Selasar rumah kos berlantai tiga itu mendadak penuh oleh semburat jingga sore hari. Tirta berjalan gontai, membawa lelah sisa jam kantor yang menumpuk di pundak. Langkah kakinya terhenti tepat ketika matanya menangkap sosok Listy yang sedang duduk bersila di atas ubin, membelakangi pagar pembatas, larut dalam sebuah majalah.
“Gaya betul, mentang-mentang punya hape baru,” celetuk Tirta, mencoba memecah sepi.
Listy mendongak, menyeringai lebar. Badai emosi yang membuatnya uring-uringan semalam tampaknya sudah surut total.
“Baru pulang?” tanya Listy, menatap pakaian kerja Tirta yang kusut.
“Bukan, ini baru mau berangkat ronda.”
“Nenek-nenek ompong juga tahu kamu baru balik!” Listy mencibir, wajahnya ditekuk jenaka.
Tirta menjulurkan lidah, membalas ejekan itu dengan tawa renyah. Namun, tepat ketika sepasang mata mereka beradu, ada detak ganjil yang mendadak melompat di dalam rongga dada Tirta. Ingatan pria itu langsung melesat pada kalimat-kalimat bersayap yang dilemparkan Listy semalam suntuk.
Apakah kalimat perempuan ini semalam ditujukan untukku? Apa dia sebetulnya sedang memintaku untuk segera bergerak?
Ah, dasar otak payah. Tirta merutuki kepalanya yang mendadak penuh riak. Listy memang selalu begitu. Lidahnya lihai melemparkan teka-teki yang sanggup membuat jantung Tirta copot seketika. Perempuan itu pakar dalam urusan membuat orang lain salah paham.
“Woy, kenapa melamun!” bentak Listy, melambaikan tangan di depan muka Tirta.
“Ah, tidak,” Tirta buru-buru menyapu bersih lamunan yang sempat berseliweran. “Aku terpesona saja. Sore ini kamu kelihatan cantik sekali, Lis.”
Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa rem dari mulut Tirta. Bibirnya mendadak kaku setelah menyadari apa yang baru saja dia ucapkan.
Listy tersenyum lebar, rona merah langsung terbit di kedua pipinya.
Aneh. Tidak biasanya dia salah tingkah seperti itu.
Tirta memutuskan segera mengambil langkah seribu masuk kamar. Dia mandi, mengguyur kepalanya dengan air dingin, lalu berganti kaus oblong yang longgar. Sialnya, bayangan wajah Listy dengan kacamata tipis yang merosot di ujung hidung tetap menempel ketat di pelupuk matanya.
Sialan.
Tirta berjalan mondar-mandir di kamarnya yang sempit. Langkah kakinya tidak tenang. Dia mengintip dari celah gorden jendela, memastikan perempuan itu masih ada di posisinya. Dadanya berdegup kencang. Cantik sekali dia sore ini.
Apa aku ungkapkan saja perasaanku sekarang?
Pikiran itu memicu perdebatan sengit di kepalanya. Bagaimana kalau Listy malah tertawa terbahak-bahak sampai guling-guling di lantai? Perempuan model begitu mana punya urat romantis. Yang ada, Tirta akan dijadikan bahan ejekan seumur hidup.
Nyali Tirta menciut seketika. Runtuh tak bersisa.
Lebih baik dipendam saja sampai membusuk di dalam dada.
“Aku terlalu pengecut untuk jujur pada diri sendiri,” bisik Tirta pada dinding kamar. “Aku menyukai Listy, tapi lidahku mendadak kelu untuk mengatakannya.”
Pengecut. Dasar penakut. Apa susahnya jujur? Tinggal melangkah keluar, pasang muka tembok, lalu bilang, “Aku suka kamu, Lis. Mau tidak jadi istriku?”
“Enak saja! Jadi istri? Jadi pembantumu saja aku emoh!” Tirta membayangkan jawaban telak yang akan keluar dari bibir tipis Listy.
Tirta mondar-mandir lagi, langkahnya berbunyi berdecit di atas ubin.
“Ehem!” Tirta mencoba berdehem, menatap pantulan dirinya di cermin lemari yang retak ujungnya. Bayangan di cermin menatapnya dengan pandangan mengejek. “Lis, aku mau bicara serius sama kamu.”
Kedengarannya kurang berwibawa.
“Kita kan sudah lama saling kenal…”
Bodoh. Tentu saja sudah tiga tahun berjalan. Kalimat basi, coret!
“Aku sudah tahu luar dalammu, kamu juga sudah hafal kelakuanku. Jadi, kita ke KUA saja minggu depan?”
Goblok. Mana ada perempuan waras yang tidak kabur mendengar ajakan gila seperti itu.
