarum suntik dokter hewan yang menyeramkan.
Rumah yang Anda ubah tata letaknya adalah medan perang bagi saya. Saya mencintai rutinitas karena bagi saya, hidup yang stabil adalah hidup yang aman. Anda menggeser furnitur, lalu mengharapkan saya tetap tenang? Tentu saja saya akan bersikap dingin. Insting saya menyala karena lingkungan saya berubah drastis tanpa peringatan.
Jika Anda ingin saya kembali ramah, mulailah dengan berhenti memaksakan kehendak. Saya butuh rasa aman, bukan paksaan. Berikan saya ruang jika saya ingin menjauh. Pelajari apa yang membuat saya nyaman, dan berhenti memproyeksikan drama kehidupan Anda ke dalam pikiran saya yang sederhana. Jangan datang kepada saya dengan gerakan kasar, apalagi suara yang meledak-ledak. Saya akan mendekat sendiri jika saya merasa dunia sudah kembali masuk akal bagi saya.