Keheningan Empati Kepekaan Hati

3 menit baca

Dini selalu tahu ada yang berbeda dengan cara dia bernapas di dunia ini. Sejak kecil, suara keramaian pasar di depan rumahnya di pinggiran Solo terasa seperti ribuan jarum yang menusuk gendang telinga. Gurunya sering menjuluki dia si anak cengeng. Teman-temannya di bangku SD gemar menyoraki saat wajah Dini memerah karena malu atau air mata yang menggenang hanya karena teguran ringan.

Label itu menempel seperti perangko pada surat yang tidak pernah sampai ke alamat tujuan. “Kamu ini terlalu perasa,” kata ibunya suatu malam. Dini tumbuh dengan rasa malu yang tidak seharusnya dia pikul.

Tiga puluh tahun kemudian, Dini duduk di teras rumahnya yang sepi. Dia menyadari bahwa otaknya memang tidak didesain untuk menjadi kulit badak. Dini termasuk golongan manusia yang menyerap dunia dengan pori-pori yang terlalu terbuka. Dia merasakan getir kopi dan aroma tanah basah dengan intensitas yang sering kali membuat dadanya sesak.

Orang-orang seperti Dini sering disalahpahami sebagai penderita gangguan mental. Padahal, mereka hanya memiliki sistem saraf yang bekerja dengan kecepatan cahaya. Mereka memproses detail kecil yang luput dari mata orang kebanyakan. Cahaya lampu yang sedikit lebih terang atau label baju yang kasar di tengkuk bisa merusak suasana hati mereka sepanjang hari.

“Mas, bisakah musiknya dikecilkan?” tanya Dini pada suaminya saat mereka sedang makan malam.

“Dini, ini kan cuma lagu biasa,” jawab suaminya dengan nada santai.

Dini tidak menjawab. Dia memilih meninggalkan meja makan dan mengunci diri di kamar. Bukan karena dia marah pada suaminya. Dia hanya kehabisan tenaga. Sistem sarafnya sedang melakukan demo besar-besaran untuk meminta istirahat. Dia butuh kesunyian untuk merakit kembali kepingan-kepingan dirinya yang berserakan karena kebisingan dunia.

Bagi orang seperti Dini, istirahat bukan kemewahan. Istirahat adalah bensin untuk bertahan hidup.

Tidak semua orang memahami ini. Sering kali, teman-temannya mendesak dia untuk pergi ke pesta atau mengikuti acara yang penuh sesak. Mereka tidak tahu bahwa setelah satu jam di sana, Dini butuh waktu dua hari untuk kembali merasa utuh. Kedalaman emosinya adalah berkah sekaligus kutukan. Dia bisa merasakan kesedihan orang lain seolah-olah itu miliknya sendiri.

Apakah ini melelahkan? Sangat.

Namun, ada sisi lain dari cermin yang retak ini. Dini adalah seorang guru. Kesabarannya dalam mendengarkan keluh kesah murid-muridnya tidak memiliki batas. Dia bisa membaca bahasa tubuh anak-anak yang ketakutan tanpa perlu sepatah kata pun terucap. Dia memenangkan kepercayaan mereka bukan dengan otoritas, melainkan dengan empati yang mengalir dari kedalaman jiwanya.

Di usianya yang matang, dia berhenti meminta maaf karena terlalu merasa. Dia mulai belajar bahwa dunia butuh orang-orang yang bisa melihat keindahan dalam detail yang sering terabaikan. Dia tidak lagi memandang sensitivitasnya sebagai cacat bawaan.

Dini duduk di sudut taman belakang, mengamati seekor semut yang berjuang membawa remah roti. Dia tidak terburu-buru. Dia membiarkan pikirannya berenang dalam keheningan. Biarlah orang lain berlari mengejar kecepatan dunia yang gila ini. Dia sudah menemukan ritmenya sendiri. Dia cukup menjadi dirinya yang mampu merasakan detak jantung semesta, bahkan dalam tarikan napas yang paling halus sekalipun.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(