Pertanyaan klise sering mampir ke telinga para dokter. “Bagaimana caranya membuat istri kembali menginginkan seks setelah dia melewati masa menopause?” Pertanyaan itu terdengar seperti keluhan seorang teknisi yang mendapati mesin tuanya mendadak mogok. Padahal, menopause memang menghantam libido dengan palu godam. Sebagian perempuan mungkin merasa hidup tanpa seks adalah sebuah pembebasan, tetapi banyak yang mendambakan kembali gairah yang dulu menyala begitu saja tanpa diminta.
Kehidupan intim yang memudar menciptakan lubang di antara pasangan. Seks bukan sekadar gesekan kulit. Ia adalah jembatan emosional. Ketika jembatan itu runtuh, yang tersisa hanyalah jarak yang canggung di atas ranjang yang luas.
Hilangnya libido sering berakar jauh sebelum menopause benar-benar tiba. Kamu menderita insomnia, kilatan panas yang menyiksa, ayunan suasana hati yang liar, atau kenaikan berat badan yang membuatmu merasa asing dengan cermin di kamar mandi. Seks menjadi beban di tengah kekacauan hidup yang melanda. Saat rasa sakit menyambut setiap sentuhan, keinginan untuk memejamkan mata dan berpura-pura tidur jauh lebih menggoda daripada membiarkan tubuh disentuh.
Estrogen menyusut. Cairan alami yang biasanya membasahi tubuh tidak lagi keluar. Vagina kehilangan elastisitasnya. Seks berubah menjadi siksaan. Begitu rasa sakit menetap, tubuh secara otomatis memasang alarm tanda bahaya. Gairah pun lenyap karena otak telah menandai seks sebagai ancaman.
Testosteron pun ikut merosot. Massa otot menghilang. Kepercayaan diri luruh bersama otot-otot yang kendur. Progesteron ikut ambil bagian dalam kekacauan ini dengan merusak pola tidur dan memicu keringat malam yang membuat seprai basah kuyup. Tubuh sedang berperang melawan dirinya sendiri.
Terapi hormon menawarkan jalan keluar bagi mereka yang berani melangkah. Penelitian menunjukkan manfaat perlindungan bagi kesehatan seksual dengan efek samping yang minim. Temui dokter. Pastikan dia tidak menggunakan buku panduan usang dari puluhan tahun lalu. Tuntut kebaruan informasi.
Berolahragalah. Latihan kekuatan otot melawan penurunan testosteron dan menjaga tulang agar tidak rapuh. Sembari membentuk otot, suasana hati membaik. Citra tubuh yang sempat hancur bisa ditata ulang.
Jangan melihat bab ini sebagai akhir sebuah cerita. Lihatlah apa yang tersisa ketika inhibisi masa muda telah tanggal. Orang-orang di usia matang cenderung tidak lagi peduli pada penilaian orang lain. Eksplorasi menjadi jauh lebih berani. Pasangan yang belajar beradaptasi dengan usia, bukan melawannya, justru menjaga api tetap menyala dengan cara yang tidak bisa dipahami oleh anak muda.
Jika koneksi dengan dirimu sendiri terasa putus, terapis seks bisa menjadi penunjuk jalan. Mereka menyediakan strategi untuk menemukan kembali gairah yang terkubur di bawah tumpukan hormon yang tidak stabil.
Komunikasi terbuka menjadi senjata utama. Berhentilah mengasumsikan pasanganmu tahu segalanya tentang apa yang kamu rasakan tanpa perlu dibicarakan. Sampaikan kebutuhanmu. Dengarkan keluh kesah mereka. Biarkan hubungan itu bertumbuh melampaui sekadar fungsi biologis yang kini sedang berubah arah.