Konon, kelahirannya sudah ditakdirkan besar. Begitu tulis situs pariwisata Hawaii tentang Kamehameha I, raja yang menyatukan kepulauan itu.
Ia lahir tahun 1758, tahun yang sama dengan lintasan Komet Halley di langit Hawaii. Legenda setempat percaya, cahaya di langit berbentuk bulu burung menandakan lahirnya seorang pemimpin besar.
Nama lahirnya Pai’ea. Begitu lahir, ia langsung disembunyikan, jauh di Lembah Waipi’o, dari klan-klan yang sedang berperang. Ketika ancaman itu reda, bocah itu keluar dari persembunyiannya, namanya diganti Kamehameha, yang berarti “si penyendiri.”
Ia dilatih jadi pejuang. Kekuatannya legendaris, konon sanggup membalikkan Batu Naha, seberat dua setengah sampai tiga setengah ton. Batu itu masih bisa dilihat di Hilo sampai sekarang, diam di tempatnya, seperti membiarkan siapa saja datang membuktikan sendiri ceritanya.
Tahun 1778, Kapten James Cook mendarat di Hawaii, orang Eropa pertama yang menginjakkan kaki di sana. Ia menamainya Kepulauan Sandwich. Kedatangannya bersamaan dengan ambisi Kamehameha yang mulai tumbuh, menyatukan pulau-pulau itu jadi satu kerajaan.
Setelah keluar dari persembunyian, Kamehameha dilatih pamannya sendiri, Raja Kalani’opo’u. Ilmu perang, navigasi, sejarah lisan, upacara keagamaan, semua diajarkan, mempersiapkannya jadi ali’i-‘ai-moku, pemimpin.
Ia tumbuh jangkung, kuat, tanpa rasa takut. Ikut dalam pertempuran yang menewaskan James Cook sendiri, sebuah pertempuran yang mengukuhkan namanya sebagai kepala suku yang disegani.
Sepeninggal Cook, Raja Kalani’opu’u yang sudah renta mengumpulkan pengikutnya, membagi wilayah Hawaii. Anak kandungnya, Kiwala’o, ditunjuk sebagai pewaris politik, jadi raja. Kamehameha diberi peran keagamaan, penjaga dewa perang Kūka’ilimoku.
Meski pangkatnya lebih rendah, cuma keponakan raja, kedudukannya sebagai penjaga dewa perang menjadi bahan bakar bagi ambisi politiknya sendiri.
Pembagian warisan itu memicu perang saudara di antara para kepala suku Hawaii.
Kamehameha, meski lebih muda dari Kiwala’o, tak ragu melawan anak kesayangan pamannya sendiri. Dalam pemakaman Raja Kalani’opo’u, ia mengambil alih salah satu ritual yang seharusnya menjadi hak Kiwala’o. Sebuah penghinaan besar bagi sang pewaris.
Ada beberapa versi tentang yang terjadi setelah kematian Kalani’opo’u tahun 1782. Sebagian sumber menyebut, raja tua itu membagi kepulauan jadi dua, distrik Ka’u, Puna, dan Hilo untuk anaknya, Kona, Kohala, dan Hamakua untuk Kamehameha.
Jenazah Kalani’opo’u dibawa Kiwala’o ke pemakaman kerajaan Hale o Kewe di Honaunau, pantai barat Hawaii. Tak jelas apakah maksudnya menyucikan jenazah ayahnya, atau justru merebut Kona.
Kamehameha dan kepala suku lain berkumpul di Honaunau, menunggu pembagian tanah yang biasa terjadi setelah kematian seorang pemimpin, sambil diam-diam membentuk aliansi. Ketika terlihat mereka tak akan mendapat bagian yang adil, pertempuran pecah.
Tahun 1786, Kahekili, raja Maui, menjadi ali’i paling berkuasa di Hawaii, menguasai O’ahu, Maui, Moloka’i, Lana’i, dan mengendalikan Kaua’i serta Ni’ihau lewat perjanjian dengan saudara tirinya.
Dua tahun kemudian, Kamehameha menyerbu Maui, dibantu dua pelaut Inggris, Isaac Davis dan John Young. Kahekili saat itu sedang di O’ahu, menumpas pemberontakan di sana.
Dengan meriam yang diselamatkan dari bangkai kapal Fair American, pasukan Kamehameha memaksa pasukan Maui mundur. Korban begitu banyak, jasad-jasad membendung sungai.
Kemenangan itu tak bertahan lama. Sepupunya sendiri, Keoua, kepala suku Puna dan Ka’u, memanfaatkan kepergian Kamehameha untuk menjarah dan menghancurkan desa-desa di pantai barat Hawaii. Sepulangnya, Kamehameha bertempur dua kali melawan Keoua.
Kamehameha mundur ke pantai barat. Keoua dan pasukannya bergerak ke selatan pulau, kehilangan banyak pasukan karena abu vulkanik.
Perang antara sepupu itu berakhir 1790, dianggap kampanye militer Hawaii terakhir yang masih memakai senjata tradisional. Dalam pertempuran-pertempuran berikutnya, Kamehameha mengadopsi teknologi Barat, salah satu faktor di balik keberhasilannya yang berturut-turut.
Kehadirannya di Teluk Kealakekua sepanjang 1790-an menarik banyak kapal asing, memungkinkannya mengumpulkan persenjataan api dalam jumlah besar.
Setelah satu dekade berperang, ia belum juga menaklukkan semua musuhnya. Ia mengikuti nasihat seorang astrolog dari Kaua’i, membangun heiau baru yang besar di Pu’ukohola, Kawaihae, untuk pemujaan dan persembahan bagi dewa perang, Ku.
Dengan cara itu, ia berharap mendapat kekuatan spiritual untuk menaklukkan seluruh Hawaii. Keoua diundang ke Pu’ukohola, katanya untuk berdamai. Yang terjadi justru sebaliknya, ia dibunuh, dipersembahkan di altar kuil itu.
Dengan kematian Keoua, Kamehameha resmi menjadi penguasa seluruh Hawaii.
***
Ada satu hal lagi yang mengikat nama Kamehameha sampai ke kamar-kamar anak-anak di seluruh dunia, jauh dari Hawaii, jauh dari sejarahnya sendiri.
Kamehameha, kata Honolulu Magazine, adalah simbol kekuatan, kuasa, dan kejayaan. Deskripsi yang pas untuk lelaki yang menyatukan Hawaii dan menjadi rajanya yang pertama.
Deskripsi yang sama, rupanya, juga pas untuk pukulan andalan Son Goku dalam manga Dragon Ball.
Kamehameha, dalam Dragon Ball, adalah pancaran energi yang ditembakkan Goku dari kedua telapak tangannya, diajarkan seorang guru bela diri tua bernama Kakek Kura-kura. Dalam bahasa Jepang, kura-kura adalah kame, gelombang adalah ha.
Akira Toriyama, sang mangaka, sempat kesulitan mencari nama untuk jurus andalan Goku itu. Ia bertanya pada istrinya. Istrinya menyarankan nama raja Hawaii itu, Kamehameha.
Alasannya sederhana, kata istrinya, nama itu mudah diingat.