Menonton Gie, Lagi

Tiga semester berturut-turut, seorang dosen mengajak mahasiswanya menonton “Gie.” Layar menyala, ruang kelas gelap, dan di depan mereka seorang pemuda kurus berjalan sendirian di antara kerumunan yang berteriak.

Soe Hok Gie kuliah di Fakultas Sastra, Jurusan Sejarah, masuk UI tahun 1961. Ia aktif di Mapala UI, kelompok pecinta alam, dan menulis untuk berbagai media cetak, tak pernah berhenti.

Film “Gie” (2005) disutradarai Riri Riza, diproduseri Mira Lesmana, longgar diambil dari buku hariannya, Catatan Seorang Demonstran.

Di layar, Gie diperankan Nicholas Saputra. Kutu buku, kritis, jarang tersenyum tanpa alasan. Sahabat masa kecilnya, Tan Tjin Han, diperankan Thomas Nawilis. Di kampus, ia berteman dengan Herman Lantang, Ira, Denny Mamoto, mendaki gunung bersama, menonton film, melakukan hal-hal yang lazim dilakukan mahasiswa pada zamannya.

Film ini juga menunjukkan Gie bergabung dengan Gerakan Pembaruan Indonesia, gerakan bawah tanah anti-Sukarno yang digagas tokoh-tokoh PSI, termasuk Sumitro Djojohadikusumo, ayah presiden Indonesia saat ini, Prabowo Subianto. Gie masuk ke dalamnya karena percaya pemerintahan Sukarno tak sanggup mewujudkan keadilan sosial, sementara feodalisme, korupsi, kemunafikan, budaya “bapakisme” masih mengakar dalam.

Menonton film ini lagi, hari ini, memunculkan satu pertanyaan yang sederhana. Apa yang sebenarnya berubah di Indonesia sejak zaman Gie?

Negeri ini lebih demokratis sekarang, lebih terbuka, ruang untuk bicara jauh lebih luas dibanding tahun 1960-an atau masa Orde Baru. Tapi banyak keluhan Gie soal kemunafikan, korupsi, kekuasaan yang alergi kritik, budaya asal bapak senang, masih terasa sangat dekat. Seolah kegelisahan yang ditulisnya enam puluh tahun lalu belum juga selesai dijawab.

Bagi mahasiswa hari ini, film ini adalah cermin. Cukup jujur, dan karena itu tidak nyaman.

Aktivisme kampus yang di zaman Gie tumbuh dari ruang diskusi dan bacaan serius, kini sering terjebak dalam birokrasi proposal kegiatan dan citra di media sosial. Banyak mahasiswa lebih sibuk mengurus administrasi organisasi dan menuruti kemauan pengurus di atasnya, dibanding membangun wacana kritis. Keberanian intelektual berganti jadi ketakutan, pada doxing, pada perundungan digital, pada UU ITE yang masih cukup represif terhadap kebebasan berpendapat. Dalam situasi seperti ini, Gie mengingatkan bahwa kritik yang jujur membutuhkan keberanian moral, bukan sekadar mencari viral.

Film ini juga memperlihatkan Gie yang sering berjalan sendiri. Ia punya sahabat, Herman, Ira, Denny, tapi di banyak momen penting, ia tampak sendirian, secara sosial maupun batin. Bukan karena tak punya teman. Karena ia memilih jalan yang tak selalu populer: setia pada cita-cita yang menuntunnya, setia pada suara hati sendiri.

Di tengah budaya hari ini yang menuntut kepatuhan, di kampus, di tempat kerja, di media sosial, jalan sunyi Gie terasa sangat manusiawi. Hampir setiap anak muda pernah mengalami pergulatan batin serupa, ketika idealisme berbenturan dengan kenyataan, dan yang tersisa hanya dialog dengan diri sendiri.

Ketika Gerakan Pembaruan Indonesia, yang dipimpin Sumitro dan kader-kader PSI, mendekat ke Orde Baru, Gie memilih menjauh. Ia terus mengkritik dominasi militer dalam pemerintahan. Ia juga mengkritik pembantaian massal jutaan kader dan simpatisan PKI, pendukung utama Sukarno, yang menandai awal rezim itu.

Gie juga mencintai kegiatan alam bebas, mendaki gunung. Bagi anak muda hari ini, yang menanggung berbagai tekanan dan kelelahan batin, kegiatan semacam itu bisa jadi cara lain untuk menenangkan diri, merenungkan arah hidup.

Menonton Gie hari ini semestinya mengingatkan, integritas dan konsistensi selalu relevan, di mana pun, kapan pun. Gie memang hidup di tahun 1960-an, masa gejolak politik yang tinggi. Tapi pergulatan batinnya, antara idealisme dan kenyataan, antara kejujuran dan kompromi, adalah pergulatan yang terus diwariskan ke generasi sesudahnya.

Gie tidak menawarkan jawaban yang mudah. Namun lewat hidupnya yang singkat, ia menunjukkan bahwa keberanian moral mungkin tak membuat hidup lebih nyaman bagi semua orang. Tapi ia membuat hidup lebih berarti.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(