Tirta menjambak rambutnya sendiri. Dia mengusap peluh yang menitik di dahi. Tenang, Tir, tenang. Tarik napas, embuskan. Buka pintu kamar, berjalan santai, duduk di sebelahnya, lalu tumpahkan semua yang mengganjal di hati. Mudah, bukan?
“Tidak semudah itu, sialan!” Tirta menggelengkan kepala dengan gusar. Dia mengintip lagi dari balik jendela. Listy masih di sana, senyum-senyum sendiri membaca halaman majalah di pangkuannya.
Gugup perlahan merayap naik ke tenggorokan. Sebelum hari ini, Tirta tidak pernah sekeder ini urusan mendekati perempuan. Dulu, kalau suka ya tinggal bilang. Tapi kali ini suasananya sangat berbeda.
Tentu saja berbeda. Listy bukan perempuan-perempuan biasa yang modis tapi hambar. Ada daya pikat magis yang pelan-pelan menjerat Tirta sampai bertekuk lutut, bahkan hanya untuk sekadar menyusun kalimat pembuka saja dia tidak becus.
Tirta menatap cermin sekali lagi. Wajahnya pucat pasi seperti orang kurang darah. Luar biasa sekali efek perempuan di luar itu.
Sudahlah. Tunda saja dulu. Besok masih ada waktu. Lusa juga masih bisa. Atau minggu depan.
Sepakat. Tirta memutuskan menunda misi bunuh diri ini sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Tapi, bagaimana kalau keduluan orang lain? Semalam kan Listy bilang sedang menyukai seseorang.
Tapi orang itu bukan anak kos sini.
Berarti jelas bukan aku, batin Tirta, frustrasi melanda.
Tapi semalam Tirta kan belum sempat bertanya, “Orang itu aku bukan?”
“Jelas BUKAN, bodoh!” Pasti begitu jawaban telak dari Listy.
Tirta menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang tercecer di lantai kamar. Dia membuka pintu.
Listy terlihat luar biasa cantik di bawah siraman cahaya lampu selasar yang baru menyala.
Tirta merapikan rambutnya yang agak berantakan. Penampilan adalah kunci utama. Dimasukkannya ujung kaus oblongnya ke dalam celana.
Terlihat seperti orang idiot. Keluarkan lagi.
Tirta mengeluarkan kembali kaus oblongnya. Nah, begini lebih mendingan.
“Ehem!” Tirta berdehem, mencoba memasang wajah sedingin aktor film laga.
Langkah kakinya menuju selasar terasa berat, mendadak dia merasa seperti sedang berjalan di atas panggung catwalk dengan ratusan mata mengintip. Tirta mengambil posisi, duduk di samping Listy. Perempuan itu hanya melirik sekilas, lalu kembali menekuni halaman majalah. Rambut hitamnya yang panjang terurai, menutupi sebagian wajahnya yang menunduk.
“Ehem…” Tirta berdehem lagi. Kurang ajar, tenggorokannya seperti kemasukan pasir.
Mendadak otaknya kosong. Bingung harus memulai dari mana. Bukankah tadi sudah sepakat untuk menunda urusan ini? Kenapa sekarang malah duduk di sini seperti orang linglung?
“Lis, aku mau bicara sesuatu…” kalimat itu meluncur begitu saja. Gawat.
Listy menoleh, mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Tatapannya seolah bertanya, ada apa? Dia melemparkan senyum tipis sesaat sebelum matanya kembali terpaku pada majalah. Senyuman singkat itu cukup untuk menurunkan ketegangan di dada Tirta.
“Dengar, Lis,” kata Tirta, kali ini suaranya terdengar lebih mantap. “Ada hal penting yang harus aku sampaikan ke kamu. Kalau tidak diomongkan sekarang, rasanya dada ini mau pecah.”
Listy menaikkan posisi majalahnya sedikit, mengangguk perlahan tanpa menoleh. Kedua kakinya yang terbungkus stoking hitam berayun santai di tepi selasar. Sial, gugup itu datang lagi. Tirta bangkit berdiri, memilih menghadap ke arah halaman rumput di depan kosan yang mulai menggelap. Jarinya mengetuk-ngetuk dinding bata berulang kali, mencoba mencari ritme ketenangan. Setelah membuang jauh-jauh rasa gengsi, tekadnya sudah bulat. Apapun hasilnya, dia harus jujur sore ini. Diterima syukur, ditolak ya apes.
“Ehem,” Tirta berdehem untuk kesekian kalinya. “Aku harus akui, aku ini payah kalau urusan bicara serius begini. Tadinya aku mau simpan saja sendiri, tapi dipikir-pikir aku bisa meriang tujuh hari tujuh malam kalau terus-terusan menahan ini. Tolong jangan tertawa ya, Lis?”
