Rak itu berdiri di Istana Bogor, deretan buku yang sudah menguning di pinggirnya. Bukan sekadar kumpulan bacaan lama. Di sanalah tersimpan jejak pikiran seorang lelaki yang ikut menyusun sebuah republik.
Politik, sejarah, ekonomi, sosiologi, agama, filsafat, teknik, arsitektur, urusan militer, pertanian, perbandingan peradaban, semua ada di situ, berdampingan tanpa sekat yang jelas. Bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Indonesia, bercampur dalam satu susunan rak. Sebagian besar terbit antara tahun 1920-an hingga awal 1960-an, beberapa yang lain jauh lebih tua, klasik abad kesembilan belas yang masih dijaga sampulnya.
Satu tema muncul berulang: bangsa yang sedang lahir, dan penjajahan yang harus diakhiri. Nationalism and Revolution in Indonesia karya George McTurnan Kahin, terbit 1952. The Republic of Indonesia karya Dorothy Woodman, 1955. The Discovery of India karya Jawaharlal Nehru, 1946. Nationalism and Social Communication karya Karl W. Deutsch, 1953. The Foundation of Modern China karya Tang Leang-li, 1945. No Peace for Asia karya Harold R. Isaacs, 1947. Indonesia dibaca bukan sebagai kasus tersendiri, tapi sebagai satu titik dalam gelombang dekolonisasi yang lebih besar, yang bergerak di seluruh Asia.
Di sebelahnya, pemikiran politik dari ujung ke ujung, tanpa pilih kubu. Machiavelli, Discourses on Livy, edisi awal abad kedua puluh. George H. Sabine, A History of Political Theory, 1937. Bertrand Russell, Roads to Freedom, 1918. Lenin, Selected Works, edisi Foreign Languages tahun 1950-an. Mao Zedong, Selected Works, 1954 sampai 1955. Henriette Roland Holst menulis tentang Rosa Luxemburg, 1935. C. H. Binkley, Realism and Nationalism, 1935. Frederick B. Artz, Reaction and Revolution, 1934.
Seseorang yang membaca Machiavelli dan Lenin di rak yang sama bukan sedang bingung menentukan sikap. Ia sedang menimbang.
Agama dan peradaban mengambil ruangnya sendiri. Lin Yutang, The Importance of Living, 1937. Syed Ameer Ali, The Spirit of Islam, 1891. Carl Brockelmann menulis sejarah bangsa-bangsa Islam dalam bahasa Jerman, 1939. Romain Rolland menulis tentang Ramakrishna dan tentang Gandhi. Ramayana versi Tulsidas. Beberapa jilid karya lengkap Swami Vivekananda.
Sejarah dunia dan hubungan antarbangsa berjajar tak kalah tebal. Charles Oman, disunting Previté-Orton, 1934. Kenneth Scott Latourette, dua judul, satu tentang Asia Timur, satu tentang perjalanan melewati badai zaman. R. R. Palmer dan Joel Colton menulis sejarah dunia modern, 1950. Edward Stettinius menulis tentang Yalta. Churchill menulis The Sinews of Peace, 1948. Richard Winstedt tentang Malaya. Harold Lamb tentang bangsa-bangsa barbar yang berbaris menembus sejarah.
Banyak juga buku berbahasa Belanda tentang Indonesia dan Asia Tenggara, bertahan di rak itu jauh setelah kemerdekaan diproklamasikan. Kajian akademis paling lengkap tentang tanah ini, saat itu, memang masih lahir dari Eropa.
Beberapa kalimat tertinggal di halaman-halaman itu, digarisbawahi atau dilipat sudutnya.
“Keselamatan sebuah republik atau kerajaan bukan dijaga oleh kesetiaan pada janji, melainkan oleh kewaspadaan yang bijaksana.” —Machiavelli.
“Sebuah bangsa adalah sekumpulan orang yang telah belajar berkomunikasi secara efektif satu sama lain.” —Karl Deutsch.
“Revolusi Indonesia, pada dasarnya, adalah revolusi gagasan.” —George Kahin.
“Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang digerakkan oleh cinta, dan dituntun oleh pengetahuan.” —Bertrand Russell.
“Kerajaan-kerajaan masa depan adalah kerajaan pikiran.” —Churchill.
“Islam datang untuk mengembalikan martabat manusia.” —Syed Ameer Ali.
Rak buku itu tidak menunjukkan satu jalan pikiran. Ia menunjukkan pertemuan dari banyak jalan yang saling bertentangan, dibiarkan berdampingan tanpa dipaksa berdamai.
Ada satu hal lain yang menarik ketika rak itu dibandingkan dengan koleksi milik presiden kedelapan, Prabowo. Bukan karena kedua rak menyimpan judul yang sama persis. Melainkan karena keduanya tumbuh dari pertanyaan yang serupa.
Bangunan bangsa, sejarah, teori politik, urusan militer, peradaban Asia, agama, dan tata dunia, ditempatkan di pusat kedua koleksi itu, dikelilingi oleh tradisi pemikiran yang luas, dari Machiavelli, Churchill, Nehru, sampai Lenin, Mao, dan kajian keislaman.
Tak satu pun dari kedua rak itu menunjukkan kesetiaan pada satu ideologi saja. Keduanya menunjukkan pemimpin yang membaca lintas mazhab, mencari pelajaran praktis tentang bagaimana memimpin, bagaimana menjalankan negara, bagaimana mengubah sebuah bangsa.
Kalau rak Sukarno adalah jejak perjalanan pikiran seorang pendiri republik, rak yang satu lagi adalah jejak seseorang yang berusaha memperkuat dan mengubah apa yang sudah didirikan itu. Dua rak, dua zaman, dipertemukan oleh satu pertanyaan yang sama: bagaimana sebuah bangsa menjadi kuat, berdaulat, dan sejahtera.