Kentut, sebuah polusi udara personal yang jujur. Ia tidak memandang kasta, tidak peduli pada strata sosial, dan menertawakan siapa pun yang berusaha menyembunyikannya dengan gaya. Kita menganggapnya anomali, padahal ia adalah bukti sahih bahwa tubuh kita sedang bekerja.
Sembilan puluh sembilan persen bagian dari kentut tidak memiliki bau. Udara biasa. Oksigen, nitrogen, serta metana yang tidak berdosa. Hanya satu persen sisanya, yaitu hidrogen sulfida, yang membuat orang di sekitar menutup hidung dengan raut wajah tersiksa. Kita menghukum seluruh keberadaan kentut atas dosa satu persen zat yang berbau busuk tersebut.
Lelucon tertua di dunia berasal dari sebuah pepatah Sumeria tahun 1900 SM tentang seorang perempuan yang gagal menahan angin di pangkuan suaminya. Humor toilet memang bahasa universal manusia. Ia menyatukan kita dalam tawa yang kotor.
Di Inggris, kata “Trump” menjadi sinonim untuk buang angin. Perbincangan tentang mantan presiden Amerika seringkali berakhir dengan tawa kecil di kalangan kawan-kawan Britania. Nama besar yang berubah jadi lelucon murahan karena perbedaan dialek.
Mereka yang memakan sayuran cenderung lebih sering membuang angin daripada pemakan daging. Kacang-kacangan mengandung karbohidrat kompleks yang membandel. Usus kecil menyerah saat mencoba menyerapnya, sehingga bakteri di usus besar berpesta pora. Hasilnya adalah produksi gas yang melimpah ruah.
Meski begitu, jangan tertawa terlalu keras. Daging merah justru menghasilkan kentut dengan aroma lebih menyengat karena kandungan sulfur yang tinggi. Sebuah riset dari seorang dokter ahli flatologi bahkan menyebutkan bahwa perempuan menghasilkan hidrogen sulfida lebih banyak dalam proses pencernaan. Keanggunan seringkali kalah oleh kimiawi perut yang tidak bisa dibohongi.
Kentut memiliki sifat mudah terbakar karena metana dan hidrogen. Jangan membayangkan ledakan besar di celana. Ia cukup berbahaya jika disulut api dalam ruang sempit. Kecepatannya mencapai tiga meter per detik. Jika digabungkan dengan teknologi, ia lebih kencang daripada papan luncur elektrik yang sering wara-wiri di trotoar kota.
Dubur kita menyimpan kecerdasan taktis. Ujung saraf di rektum mampu membedakan antara gas yang ingin keluar dan kotoran yang menekan jalan keluar. Kecuali saat diare melanda, saraf-saraf itu bingung dan kita harus menanggung malu.
Menahan kentut memang tidak akan membuatmu meledak seperti balon yang kelebihan tekanan. Tubuh akan mencari jalan keluar lain saat kamu tertidur lelap. Rata-rata manusia membuang gas dua puluh kali dalam sehari. Lima ribu kali setahun. Bayangkan jumlah itu jika kita hidup selama delapan puluh tahun. Sebuah catatan sejarah yang dihembuskan lewat lubang kecil.
Seorang penemu dari Prancis pernah menciptakan pil ajaib yang mengklaim bisa mengubah bau kentut menjadi aroma mawar atau cokelat. Ia mengubah gas buangan menjadi parfum. Ironis, bukan?
Secara medis, kita menyebutnya flatulensi, yang berakar dari bahasa Latin untuk hembusan angin. Apapun namanya, ia tetap menjadi musik latar paling jujur dalam hidup manusia. Ia tidak pernah berbohong. Ia muncul saat kita paling tidak menginginkannya, dan menghilang meninggalkan penyesalan bagi mereka yang terpaksa menghirupnya. Kita adalah budak dari gas yang kita produksi sendiri.