Konon perjalanan haji atau umrah belum genap tanpa mampir ke Jabal Rahmah. Bukit berbatu ini duduk di selatan Padang Arafah, sekitar dua puluh lima kilometer dari Mekah, dan sebagian orang percaya tanahnya baik untuk urusan jodoh.
Di puncaknya berdiri sebuah tugu putih, dibangun untuk mengenang pertemuan dua leluhur manusia, Nabi Adam dan Hawa, yang dipisahkan Allah selama dua ratus tahun sejak diturunkan dari surga. Ketika akhirnya bertemu kembali, rindu yang tertahan dua abad itu tumpah begitu saja. Sejak itu bukit itu disebut Jabal Rahmah, bukit kasih sayang.
Ada banyak versi cerita tentang di mana sebenarnya Adam diturunkan. Riwayat dari Abdullah bin Umar menyebut Safa untuk Adam, Marwah untuk Hawa. Riwayat lain, juga dari Abdullah bin Umar, menyebut keduanya diturunkan di antara Mekah dan Taif. Riwayat dari Abdullah bin Abbas menyebut Hindustan untuk Adam, Jeddah untuk Hawa, nama kota itu sendiri konon berasal dari kata jiddah, nenek.
Ada pula yang bilang Adam diturunkan di Pulau Serendib. Syekh Yusuf Tajul Khalwati, dalam surat-suratnya dari Ceylon untuk murid-muridnya di Makassar dan Banten, akhir abad ketujuh belas, meyakini Serendib itu Sri Lanka. Belakangan ada yang menduga Serendib sebenarnya Sumatra, dari kata Sanskerta Swarnadwipa, yang ditulis dalam huruf Arab.
Ada juga yang menyebut Adam di Hindustan, Hawa di Irak.
Tidak ada yang bisa memastikan mana yang benar. Barangkali memang tidak perlu dipastikan.
Setiap hari ribuan orang naik ke Jabal Rahmah, berdoa untuk jodoh dan pasangan hidup. Tempat ini dianggap paling mustajab di seputaran Arafah. Barangkali juga karena berdoa di udara terbuka terasa lebih lapang.
Tiang beton persegi, kira-kira satu kali enam meter, di puncak bukit, penuh coretan tinta biru dan hitam. Tanda tangan, nama, tanggal, semacam oleh-oleh dari peziarah yang datang dan pergi. Perempuan-perempuan yang mencari jodoh berusaha menuliskan namanya setinggi mungkin di tiang itu, kadang sampai naik ke pundak orang tuanya sendiri.
Ada yang menanam foto di tanah sekitar tugu, entah foto siapa, mungkin masih berharap jodoh yang belum juga datang. Berbagai cara dicoba, meski kelihatannya sia-sia saja. Sebentar-sebentar petugas setempat mengecat ulang tiang dan area sekitarnya, memutihkan semua yang tertulis di sana, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Ada cerita dari seorang kenalan. Dua tahun lalu, tetangganya datang ke tempat ini bersama istrinya. Suaminya menyuruh sang istri mengaminkan saja apa pun yang dipanjatkannya di bukit itu, tanpa perlu tahu isinya. Rupanya sang suami berdoa mendapat pasangan lain sepulang ke Indonesia.
Doa itu dikabulkan.
Ekonomi di sekitar Jabal Rahmah terus berputar setiap hari. Di bukit setinggi lima belas meter itu, dengan tangga berkelok-kelok, pedagang menjajakan segala kebutuhan jamaah, baju muslim, kerudung, sajadah, jam tangan, kamera. Riyal mengalir deras.
Fotografer keliling juga mencari peruntungan di sana. Berpose dengan latar Jabal Rahmah, atau duduk di atas unta berhias, mereka siap melayani. Ada juga yang nakal, memaksa pengunjung memakai serban lalu difoto, baru kemudian menagih ongkos cetak yang mahalnya di luar dugaan.
Karena itu, di tanah yang katanya penuh berkah ini, orang tetap perlu waspada.