Kain Ihram

Panas menggigit ubun-ubun. Riandi Irawan berjalan pelan di antara jutaan kepala yang bergerak searah, pulang dari jumrah menuju maktab. Kerikil kecil masih menempel di sela sandalnya, ikut terseret setiap langkah.

Di tepi jalan, seorang perempuan tua berhenti. Bukan berhenti untuk istirahat. Kakinya seperti sudah tak sanggup lagi memilih antara maju dan berdiri diam. Ia memegangi tiang lampu jalan, punggungnya melengkung ke arah tanah.

Riandi mendekat.

Tak ada kalimat yang keluar. Tangannya sendiri yang bergerak lebih dulu, melepas simpul di bahu, menarik kain ihram dari tubuhnya. Kain itu masih hangat oleh keringatnya sendiri ketika ia kerudungkan ke kepala dan bahu perempuan itu.

Perempuan itu menoleh. Tidak berkata apa-apa juga. Hanya menahan ujung kain itu dengan jari-jari yang gemetar, lalu berjalan lagi, pelan-pelan, ke arah yang sama dengan orang banyak.

Riandi berdiri sebentar, dada dan bahunya polos di bawah matahari yang sedang di puncak teriknya. Ia menyusul langkah orang-orang di depannya, tanpa menoleh lagi ke belakang.

Hari itu berlalu seperti hari-hari lain di tanah itu, penuh oleh rukun yang harus disempurnakan satu demi satu. Kain ihram yang tertinggal di tubuh perempuan tua tadi tidak muncul lagi dalam pikirannya. Ada terlalu banyak hal lain yang harus diselesaikan sebelum matahari benar-benar tenggelam.

Beberapa hari kemudian, di dalam kemah, Riandi membuka kopornya. Ia sedang mengatur barang-barang untuk pulang, melipat baju satu per satu, menyusunnya berdasarkan apa yang perlu dipakai lebih dulu di pesawat nanti.

Tangannya berhenti di sudut koper.

Kain ihram itu ada di sana. Terlipat rapi, jauh lebih rapi dari lipatan-lipatan lain yang ia buat sendiri.

Ia duduk di tepi ranjang lipat, kain itu di pangkuannya, cukup lama sampai seorang teman sekemah menegurnya, menanyakan apakah kopor sudah beres.

“Sudah,” jawabnya. Kain itu ia keluarkan lagi dari koper, ditinggalkannya di atas meja kecil di sudut maktab.

“Karena merasa sudah bukan milik saya lagi,” katanya kepada teman itu, tanpa penjelasan lebih jauh, karena memang tak ada penjelasan yang bisa mewakili apa yang ia rasakan saat melihat lipatan serapi itu.

Pesawat mendarat di Jakarta larut malam. Rumahnya di bilangan Benhil sudah gelap, hanya lampu teras yang menyala, ditinggalkan menyala oleh siapa pun yang terakhir keluar rumah sebelum ia berangkat dua bulan lalu.

Ia meletakkan koper di kamar, membuka lemari untuk menggantung jas yang baru dipakainya di pesawat.

Kain ihram itu ada di rak paling atas.

Ia berdiri di depan lemari terbuka itu cukup lama. Tangannya tidak menyentuh kain itu dulu. Hanya berdiri, memandanginya, seperti memandangi sesuatu yang seharusnya sudah tak ada tapi memilih untuk tetap ada.

Baru setelah itu ia duduk di lantai kamar, di depan lemari yang masih terbuka, dan menangis tanpa suara, cukup lama, sampai istrinya yang mendengar dari kamar sebelah masuk dan bertanya ada apa.

Ia tidak menjawab. Hanya menunjuk ke arah lemari, ke kain putih yang tergeletak di sana, diam, seperti sudah lama menunggu untuk ditemukan kembali.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(