Kita menempelkan kotak berisik ke telinga seolah benda itu jimat keberuntungan. Para pengawas di Finlandia sekarang mulai menyalakan alarm lain. Mereka curiga radiasi ponsel tidak sekadar mengintai otak, melainkan merusak lapisan paling luar tubuh kita. Kulit lengan para relawan menjadi kelinci percobaan. Mereka membiarkan radiasi membanjiri jaringan daging selama satu jam penuh. Tim peneliti membandingkan sampel sebelum dan sesudah paparan.
Hasilnya? Protein di dalam sel kulit merespons dengan cara yang tidak menyenangkan. Kerutan muncul. Struktur sel berubah.
Dariusz Leszczynski bersama kawanannya bekerja dengan sel wanita demi menjaga konsistensi data. Mereka ingin melihat apakah radiasi ponsel merusak pertahanan alami tubuh. Kulit berfungsi sebagai gerbang. Jika gerbang ini rusak, protein berbahaya atau racun dari aliran darah akan menyelinap menuju otak tanpa perlawanan.
Kanker otak selama ini menjadi momok yang sering orang tuduhkan pada penggunaan ponsel. Para peneliti sudah lama menyimpan kecurigaan, tetapi mereka kesulitan membuktikan hubungan sebab akibat secara langsung. Sekarang, kecurigaan itu bergeser ke arah mekanisme pertahanan kulit.
Leszczynski mengakui spekulasi masih menjadi bumbu utama dalam setiap diskusi mereka. Hubungan tak langsung antara kanker dan protein yang menerobos masuk ke otak tetap menjadi teori liar. Mereka belum menemukan jawaban final. Penelitian ini masih akan berjalan hingga akhir tahun.
Sementara waktu bergulir, kita tetap menempelkan ponsel di pipi. Kita membiarkan radiasi itu berpesta di atas pori-pori. Kita menunggu hasil riset sembari berharap kulit kita tidak berubah menjadi tua sebelum waktunya. Entah apa yang kita cari dalam kotak berisik itu, sampai-sampai kita rela mempertaruhkan kesehatan sel sendiri.
Ah… saya dah ga sering telpon-telponan lama lagi
jadi takut neh… hiks2
sm jd takut..kut..kut