Senyuman Pemikat Penghuni Kamar Dua Puluh Empat

Hari-hari pertama berlalu tanpa guncangan. Tirta mulai terbiasa dengan ritme hidup barunya di lantai tiga rumah sewa Muara Jati. Minggu pertama dia habiskan untuk menghapal tabiat orang-orang sekitar. Selain Jaka yang kamarnya tepat di sebelah kanan dan langsung klop karena urusan rokok, dua kamar sisa dihuni para buruh pabrik perakitan mobil. Mereka berangkat subuh, pulang menjelang tengah malam dengan sisa tenaga yang nyaris habis, membuat wajah-wajah mereka jarang sekali tertangkap mata Tirta. Satu kamar lagi ditempati sepasang suami istri yang setiap pagi selalu rebutan urusan jemuran baju.

Keberadaan Jaka menjadi penyelamat bagi dompet Tirta yang kian menipis. Karena ijazah diploma dari kampung belum mampu menghasilkan sepeser pun uang pada minggu-minggu awal, Tirta menumpang menonton televisi di kamar Jaka hampir setiap malam. Urusan fasilitas sekunder nomor sekian, yang penting bulan pertama ini dia punya atap untuk berteduh dan air untuk mandi.

Tirta bahkan berhasil membujuk Jaka menghentikan hobi gilanya menyemburkan musik keras-keras lewat pengeras suara. Jaka dipaksa mengalah, beralih menggunakan penutup telinga jika ingin mendengarkan lagu selepas pulang kerja. Lantai tiga mendadak menjadi tenang, menyisakan suara embusan angin malam Karangwangsa yang gerah.

Satu bulan merayap perlahan sejak malam jahanam penuh isak tangis itu. Keanehan baru justru muncul dari hilangnya perempuan berstoking hitam tersebut. Dia lenyap tanpa jejak. Saban hari libur, Tirta sengaja duduk di teras depan kamar sembari menggenjreng gitar milik Jaka, berharap sang tetangga terusik lalu menampakkan batang hidungnya. Usaha tersebut berujung sia-sia. Pintu kamar nomor dua puluh empat tetap membisu, seolah penghuninya menguap begitu saja bersama debu jalanan.

Rasa penasaran sempat menuntun Tirta mengintip lewat celah kaca jendela seberang. Sial, seluruh permukaan kaca tertutup rapat oleh lembaran koran bekas yang ditempel dari dalam.

Memasuki minggu ketiga dan keempat, Tirta mulai jenuh. Urusan perempuan misterius itu dia kesampingkan. Dia tidak lagi repot-repot melirik jendela seberang atau sengaja nongkrong di selasar koridor. Hidup harus terus berjalan, dan bayang-bayang hantu perempuan yang dituduhkan Jaka perlahan luntur oleh kerasnya kenyataan hidup sebagai pemagang.

Masa orientasi kerja di PT Kilat Nusantara yang dimulai sejak pertengahan September akhirnya membuahkan hasil di penghujung Oktober. Gaji pertama cair. Slip Ggaji pertama dalam hidupnya. Namanya tertera gagah di situ, Tirta Lelana. Tirta melangkah pulang dari mesin ATM dengan dada tegak dan sekantong plastik belanjaan dari toko swalayan. Jaka harus diberi jatah makan-makan hari ini; lelaki itu sudah terlalu sering meminjami uang saat perbekalan Tirta benar-benar menyentuh angka nol.

Pagi itu, pintu kamar Jaka masih terkunci rapat. Maklum, dia baru pulang dinas malam. Tirta memilih menanti tetangganya terbangun sembari duduk santai di kursi plastik depan kamar, memetik senar gitar sesuka hati demi membunuh waktu.

Fokusnya pada senar gitar mendadak buyar ketika suara langkah kaki terdengar menapaki anak tangga semen. Bunyinya berirama, semakin lama semakin dekat menuju lantai atas.

Tiba-tiba, dia muncul. Perempuan berstoking hitam itu kembali.

Tirta terpaku di tempatnya duduk. Pandangannya mengunci sosok yang berjalan tenang melewati koridor. Penampilannya persis seperti sebulan lalu; kaus oblong putih polos, rok pendek sebatas lutut, dan sepasang stoking hitam tebal yang membungkus betisnya. Kali ini rambut panjangnya diikat rapi ke belakang, memamerkan garis wajahnya secara utuh tanpa penghalang.

