Seorang pria mengendarai mobil menyusuri jalanan sepi saat senja merayap turun. Di kejauhan, dia melihat seorang wanita tua terjebak dengan mobil yang mogok. Langit mulai gelap, namun dia memutuskan menepi. Dia mendekati wanita itu dengan senyum yang dia anggap ramah.
Wanita itu justru menahan napas. Ketakutan menyelinap di benaknya. Dia merasa terisolasi selama berjam-jam, lalu tiba-tiba pria berpakaian lusuh mendekat. Dia takut pria ini berniat jahat. Pria itu menyadari ketakutan wanita tersebut.
“Saya Dirga Kelana, saya cuma mau membantu,” ucapnya lembut.
Wanita itu akhirnya membuka mulut, menjelaskan ban mobilnya kempes. Dirga menawari wanita itu duduk di mobilnya yang hangat sementara dia bekerja di udara dingin. Pria itu mengeluarkan kotak peralatan, membongkar ban, dan menyelesaikan pekerjaannya dengan sigap.
Saat dia menutup bagasi, wanita tua itu bertanya berapa dia harus membayar. Dirga menolak. Dia membantu bukan untuk upah. Dia meminta wanita itu membayar kebaikannya dengan cara menolong orang lain di masa depan.
Wanita itu melanjutkan perjalanan. Dia mampir di sebuah kedai kecil untuk makan. Seorang pelayan hamil mendekatinya dengan senyum yang lelah namun tulus. Pelayan itu memberikan handuk bersih untuk mengeringkan rambut wanita itu. Wanita tua itu teringat pada Dirga. Dia membayar tagihan makannya dengan uang seratus ribu, meninggalkan tip yang jauh lebih besar, lalu bergegas pergi sebelum pelayan itu sempat membawakan kembalian.
Di balik serbet, pelayan itu menemukan catatan. Terima kasih atas pelayananmu. Jangan merasa berhutang. Seseorang pernah menolong saya tanpa meminta balasan. Teruskan kebaikan ini dan jangan biarkan rantai kasih ini terputus padamu.
Sepuluh lembar uang kertas seratus ribuan tergeletak di sana.
Malam itu, pelayan tersebut pulang dengan hati yang penuh. Dia dan suaminya sedang terhimpit kesulitan ekonomi menjelang kelahiran buah hati mereka. Dia berbaring di samping suaminya yang masih tampak cemas memikirkan masa depan. Dia membisikkan sesuatu ke telinga suaminya sebelum memejamkan mata.
“Semuanya akan baik-baik saja. Hari ini, kita mendapat berkat dari orang asing yang penuh kasih. Aku mencintaimu, Dirga Kelana.”