Tirta malah merasa ingin menertawakan ketololannya sendiri.
“Aku cuma mau jujur pada diri sendiri,” lanjut Tirta, suaranya mengalir lebih lancar. “Soal perasaanku ke kamu. Kalimat ini rasanya sudah pas sekali. Aku mau jujur, Lis.”
“Seperti yang kamu bilang semalam, kadang kita terlalu sibuk mencari orang yang jauh sampai melupakan orang yang paling dekat. Kalau aku, sejak awal sebetulnya sudah tahu siapa yang pas. Sejak pertama kali kita mengobrol di kosan ini, ada rasa yang berbeda. Kalau kamu ada, aku merasa tenang. Kalau kamu tidak ada, kosan ini rasanya sepi sekali. Hambar. Itu yang aku rasakan waktu enam bulan kemarin kamu pulang kampung.”
Tirta mulai menikmati alur bicaranya. Plong. Listy harus tahu semuanya, tanpa ada yang ditutupi sedikit pun agar perempuan itu paham duduk perkaranya.
“Waktu kamu pergi kemarin, aku merasa sudah membuang banyak kesempatan. Sekarang, saat kamu sudah berdiri di sini lagi, aku tidak mau jadi orang bodoh untuk kedua kalinya. Aku harus berterus terang, Lis. Aku menyukai kamu…”
Hening. Hanya suara gesekan daun mangga yang ditiup angin sore.
Listy belum memberikan respons apa pun. Tidak apa-apa, Tirta sengaja ingin menyelesaikan seluruh bagian bicaranya terlebih dahulu sebelum mendengar jawaban.
Tirta menarik napas berat. Sedikit keraguan mulai menyelinap kembali ke kepalanya. Apa tindakannya ini terlalu lancang?
Listy. Perempuan di sampingnya ini memang punya kecantikan yang tidak biasa. Wajahnya bersih, pembawaannya santai. Sosok yang mungkin hanya ada dalam rekaan cerita fiksi, tapi nyata duduk di sebelahnya sekarang.
“Aku rasa, aku tidak bisa kalau tidak ada kamu, Lis…”
Tetap sunyi.
Apa kalimat tadi berhasil menyentuh hatinya? Tirta berharap begitu.
Belum ada gerakan berarti dari perempuan itu. Mungkin Listy sedang merangkai kata-kata yang pas untuk memberi jawaban terbaik.
Tirta memberanikan diri berbalik, melangkah tepat di depan Listy dan menatap wajahnya lekat-lekat.
“Tolong, Lis…” lanjut Tirta, suaranya melembut. “Kamu mau tidak ja…”
“Eh, Tir! Kamu tahu tidak lagu lama yang dinyanyikan ulang versi duet itu?” Listy mendadak memotong kalimat Tirta, menyibakkan rambut panjangnya ke belakang telinga.
Baru saat itulah Tirta melihat sepasang benda hitam menyumbat kedua lubang telinga Listy.
“Sini, coba kamu dengarkan. Enak banget lagunya,” kata Listy polos.
Perempuan itu langsung memakaikan salah satu busa penyumbat telinga itu ke telinga kanan Tirta. Suara musik pop berdentum kencang, memekakkan telinga.
Tirta menarik lepas benda itu dengan tangan gemetar.
“Tunggu sebentar,” kata Tirta, rasa was-was mendadak menyergap jiwanya. Jantungnya kembali berdetak tidak keruan. “Kamu… dari tadi… pakai ini?”
Listy mengangguk dengan mantap tanpa dosa.
“Aku baru beli discman ini kemarin sore bareng hape baru,” Listy menunjukkan sebuah kotak pemutar kaset yang sedari tadi tersembunyi di balik majalahnya. “Keren kan suaranya?”
“Jadi, kamu sama sekali tidak mendengar apa yang aku bicarakan panjang lebar tadi?”
Listy menggelengkan kepala perlahan. Wajahnya tampak sangat polos tanpa beban.
“Memangnya kamu bicara apa tadi?” tanya Listy kebingungan.
Tirta rasanya ingin pingsan di tempat. Jadi, seluruh pengakuan emosional dan dramatis yang menguras tenaganya tadi hanya ditujukan pada tembok kosan dan angin lalu? Rasanya dada Tirta mendadak sesak, seperti dipaksa menelan mentah-mentah seekor kodok buduk.
“Kamu bicara apa sih sebetulnya?” Listy mengulangi pertanyaannya, matanya meneliti wajah Tirta. “Kok mukamu mendadak pucat begitu?”
Tirta menggeleng pasrah, bahunya merosot lemas.