Pada Obituari Benedict Anderson, yang wafat di Indonesia, Tempo menyinggung berulang kali bahwa, dalam menulis, Indonesianis terkemuka ini selalu menggunakan Edjaan Suwandi (1947-1972). Oleh majalah ini, ejaan yang digunakan Ben Anderson tersebut dianggap ciri khas Ben, dan sayang tidak dikupas lebih jauh.
Sesungguhnya Tempo edisi akhir tahun 2001 (halaman 82-83) telah memuat kolomnya yang ditulis dalam ejaan pra-Orba, berjudul “Beberapa Usul demi Pembebasan Bahasa Indonesia”. Bahkan bisa dikatakan, bagi Ben, EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) itu tidak ada, sampai saat-saat terakhir ia tetap menggunakan Edjaan Suwandi.
“Dengen diterapken Edjaan Bikin Bodo itu di massa media dan di sekolah2, angkatan muda aken merasa bahwa buku2 jang pake edjaan2 “lama”, seandainya djumpa, pasti bikin mumet kepala, aneh, dan tara terbatja: hanja kerna edjaan belaka! Dengan demikian utek anak muda maunja ditjutji habis2an dari apa sadja jang tara diidjinken dan disebarluwasken oleh Gupermen en tjenteng2nja dikalangan intelek”
Benedict Anderson (Indonesianis)
Jika seorang Indonesianis senior seperti Benedict Anderson mewaspadai adanya muatan politis dibalik “kudeta” EYD versi Orde Baru terhadap Ejaan Suwandi versi Orde Lama, lalu, bagaimana jadinya jika EYD dikudeta oleh Ejaan Alay versi Orde Reformasi?
*Cemungudh ea….!*