Jantung Tirta mendadak berdegup kencang ketika perempuan itu memutar kepala, melempar sebuah senyuman tipis langsung ke arahnya. Tirta membalas gagap dengan cengiran paling konyol yang bisa dia lakukan.

“Anak baru, ya?” sapa perempuan itu ramah, sembari merogoh kunci dari saku roknya. Nada suaranya berayun renyah, sangat bersahabat, jauh dari kesan angker yang selama ini mengendap di kepala Tirta.

Tirta hanya mampu mengangguk seperti orang bodoh. Perempuan itu tersenyum sekali lagi sebelum menghilang di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat.

Detik itu juga, insting Tirta meledak. Dia melompat dari kursi, menyergap pintu kamar Jaka dan menggedornya tanpa ampun.

“Jak! Bangun, Jak! Keluar sebentar!” teriak Tirta sembari terus menghantam papan kayu.

Pintu terbuka setelah beberapa menit penuh makian dari dalam. Kepala Jaka yang gundul muncul dengan wajah kusut penuh minyak dan mata merah akibat kurang tidur.

“Apa-apaan sih, Tir? Orang baru merem juga!” semprot Jaka ketus.

“Perempuan itu, Jak! Dia datang!” bisik Tirta bersemangat, matanya berbinar.

“Perempuan mana lagi?”

“Penghuni kamar seberang gue! Dia baru saja masuk kamar, ada di dalam sekarang!”

Jaka mengucek matanya yang perih. “Terus urusannya sama gue apa, Ari?”

“Gue mau buktiin kalau dia bukan hantu seperti yang lo tuduh waktu itu. Lo harus lihat sendiri orangnya!”

“Gila lo. Gue baru tidur sejam sudah lo bangunin buat urusan nggak jelas gini.”

“Lo tidur jam tujuh tadi, sekarang sudah jam sembilan. Dua jam, Jak.”

“Sama saja!” Jaka membanting pintu, terdengar suara gerendel besi dikunci dari dalam sebagai tanda penolakan mutlak.

Tirta mendengus, kembali berdiri sendirian di selasar koridor sembari menatap daun pintu nomor dua puluh empat. Ada rasa hangat yang aneh tertinggal di dadanya setelah melihat senyuman perempuan tadi. Entah ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama atau sekadar rasa penasaran yang menjelma menjadi candu, Tirta hanya tahu satu hal: dia ingin melihat senyuman itu lagi. Ekspresi ceria yang barusan dia lihat bertolak belakang dengan perempuan murung yang memeluk lutut sebulan lalu. Apakah masalah yang membebaninya sudah selesai? Apakah kesedihannya sudah menguap?

Tirta tidak peduli. Fokusnya sekarang adalah mencari cara agar bisa mengobrol lebih lama dengan perempuan berstoking hitam itu.

Dua jam berlalu tanpa disadari. Tirta tetap bertahan di kursinya, mengawasi pintu seberang tanpa bergeser sedikit pun sembari mengunyah camilan yang akhirnya dia habiskan sendirian. Dia menunggu pintu itu terbuka kembali.

Cahaya lampu dari celah ventilasi kamar nomor dua puluh empat terlihat menyala terang di bawah terik siang. Begitu fokusnya Tirta melakukan pengintaian hingga dia tidak menyadari Jaka sudah berdiri di sampingnya dengan wajah yang jauh lebih segar setelah membasuh muka.

“Lagi ngapain lo, Tir? Melamun sampai segitunya,” tegur Jaka sembari menguap lebar.

Tirta menoleh cepat, lalu menunjuk ke arah depan dengan dagunya. “Gue mau membuktikan ucapan gue yang tadi.”

“Bukti apa?” Jaka melirik malas.

“Lihat itu. Lampu kamarnya menyala. Berarti ada orang di dalam, kan?” Tirta menanti reaksi Jaka dengan senyum kemenangan.

“Mana? Sebelah mana yang menyala?” Jaka mengerutkan alis, menatap lurus ke depan.

“Itu lamp…” Kalimat Tirta menggantung di udara.

Saat pandangannya kembali ke arah celah ventilasi, ruangan di seberang sana sudah gelap gulita. Tidak ada berkas cahaya sedikit pun yang lolos dari sana. Gelap total. Tirta mengucek matanya berulang kali, berharap indra penglihatannya salah, berharap lampu itu kembali menyala agar dia bisa memojokkan Jaka. Namun, kegelapan di kamar nomor dua puluh empat tetap bergeming.

