Bayangan tentang Abad Pertengahan sering muncul bersama dentang lonceng gereja, jalan tanah yang becek, dinding batu lembap, asap kayu bakar yang menempel pada pakaian, dan pasar yang riuh oleh suara pedagang serta derap kaki kuda. Rentang waktunya panjang, nyaris seribu tahun. Kerajaan tumbuh, pecah, lalu berganti nama. Kapal-kapal berlayar semakin jauh. Menara gereja menjulang pelan-pelan dari bongkahan batu yang dipahat berbulan-bulan. Wabah melintas dari kota ke kota. Bau tubuh orang sakit bercampur aroma dupa dan lilin yang terbakar sepanjang malam. Perang berjalan begitu lama sampai anak lahir, dewasa, lalu menua tanpa pernah mengenal musim yang benar-benar tenang.
Para sejarawan membagi rentang panjang tersebut ke dalam tiga masa. Awal, pertengahan, dan akhir.
Bagian pertama, kira-kira sejak abad kelima hingga sekitar tahun 1000, lama memikul satu julukan yang terasa berat, Zaman Kegelapan.
Julukan tersebut lahir jauh sesudah orang-orang pada masa itu meninggal.
Seorang cendekiawan Italia bernama Petrarch menuliskan pandangannya pada abad keempat belas. Ia hidup ketika semangat Renaisans mulai berembus. Lukisan, sastra, dan naskah Yunani serta Romawi kembali dibaca dengan penuh kekaguman. Mata Petrarch tertuju ke belakang. Baginya, dunia klasik memancarkan kecemerlangan yang sulit ditandingi. Sesudah Kekaisaran Romawi runtuh, cahaya pengetahuan seolah meredup. Dari keyakinan semacam itulah julukan Zaman Kegelapan tumbuh, bukan dari suara orang-orang yang pernah hidup pada abad kelima atau keenam.
Pandangan tersebut tidak berhenti pada satu nama.
Berabad-abad sesudahnya, buku demi buku mengulang sebutan yang sama. American Cyclopedia edisi tahun 1883 memuat uraian panjang mengenai masa surut kehidupan intelektual Eropa sejak bangsa-bangsa barbar mengambil alih wilayah Romawi hingga kegiatan belajar berkembang kembali menjelang abad kelima belas. Samuel Maitland ikut menyusun kumpulan esai yang menempatkan abad kesembilan sampai kedua belas sebagai masa yang miskin karya budaya. Rak-rak perpustakaan menampung pandangan serupa. Ruang kuliah mengulangnya. Ruang kelas mewarisinya. Sebutan tersebut bertahan bukan semalam, melainkan berabad-abad.
Ada alasan mengapa pandangan semacam itu begitu mudah diterima. Seusai Romawi runtuh, jumlah naskah tertulis memang menyusut. Banyak kota kehilangan pusat kekuasaan lama. Jalan-jalan yang dahulu sibuk berubah lengang. Perebutan wilayah muncul silih berganti. Perselisihan agama dan politik ikut menyala. Bagi mata seorang pengagum Yunani dan Romawi, pemandangan semacam ini tampak suram. Sulit menemukan kemegahan yang serupa dengan patung-patung marmer, perpustakaan besar, atau karya sastra klasik yang mereka puja.
Pandangan tersebut menyisakan banyak ruang kosong.
Orang tetap membajak tanah ketika embun masih menggantung di ujung rumput. Suara besi menempa besi tetap berdentang dari bengkel pandai besi. Batu demi batu terus disusun menjadi gereja yang hari ini masih berdiri. Para biarawan menyalin naskah di ruang dingin yang diterangi cahaya lilin. Tinta mengering perlahan di atas kulit perkamen. Bau kulit, lem, dan jelaga memenuhi ruangan sempit. Pengetahuan berpindah dari satu tangan ke tangan lain tanpa bunyi gemuruh.
Sejarah modern memandang julukan Zaman Kegelapan dengan sikap yang jauh lebih hati-hati. Banyak sejarawan memilih meninggalkan istilah tersebut karena gambaran yang muncul terasa terlalu sempit. Masa awal Abad Pertengahan tidak berjalan dalam satu warna. Ada perang, ada wabah, ada perebutan kuasa. Pada waktu yang sama, pertanian berkembang, teknik bangunan berubah, lembaga pendidikan bertumbuh, dan hubungan antardaerah terus bergerak mengikuti jalur perdagangan.
Petrarch meninggalkan sebuah nama. Nama tersebut hidup jauh lebih lama daripada dirinya sendiri.