Matahari merayap turun di Depok, menyirami bayangan bendera kuning. K.H. Hasyim Muzadi pergi. Negeri ini riuh dengan duka, namun di balik layar televisi yang memuja-muja, banyak orang justru sedang sibuk menguliti agama untuk kepentingan sendiri. K.H. Hasyim Muzadi bukan tipe ulama yang hobi berteriak di atas mimbar demi memuaskan dahaga massa yang haus konflik. Dia adalah penyejuk yang menolak menjadikan Islam sebagai tameng bagi ambisi berkuasa yang kotor.
Baginya, Islam tidak butuh polisi moral yang gemar mengintimidasi sesama manusia.
Beliau terus berbisik, bahkan saat napasnya tersengal di ranjang rumah sakit, tentang Indonesia. Seseorang yang memeluk Islam tidak lantas mencabut akar keindonesiaannya. Kalimat ini sering disalahpahami oleh mereka yang merasa paling Arab di tanah Jawa, oleh mereka yang jubahnya lebih panjang daripada nalar kritisnya. Beliau melihat Indonesia sebagai rumah, bukan sekadar tempat singgah untuk menguji kesalehan semu.
Beliau tidak bicara tentang persaudaraan hanya lewat retorika kosong. Empat pilar persaudaraan itu nyata, bukan sekadar kutipan buku ajar untuk menenangkan murid di kelas. Islam bukan tembok yang memisahkan, melainkan jembatan yang menyatukan.
Kepergiannya memicu riuh rendah orang-orang yang merasa kehilangan arah. Mereka bertanya apakah masa depan bangsa ini akan runtuh tanpa sosok penopang. Ini sebenarnya sebuah kemalasan intelektual. Kita terlalu manja menunggu datangnya penyelamat yang tidak kunjung muncul, padahal setiap orang harus mampu menjadi penyelamat bagi dirinya dan orang di sekitarnya.
Jangan menangisi kepergiannya seperti anak kecil yang kehilangan mainan. Tangisan tidak akan memperbaiki negeri yang sedang sakit parah ini. Warisan intelektualnya bukan untuk dipajang di museum, melainkan untuk dihantamkan ke dinding-dinding kebodohan yang kita bangun sendiri.
Kita butuh orang yang berani membuka mata lebar-lebar.
Orang-orang seperti K.H. Hasyim Muzadi memang langka, namun bukan berarti keberanian sudah punah dari muka bumi. Masih ada banyak kepala yang belum teracuni oleh kepentingan pragmatis. Mereka tersebar di sudut-sudut pesantren, di ruang-ruang kelas, atau di gang-gang sempit kota. Kematian seorang tokoh tidak pernah menjadi akhir bagi sebuah gagasan. Gagasan justru mendapatkan ruang untuk hidup ketika pemiliknya sudah tidak ada untuk membatasi pemikiran tersebut. Kita sekaranglah yang harus melanjutkan tugas itu tanpa harus selalu menoleh ke belakang mencari bayangannya.