Jaka menggeleng-gelengkan kepala sembari mendecak. “Fix, Tir. Lo beneran berteman sama lelembut.”

Tirta bungkam. Posisi argumennya runtuh seketika. Logikanya berputar keras mencari penjelasan ilmiah mengapa lampu itu bisa padam tepat di detik Jaka menoleh. Mengapa perempuan ini seolah sengaja menyembunyikan eksistensinya dari orang lain di kosan ini?

“Mau ngapain lagi lo?” tanya Jaka saat melihat Tirta bangkit dan melangkah mendekati pintu kamar seberang.

“Permisi…” Tirta mengetuk daun pintu kayu tersebut. Hening. Dia menunggu beberapa ketukan lagi, tetapi tetap tidak ada jawaban maupun suara pergerakan dari dalam.

“Terserah lo deh, Tir. Mau stoking hitam, mau stoking putih, otak lo sepertinya butuh diservis ke dukun,” seloroh Jaka ketus.

“Dukun buat apa?”

“Mana tahu lo mau pasang susuk biar nggak melihat hantu lagi,” jawab Jaka asal-asalan sembari menyambar kantong makanan di atas kursi plastik. “Gue ambil ini ya, terima kasih gajiannya.” Jaka melenggang masuk kembali ke kamarnya.

Tirta berdiri mematung di depan pintu kayu abu-abu itu. Jemarinya tertahan di udara, ada dorongan kuat untuk mendobrak papan kayu tersebut demi menuntaskan rasa penasaran, tetapi rasa ngeri yang tiba-tiba menjalar di tengkuknya membuat nyalinya surut.

Jangan-jangan, ucapan Jaka ada benarnya?

Tirta memutar tubuh, menyusul Jaka ke dalam kamarnya. “Jak, utang gue kemarin totalnya berapa?”

Jaka sedang fokus memindah-mindah saluran televisi. “Seratus lima puluh ribu. Memang lo sudah pegang uangnya?”

“Sudah dong, kan hari ini gajian pertama.” Tirta merogoh saku celana, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas lalu menyerahkannya ke tangan Jaka.

“Nah, begini kan enak. Dompet gue bernapas lagi,” sahut Jaka sembari menghitung lembaran uang tersebut.

“Thanks ya, Jak. Lain kali kalau mendesak, gue pinjam lagi.”

Jaka hanya bergumam tidak jelas, matanya tetap tertuju pada layar kaca. “Oh iya, Tir. Ada teman sekolah gue mau kenalan sama lo.”

“Teman lo? Siapa? Perempuan atau laki-laki?”

“Perempuan. Manis orangnya,” Jaka mengacungkan jempol dengan seringai lebar.

“Serius lo? Kok bisa tahu gue?” Tirta sangsi.

“Namanya Nadya. Teman lama waktu sekolah dulu, nggak sengaja ketemu lagi di daerah sini. Dia sedang patah hati tingkat dewa gara-gara ditinggal menikah sama mantan pacarnya, jadi butuh teman mengobrol untuk melupakan masalah. Tapi ingat, jangan macam-macam lo ya.”

“Sialan, dikira gue penjahat kelamin apa,” gerutu Tirta. “Lagian kenapa harus kenalan sama gue? Kenapa nggak lo saja yang menemani dia ngobrol?”

“Gue kan teman lamanya, auranya sudah beda kalau ngobrol. Kalau sama orang baru seperti lo, siapa tahu obrolannya bisa lebih segar dan nyambung.”

“Ya sudah, suruh main saja ke sini.”

“Beneran ya? Nanti malam gue suruh dia datang ke kosan.” Jaka memberi konfirmasi mantap.

Tirta mengangguk pelan, rasa lelah mendadak menyergap seluruh tubuhnya. “Gue balik ke kamar dulu, mau tidur.”

“Ingat pesan gue tadi, Tir! Jangan lo apa-apain anak orang!” seru Jaka dari dalam kamar.

“Iya, berisik lo!”

Tirta melangkah keluar. Sebelum memutar kunci kamarnya sendiri, tatapannya kembali singgah pada pintu nomor dua puluh empat. Masih tertutup rapat, masih senyap, dan masih menyimpan kegelapan yang pekat. Pertanyaan apakah sosok tadi pagi adalah manusia atau sekadar halusinasi akibat kurang tidur kini tenggelam oleh rasa kantuk yang berat. Untuk saat ini, Tirta hanya ingin memejamkan mata.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(